Kesehatan Tubuh
Apraxia: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatannya

Table of Contents
Apraxia adalah kondisi yang disebabkan oleh kerusakan pada bagian otak yang mengatur perencanaan gerakan motorik. Sebagai informasi, komunikasi antara otak dan tubuh dapat terganggu sehingga bisa berdampak pada kemampuan seseorang dalam mengoordinasikan gerakan-gerakan mendasar, seperti berjalan, berbicara, bahkan berekspresi. Mari kenali penyebab, gejala, diagnosis, dan pengobatannya melalui pembahasan di bawah ini.
Apa itu Apraxia?
Apraxia adalah gangguan saraf yang menyebabkan ketidakmampuan otak mengirim sinyal kepada otot untuk melakukan suatu gerakan tertentu. Kondisi ini dapat membuat seseorang tidak mampu menggerakkan tubuhnya meskipun mampu memahami pesan yang dikirimkan oleh otak dan ototnya dalam keadaan normal.
Apraxia adalah gangguan neurologis yang memengaruhi kognisi motorik, perencanaan, dan melakukan suatu gerakan tertentu tanpa adanya gangguan neurologis yang nyata terhadap fungsi motorik dasar, sensasi, atau pemahaman seseorang.
Kondisi ini dapat menyebabkan seseorang tidak mampu untuk melakukan gerakan terampil, baik gerakan yang telah dipelajari sebelumnya, gerakan yang dapat langsung ditiru dengan mengamati, atau melaksanakan instruksi orang lain.
Terdapat beberapa jenis apraxia yang dapat mengganggu pelaksanaan gerakan tertentu dan aktivitas sehari-hari, seperti:
-
Apraxia bukofasial atau orofasial: Tidak mampu menggerakkan wajah sesuai dengan permintaan, seperti menjilat dan mengedipkan mata.
-
Apraxia ideomotor: Tidak mampu melakukan gerakan tertentu yang sudah dipelajari sebelumnya, seperti memutar gagang pintu.
-
Apraxia ideasional: Tidak mampu membuat konseptualisasi dan mengerjakan tugas-tugas yang melibatkan gerakan berurutan, seperti memakai kaus kaki sebelum mengenakan sepatu.
-
Apraxia konstruktif: Tidak mampu menggambar atau menyalin objek.
-
Apraxia konseptual: Tidak mampu menggunakan peralatan sesuai dengan fungsinya, seperti mengambil palu untuk menulis.
-
Apraxia okulomotor: Tidak mampu menggerakkan mata sesuai dengan permintaan yang dikirimkan oleh otak.
-
Apraxia tungkai-kinestetik: Tidak mampu menggerakkan jari dan tangan dengan tepat dan terkoordinasi.
-
Apraxia oral: Tidak mampu menggerakkan rahang, bibir, lidah, dan langit-langit mulut sehingga menyebabkan seseorang sulit makan, minum, dan bicara.
-
Apraxia verbal: Sulit menggerakkan mulut secara terkoordinasi untuk menghasilkan ucapan.
Perlu diketahui bahwa apraxia berbeda dengan afasia yang merupakan suatu gangguan komunikasi. Seseorang yang menderita afasia tidak bisa memahami atau mengeluarkan kata-kata sehingga membuatnya sulit untuk berkomunikasi. Namun, penderita apraxia sejatinya tidak memiliki masalah dalam memahami bahasa.
Gangguan yang dialami penderita apraxia dapat menyebabkan seseorang kesulitan untuk memulai dan menyelesaikan gerakan ketika berbicara (gangguan fungsi motorik otot area wajah). Apraxia juga sering membuat penderitanya sulit bersiul, batuk, dan menjilat bibir. Gangguan ini juga biasa terjadi pada anggota gerak, misalnya kesulitan menggerakan lengan dan kaki.
Penyebab Apraxia
Apraxia terjadi ketika beberapa bagian dalam otak tidak berfungsi sebagaimana mestinya, terutama pada lobus parietal, yaitu bagian otak yang berfungsi untuk mengontrol sentuhan dan gerakan tubuh. Gangguan ini umumnya disebabkan oleh kerusakan otak yang berisi ingatan tentang berbagai gerakan sehari-hari yang telah dipelajari. Adapun beberapa penyebab apraxia adalah:
-
Penyakit neurodegeneratif.
-
Sindrom kortikobasal, yaitu penyakit otak progresif yang ditandai dengan sel-sel saraf di otak menjadi menyusut (atrofi) sehingga dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengendalikan gerakan, berpikir, berbicara, dan menelan.
-
Penyakit Huntington, yaitu penyakit progresif langka akibat kelainan genetik yang menyebabkan kerusakan pada bagian otak yang mengatur gerakan.
Penderita apraxia tidak hanya orang dewasa. Beberapa kasus apraxia ditemukan sejak lahir. Gejala-gejalanya bisa berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, penyebab apraxia pada anak masih belum diketahui secara pasti.
Gejala Apraxia
Utamanya, apraxia ditandai oleh ketidakmampuan menggerakkan tubuh meskipun mampu memahami perintah dan mampu secara fisik untuk melakukannya. Adapun jenis gerakan dan kelompok otot yang memengaruhinya tergantung pada bagian otak yang terdampak. Berdasarkan tipe apraxia yang diderita, berikut beberapa gejala apraxia yang umumnya perlu diperhatikan:
-
Kesulitan mengurutkan kata dengan benar dalam berkomunikasi.
-
Kesulitan meniru apa yang dikatakan orang lain.
-
Kesulitan mengucapkan kata dengan tepat.
-
Kemampuan menulis lebih baik daripada bicara.
-
Tidak bisa menyalin gambar sederhana.
-
Kesulitan menggerakkan atau memicingkan mata.
-
Kesulitan menyelesaikan aktivitas sederhana, seperti menyikat gigi atau mengenakan sepatu.
-
Kesulitan meniru gerakan dengan kepala, lengan, atau kaki.
-
Kesulitan mengambil langkah pendek.
-
Kesulitan menggerakkan jari, lengan, atau kaki secara akurat.
Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, apraxia bisa menyerang anak-anak. Pada penderita anak-anak, apraxia verbal dapat menunjukkan beberapa gejala sebagai berikut:
-
Jarang sekali mengoceh (pada bayi).
-
Suara hilang ketika mengucapkan kata-kata, utamanya di awal perkataan.
-
Suara yang dibuat tidak bervariasi.
-
Kehilangan kemampuan untuk mengucapkan kata yang sudah dipelajari.
-
Kesulitan mengunyah dan menelan makanan.
-
Cenderung bersikap canggung.
-
Lebih sering berkomunikasi nonverbal, seperti dengan mengangguk dan menunjuk.
Diagnosis Apraxia
Diagnosis apraxia diawali dengan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui gejala yang diderita pasien dan kondisi medis lainnya. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada pasien. Pada pemeriksaan fisik, dokter dapat meminta pasien untuk melakukan gerakan tertentu, seperti menggosok gigi atau menggunting bentuk-bentuk tertentu.
Selain itu, dokter juga bisa merekomendasikan tes neurofisiologik pada pasien. Tujuannya adalah untuk mengecek apakah bagian otak yang melaksanakan fungsi dalam perencanaan motorik masih berfungsi dengan baik atau tidak. Dokter juga bisa merekomendasikan tes intelegensi dan bahasa yang standar untuk memastikan diagnosis apraxia verbal.
Pemeriksaan radiologis dan laboratorium dapat dilakukan untuk mencari penyebab dari apraxia, termasuk penyakit serebrovaskular, gangguan neurodegeneratif, cedera otak traumatis, tumor, dan multiple sclerosis. Beberapa pencitraan seperti pencitraan CT scan, MRI, dan PET scan dapat membantu mengidentifikasi gangguan otak terkait. Selain itu, lumbar puncture juga bisa dilaksanakan untuk mengecek terjadinya peradangan atau infeksi yang memengaruhi fungsi otak.
Pengobatan Apraxia
Apraxia bisa diobati dengan tiga bentuk terapi yang paling umum, yaitu terapi fisik, terapi wicara, dan terapi okupasi. Berikut penjelasannya:
-
Terapi fisik (fisioterapi): Menambah kekuatan, meningkatkan koordinasi, dan kendali motorik.
-
Terapi wicara: Meningkatkan kemampuan pengucapan suara atau berbicara.
-
Terapi okupasi: Membantu mengatasi keterbatasan motorik.
Apraxia bisa menyerang orang dewasa maupun anak-anak, namun penyebab dan gejala yang disebutkan di atas bisa mengindikasikan kondisi medis lainnya. Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, Anda bisa berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat guna memperoleh evaluasi, diagnosis, dan penanganan yang tepat.
Dokter akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan sesuai dengan kondisi setiap pasien. Selain itu, dokter juga akan menyesuaikan prosedur diagnosis dan pengobatan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing rumah sakit sehingga tahapannya pun akan berbeda-beda.
Jika ingin berkonsultasi dengan dokter dengan mudah, Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam. Aplikasi ini memungkinkan Anda untuk mengetahui jadwal praktik dokter, membuat janji temu, dan mengecek hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh MySiloam dan manfaatkan berbagai fiturnya untuk memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini






