Autophobia (Fobia Sendirian): Penyebab, Gejala, & Pengobatan
Kesehatan Mental

Autophobia (Fobia Sendirian): Penyebab, Gejala, & Pengobatan

13 September 2024 4 menit waktu baca
autophobia adalah

Autophobia adalah kondisi ketika seseorang merasa cemas dan takut berlebihan terhadap kesendirian. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat memengaruhi hubungan sosial maupun aktivitas sehari-hari. Sebetulnya, apa penyebab autophobia dan bagaimana cara mengatasinya? Mari pahami lebih lanjut dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Autophobia (Fobia Sendirian)?

 

Autophobia adalah jenis fobia spesifik yang membuat seseorang takut pada kesendirian, kesepian, dan merasa terisolasi dari orang lain. Fobia spesifik ini merupakan tipe gangguan kecemasan yang melibatkan ketakutan yang persisten (terus-menerus), irasional, dan berlebihan pada objek atau situasi tertentu yang sebenarnya tidak mengancam.

 

Kondisi ini dapat menyebabkan penderitanya cemas berlebihan saat ia merasa tidak dicintai, tidak diinginkan, atau ditinggalkan oleh orang terdekat. Nama lain dari autophobia adalah monophobia, eremophobia, dan isolophobia.

 

Penyebab Autophobia

 

Hingga kini, tidak diketahui secara pasti apa penyebab seseorang mengalami fobia, termasuk autophobia. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini berkaitan dengan faktor genetik dan pengaruh lingkungan. Sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami autophobia adalah:

 

 

Gejala Autophobia

 

Pada dasarnya, orang dengan autophobia menyadari bahwa rasa takutnya tidak rasional. Namun, mereka tidak dapat mengendalikan hal tersebut ketika berada dalam situasi yang membuatnya merasa kesepian atau sendirian. Adapun beberapa gejala umum autophobia adalah sebagai berikut:

 

  • Merasa ketakutan dan cemas berlebihan apabila sedang sendirian atau memikirkan  situasi saat ia  sendirian.

  • Menghindari sendirian atau berada di situasi yang membuatnya sendirian.

  • Mengalami serangan panik, dengan gejala sebagai berikut:

    • Tubuh menggigil dan gemetar.

    • Pusing dan sakit kepala ringan.

    • Berkeringat berlebihan (hiperhidrosis).

    • Jantung berdebar (palpitasi).

    • Mual.

    • Sesak napas (dispnea).

    • Sakit perut atau gangguan pencernaan .

 

Gejala di atas berlangsung selama 6 bulan atau lebih secara terus-menerus dan dapat mengganggu kehidupan penderitanya. Efek lain dari gejala fobia spesifik ini bisa berupa usaha yang keras atau ekstrem agar dirinya tidak berada situasi yang membuatnya sendirian, memohon agar tidak ditinggalkan orang lain, serta terlalu bergantung dalam suatu hubungan.

 

Diagnosis Autophobia

 

Perlu diketahui bahwa autophobia tidak diakui secara resmi dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th Edition (DSM-5). Meski demikian, dokter dapat mendiagnosis kondisi ini sebagai fobia spesifik berdasarkan gejala yang dialami oleh pasien. Untuk itu, dokter akan melakukan evaluasi psikologis serta wawancara medis (anamnesis) terkait dengan gejala dan riwayat kesehatan pasien.

 

Diagnosis fobia spesifik, termasuk autophobia, dapat ditegakkan apabila pasien memenuhi beberapa kriteria fobia spesifik dalam buku DSM, yaitu:

 

  • Ketakutan berlangsung setidaknya selama 6 bulan.

  • Rasa takut dan cemas yang intens ketika dihadapkan dengan situasi yang membuatnya sendirian, meskipun ia tahu bahwa hal tersebut tidak berbahaya.

  • Gejala segera muncul ketika sedang sendirian atau memikirkan kondisi yang membuatnya merasa kesepian.

  • Rasa cemas dan takut yang dialami membuatnya menghindari segala kondisi yang berkaitan dengan kesendirian.

  • Gejala yang dirasakan cenderung ekstrem dan telah mengganggu kemampuannya untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

  • Gejala yang muncul bukan disebabkan oleh gangguan mental lainnya.

 

Cara Mengatasi Autophobia

 

Pengobatan autophobia utamanya dilakukan dengan terapi psikologis (psikoterapi). Terdapat dua jenis psikoterapi yang umum digunakan untuk menangani autophobia, yaitu exposure therapy dan terapi perilaku kognitif. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

  • Exposure therapy: Terapi yang dilakukan dengan memaparkan objek atau situasi yang ditakuti oleh pasien secara bertahap. Misalnya, dokter dapat meninggalkan pasien sendirian di dalam ruangan selama 5 menit, kemudian durasinya akan ditingkatkan secara bertahap.

  • Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioural therapy): Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki pola pikir dan perilaku pasien terhadap suatu masalah. 

 

Selain itu, dalam kondisi tertentu, dokter mungkin juga akan meresepkan obat-obatan untuk membantu mengendalikan gejala autophobia. Adapun beberapa jenis obat yang dapat diresepkan untuk meredakan gejala autophobia adalah:

 

  • Beta-blockers, seperti propranolol.

  • Anticemas, seperti benzodiazepine untuk meredakan cemas dan membuat tubuh lebih rileks.

  • Antidepresan, seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs).

 

Komplikasi Autophobia

 

Secara umum, autophobia dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya secara keseluruhan. Pasalnya, kondisi ini bisa mengganggu kemampuan penderitanya untuk bersosialisasi dan melakukan rutinitas sehari-hari. Bahkan, autophobia juga bisa meningkatkan risiko beberapa gangguan mental berikut ini:

 

 

Perlu diketahui bahwa penyebab dan gejala yang disebutkan di atas tidak dapat digunakan untuk memastikan seseorang benar-benar menderita autophobia. Pasalnya, penyebab dan gejala tersebut tidak mewakili autophobia secara spesifik, sehingga mungkin saja juga terjadi pada kondisi medis lainnya.

 

Untuk memperoleh diagnosis yang tepat dan akurat terkait dengan autophobia, segera lakukan konseling dengan Psikiatri di Siloam Hospitals terdekat. Dengan begitu, dokter juga bisa merencanakan tindakan medis yang tepat dan sesuai dengan kondisi pasien.

 

Sebagai informasi, setiap tahapan tindakan medis yang Anda jalani akan disesuaikan dengan fasilitas kesehatan yang tersedia, sehingga mungkin saja berbeda di masing-masing rumah sakit. Namun, tenaga medis profesional akan memastikan seluruh prosedur medis yang dilakukan telah sesuai dengan kondisi kesehatan pasien.

 

Agar lebih praktis, gunakan juga layanan Telekonsultasi yang dapat memudahkan Anda untuk berkonsultasi dengan dokter pilihan secara virtual. Layanan ini juga memungkinkan dokter untuk memberikan resep obat-obatan tertentu secara online, pasien pun dapat mengambilnya tanpa harus keluar rumah. Namun, terdapat beberapa jenis obat, seperti antipsikotik dan antidepresan, yang mewajibkan pasien untuk mengambil resepnya secara langsung.

Sumber

Cleveland Clinic. Autophobia (Fear of Being Alone). Diakses pada 2024 | Healthline. Autophobia. Diakses pada 2024 | MedicalNewsToday. What you need to know about autophobia. Diakses pada 2024 |

message

ArticleDetail