Status Epileptikus - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya
Kesehatan Tubuh

Status Epileptikus - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

14 Mei 2025 6 menit waktu baca
status epileptikus adalah

Status epileptikus adalah kondisi medis berupa kejang yang terjadi secara terus-menerus dan dapat berlangsung selama lebih dari 5 menit. Status epileptikus adalah kondisi gawat darurat medis yang perlu segera ditangani dengan tepat karena berisiko menyebabkan kerusakan otak permanen hingga kematian.

 

Mari pahami lebih lanjut mengenai penyebab, gejala, dan penanganan status epileptikus melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Status Epileptikus?

 

Status epileptikus adalah kondisi gawat darurat medis yang ditandai dengan kejang secara terus-menerus atau berulang kali selama lebih dari 5 menit tanpa memiliki waktu yang cukup untuk pulih di antara serangan kejang. Kondisi ini perlu diwaspadai karena tidak hanya dapat menyebabkan kerusakan permanen pada saraf otak, namun juga dapat menyebabkan kerusakan yang luas pada organ dan sistem tubuh.

 

Kerusakan permanen pada saraf otak dapat menyebabkan tubuh kehilangan kemampuan yang semula dikendalikan oleh bagian otak yang terdampak. Sementara itu, kerusakan pada organ dan sistem tubuh seperti kerusakan pada jantung, otot-otot tubuh, ginjal, sistem pernapasan, hingga menaikkan suhu tubuh yang dapat mengancam nyawa.

 

Penyebab Status Epileptikus

 

Penyebab status epileptikus pada setiap individu bisa berbeda-beda. Terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami status epileptikus, di antaranya:

  • Usia. Anak-anak berusia di bawah 1 tahun atau lansia di atas 60 tahun berisiko tinggi mengalami status epileptikus.
  • Jenis kelamin. Pria lebih berisiko mengalami status epileptikus dibandingkan wanita.
  • Terdapat riwayat keluarga dengan epilepsi.
  • Mengidap kondisi medis tertentu, seperti diabetes, sirosis hati, atau penyakit paru-paru yang parah dan kronis, misalnya pneumonia berat.

 

Bagi penderita epilepsi, status epileptikus juga dapat dipicu oleh konsumsi obat antikejang dengan dosis serta frekuensi yang tidak sesuai dengan anjuran dokter.

 

Adapun sejumlah kondisi-kondisi lainnya yang dapat menyebabkan terjadinya status epileptikus adalah sebagai berikut:

  • Kejang demam, merupakan penyebab utama dari kejang pada anak-anak berusia di bawah 1 tahun.
  • Stroke, aneurisma otak, dan perdarahan di otak. Ketiga penyebab ini merupakan penyebab paling umum dari kejang pada orang berusia di atas 60 tahun.
  • Tumor otak.
  • Infeksi di otak, seperti radang otak/ensefalitis dan meningitis.
  • Cedera kepala.
  • Hipoksia atau kekurangan oksigen di otak.
  • Hipoglikemia.
  • Gagal hati.
  • Gagal ginjal.
  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang.
  • Kecanduan alkohol.
  • Gangguan keseimbangan elektrolit.
  • Eklampsia. 
  • Penyakit autoimun. 
  • Keracunan zat-zat kimia, seperti keracunan karbon monoksida.

 

Status epileptikus juga dapat dialami oleh bayi baru lahir yang disebabkan oleh sejumlah kondisi, seperti:

  • Asfiksia atau kekurangan oksigen.
  • Kerusakan otak akibat cedera saat persalinan.
  • Memiliki cacat bawaan, misalnya mikrosefalus.

 

Gejala Status Epileptikus

 

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa gejala utama status epileptikus adalah kejang yang berlangsung secara terus menerus selama lebih dari 5 menit atau terjadi secara berulang kali hingga 30 menit tanpa adanya waktu pulih di antara serangan kejang. Berdasarkan gejalanya, kejang akibat status epileptikus dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kejang konvulsif dan kejang nonkonvulsif. Berikut penjelasannya.

  • Kejang konvulsif: Kejang yang ditandai dengan gerakan menghentak. Kondisi ini dapat menyebabkan penderitanya mendelikkan mata ke atas, mengeluarkan air liur, hingga suara mengerang.
  • Kejang nonkonvulsif: Kejang yang membuat penderitanya merasa linglung, terlihat seperti sedang melamun, dan melakukan hal-hal tidak wajar. Kondisi ini dapat berkembang menjadi kejang konvulsif.

 

Penderita status epileptikus juga bisa mengalami beberapa gejala lain, tergantung pada penyebab yang mendasarinya, seperti:

  • Salah satu sisi tubuh melemah.
  • Tidak mampu menahan buang air kecil dan buang air besar.
  • Leher kaku.
  • Sesak napas.
  • Lidah tergigit hingga mengeluarkan air liur yang bercampur dengan darah.
  • Demam tinggi.
  • Gigi gemeretak.
  • Wajah miring sebelah.
  • Bibir atau ujung-ujung jari kaki/tangan mengalami sianosis (kebiruan) akibat kurangnya pasokan oksigen ke otak karena kejang yang berlangsung lama.

 

Komplikasi Status Epileptikus

 

Status epileptikus termasuk sebagai kondisi gawat darurat medis, sehingga apabila tidak segera ditangani dengan tepat, dapat meningkatkan risiko terjadinya sejumlah komplikasi serius, seperti:

  • Epilepsi yang semakin memburuk dan tidak terkendali.
  • Pneumonia aspirasi.
  • Kelumpuhan.
  • Kerusakan otak dan organ tubuh permanen.
  • Kematian.

 

Pertolongan Pertama Status Epileptikus

 

Apabila menemukan seseorang yang mengalami kejang, segera hubungi petugas medis dan lakukan pertolongan pertama melalui langkah-langkah berikut ini.

  • Membaringkan penderita kejang pada tempat yang aman.
  • Jauhkan benda-benda tajam yang berpotensi melukai penderita.
  • Posisikan tubuh penderita miring ke samping untuk membantu membuka jalan napas.
  • Meletakkan bantal, tumpukan pakaian, atau alas lembut di bawah kepala penderita untuk mencegah risiko cedera kepala.
  • Melonggarkan pakaian penderita, terutama pada bagian leher.
  • Jangan memasukkan benda apa pun ke dalam mulut penderita saat ia mengalami kejang.
  • Jangan berusaha menahan tubuh penderita untuk menghentikan kejang.
  • Memperhatikan lama waktu kejang.
  • Bersikap tenang dan temani penderita hingga kejang berhenti atau sampai petugas medis datang.

 

Diagnosis Status Epileptikus

 

Apabila pasien sudah dalam kondisi sadar, dokter dapat melakukan anamnesis atau wawancara medis dengan pasien untuk mengetahui keluhan, riwayat kesehatan, dan jenis obat-obatan yang dikonsumsi. Lalu, untuk membantu mengonfirmasi penyebab yang mendasarinya, terdapat sejumlah pemeriksaan penunjang status epileptikus yang umum dilakukan, yaitu:

  • Tes darah lengkap untuk memeriksa fungsi ginjal, fungsi hati, kemungkinan infeksi, sistem imun tubuh, kemungkinan adanya zat-zat kimia beracun, serta gangguan keseimbangan elektrolit.
  • Pungsi lumbal, untuk mengonfirmasi kuman patogen penyebab infeksi yang dicurigai menyebabkan kejang. 
  • Tes analisis gas darah untuk memeriksa kadar keasaman atau pH darah di dalam tubuh.
  • Pemeriksaan lengkap pada ibu hamil terutama pemeriksaan protein urine dan tekanan darah. Digunakan untuk mengonfirmasi penyebab kejang pada ibu hamil.
  • Tes urine untuk memastikan jenis obat-obatan yang digunakan oleh pasien.
  • Electroencephalogram (EEG) untuk memeriksa aktivitas listrik pada otak.
  • Prosedur pencitraan, seperti MRI atau CT scan, untuk mengetahui apakah ada tumor, perdarahan, atau gangguan pada otak yang menyebabkan kejang.

 

Penanganan Status Epileptikus

 

Apabila pasien masih mengalami kejang, dokter dapat menstabilkan kondisinya melalui sejumlah tindakan medis, seperti:

  • Memberikan oksigen, baik dengan atau tanpa bantuan ventilator mekanik.
  • Memasang selang infus.
  • Memberikan obat antikejang melalui intravena, seperti lorazepam, diazepam, atau midazolam.

 

Setelah itu, apabila kondisi pasien sudah stabil, dokter dapat menangani status epileptikus sesuai dengan penyebab yang mendasarinya. Namun, sejumlah tindakan yang umum dilakukan untuk menangani status epileptikus adalah:

  • Pemberian obat-obatan antikejang, seperti fenitoin, untuk mencegah kambuhnya kejang.
  • Tindakan operasi untuk menghentikan perdarahan ataupun tumor otak yang menyebabkan kejang.
  • Deep Brain Stimulation (DBS) atau stimulasi saraf vagus untuk menyeimbangkan aktivitas listrik yang tidak normal pada otak.
  • Menerapkan diet keto di bawah pengawasan dokter untuk mengurangi risiko kekambuhan kejang.

 

Pencegahan Status Epileptikus

 

Adapun sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya status epileptikus adalah sebagai berikut:

  • Bagi penderita epilepsi, dianjurkan untuk mengonsumsi obat secara teratur dan sesuai dengan anjuran dokter.
  • Menjaga kadar gula darah normal dalam tubuh.
  • Mencukupi waktu tidur sekitar 7–9 jam per hari.
  • Menerima vaksinasi untuk mencegah meningitis atau infeksi pada otak lainnya yang dapat menyebabkan kejang.
  • Menjalani perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk menghindari risiko infeksi.
  • Menggunakan alat pelindung diri dengan benar saat berkendara, bekerja, atau berolahraga untuk menghindari risiko cedera kepala akibat kecelakaan.

 

Apabila menemukan seseorang yang mengalami kejang yang terjadi secara terus menerus dan berulang kali selama lebih dari 5 menit, segera hubungi bantuan medis dari Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh tindakan medis yang tepat dan sesuai dengan kondisi tubuh.

 

Jika membutuhkan konsultasi lainnya seputar kesehatan tubuh, Anda bisa menemukan informasi jadwal dan buat janji temu dengan dokter Siloam Hospitals terlebih dahulu menggunakan fitur Cari Dokter.


Atau, manfaatkan juga aplikasi MySiloam untuk memudahkan Anda dalam melakukan pemesanan dan pembelian paket medical check up, cek hasil skrining kesehatan, serta konsultasi virtual dengan dokter. Download aplikasi MySiloam sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

Digital Booking Radiologi

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail