Apa itu Algophobia? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Mental

Apa itu Algophobia? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

22 Agustus 2024 5 menit waktu baca
algophobia adalah

Algophobia adalah rasa takut berlebih terhadap nyeri. Kondisi ini sering kali terjadi pada seseorang yang pernah mengeluhkan sindrom nyeri kronis, sehingga membuatnya takut jika rasa nyeri tersebut kembali muncul atau semakin memburuk. 

 

Secara umum, algophobia dapat ditangani dengan kombinasi beberapa metode pengobatan, seperti exposure therapy, terapi perilaku kognitif, dan lain-lain. Mari simak ulasan lengkap mengenai algophobia di bawah ini.

 

Apa itu Algophobia?

 

Agliophobia atau algophobia adalah salah satu jenis dari fobia spesifik yang membuat seseorang merasa takut berlebihan, irasional, dan persisten (terus-menerus) terhadap rasa sakit atau nyeri. Orang dengan algophobia sering kali sudah merasa cemas bahkan sebelum benar-benar merasakan sakit secara fisik, misalnya hanya dengan membayangkan suatu situasi yang dapat berpotensi menimbulkan rasa sakit, penderita algophobia sudah merasa cemas.

 

Semua orang tentu tidak ingin mengalami rasa sakit. Namun, pada kasus algophobia, penderita cenderung merasa khawatir secara berlebihan, panik, hingga depresi saat memikirkan rasa nyeri. Kondisi ini dapat membuat penderita menjadi lebih sensitif terhadap rasa sakit. Algophobia paling sering terjadi pada orang dengan sindrom nyeri kronis.

 

Penyebab Algophobia

 

Pada dasarnya, belum diketahui secara pasti apa penyebab seseorang mengalami fobia spesifik, termasuk algophobia. Kondisi ini dapat terjadi ketika terdapat ketidakseimbangan senyawa kimia di dalam otak yang mengatur rasa takut, cemas, dan cara seseorang dalam merasakan sakit.

 

Algophobia lebih sering dialami oleh lansia, namun tidak menutup kemungkinan juga bisa terjadi pada berbagai kalangan usia. Di samping itu, beberapa faktor yang diduga dapat memicu seseorang mengalami algophobia adalah sebagai berikut:

 

  • Memiliki keluarga dengan riwayat fobia.

  • Pernah atau sedang menderita penyakit yang dapat menimbulkan rasa nyeri kronis, seperti artritis, nyeri kepala kronis, kanker, kerusakan saraf, penyakit autoimun, penyakit infeksi, dan lain sebagainya. Pada kondisi ini, penderita biasanya takut nyeri akan datang kembali atau nyeri akan menjadi lebih parah.

  • Psychogenic pain (rasa nyeri yang muncul karena faktor psikologis).

  • Nociceptive pain (rasa nyeri yang muncul karena trauma atau cedera fisik, seperti memar, luka bakar, keseleo, dan lain-lain).

 

Gejala Algophobia

 

Secara umum, algophobia dapat membuat seseorang merasa takut berlebih saat memikirkan rasa sakit atau nyeri. Di samping itu, orang dengan algophobia juga dapat menunjukkan rasa takut dan kecemasan dengan siklus tertentu, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Catastrophizing (exaggeration): Orang dengan algophobia biasanya akan menganggap rasa nyeri sebagai suatu ancaman yang berlebihan, bahkan pada aktivitas sehari-hari. Misalnya, mereka akan menganggap aktivitas sederhana seperti berjalan kaki di luar rumah berisiko menyebabkan cedera yang bisa menimbulkan rasa nyeri.

  • Hypervigilance: Penderita algophobia akan bereaksi secara berlebihan dan terlalu fokus dengan ancaman rasa nyeri dari aktivitas sederhana.

  • Fear-avoidance: Pada kondisi ini, penderita algophobia cenderung menghindari situasi, termasuk aktivitas maupun gerakan tertentu yang bisa menimbulkan rasa nyeri dan sakit. Dalam beberapa kasus, hal ini dapat memicu terjadinya kinesiophobia (fobia terhadap rasa sakit akibat gerakan) yang bisa menghambat penyembuhan kondisi medis tertentu. Hal ini tentu dapat menghambat aktivitas sehari-hari.

 

Di samping itu, penderita algophobia juga dapat mengalami serangan panik (panic attack) secara tiba-tiba saat sedang memikirkan rasa nyeri. Beberapa gejala serangan panik yang bisa dialami oleh penderita algophobia adalah:

 

  • Menggigil.

  • Pusing dan sakit kepala.

  • Berkeringat berlebihan (hiperhidrosis).

  • Sakit perut atau gangguan pencernaan.

  • Palpitasi.

  • Mual.

  • Sesak napas.

  • Tubuh gemetar.

  • Napas cepat dan dalam (hiperventilasi).

  • Tensi meningkat.

  • Tegang otot.

  • Dispepsia.

 

Diagnosis Algophobia

 

Algophobia cenderung sulit untuk didiagnosis, terutama jika dialami oleh orang dengan sindrom nyeri kronis. Maka dari itu, dokter akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh untuk membedakan fobia tersebut dengan rasa nyeri yang sebenarnya dialami oleh pasien. Dokter juga dapat melakukan wawancara medis (anamnesis) untuk menanyakan beberapa hal, seperti:

 

  • Bagaimana tingkat keparahan rasa sakit tersebut?

  • Berapa lama rasa sakit tersebut berlangsung?

  • Seberapa sering pasien mengalami hal tersebut?

  • Bagaimana perasaan pasien saat mengalami rasa sakit?

 

Selain itu, dokter juga bisa melakukan pemeriksaan yang disebut pain anxiety symptom scale (PASS) untuk menilai tingkat keparahan algophobia yang dialami pasien. Melalui tes ini, pasien diminta untuk menanggapi pernyataan tertentu, seperti “saya tidak bisa berpikir jernih saat kesakitan” atau “rasa sakit dapat membuat saya mual”. Penilaian ini akan menggunakan skala 0 (tidak pernah) hingga 5 (selalu).

 

Terdapat berbagai kuesioner lainnya yang dapat digunakan oleh dokter untuk menilai kondisi rasa takut terhadap nyeri yang dialami oleh pasien, seperti Fear-Avoidance of Pain Scale, Fear Avoidance Beliefs Questionnaire, Fear of Pain Questionnaire-III (FPQ-III), dan lain-lain.

 

Secara umum, diagnosis algophobia dapat ditegakkan apabila pasien mengalami beberapa kondisi berikut ini:

 

  • Cenderung menghindari aktivitas atau situasi yang menurut mereka dapat menimbulkan rasa sakit.

  • Merasa takut atau cemas berlebihan saat memikirkan rasa sakit atau saat mengantisipasi situasi yang berpotensi menyebabkan nyeri.

  • Mengalami ketakutan berlebihan terhadap rasa nyeri selama 6 bulan atau lebih.

  • Menurunnya kualitas hidup akibat rasa takut tersebut.

 

Kondisi ini juga dapat membuat seseorang menghindari aktivitas sehari-hari yang dianggap mengancam dan berpotensi menyebabkan nyeri, seperti berolahraga, memindahkan furnitur, mengangkat barang berat, aktivitas repetitif yang berpotensi membuat cedera (mengetik atau melukis), keluar rumah ketika basah, naik tangga, memasak, serta menyetir.

 

Pengobatan Algophobia

 

Penanganan algophobia pada dasarnya dapat dilakukan dengan mengombinasikan beberapa metode pengobatan. Hal ini bertujuan untuk membantu mengontrol rasa cemas serta meningkatkan kualitas hidup penderitanya. Secara umum, beberapa metode yang kerap dilakukan untuk menangani algophobia adalah sebagai berikut:

 

  • Terapi perilaku kognitif: Terapi ini berfokus untuk membantu mengubah cara berpikir pasien terhadap rasa nyeri.

  • Exposure therapy: Jenis terapi yang dilakukan dengan memaparkan hal-hal yang ditakuti oleh pasien secara bertahap. Misalnya, dokter dapat mengarahkan pasien untuk melakukan latihan angkat kaki ringan guna membantu mengatasi rasa takut terhadap nyeri pada kaki.

  • Latihan fisik: Dokter dapat menyarankan pasien untuk meningkatkan intensitas aktivitas fisik dan berolahraga secara bertahap untuk membantu mengatasi rasa takut terhadap nyeri. Pasalnya, olahraga bisa meningkatkan kadar zat kimia yang berfungsi mengatur suasana hati di dalam otak.

 

Pencegahan Algophobia

 

Hingga kini, belum ada cara khusus yang bisa dilakukan untuk mencegah algophobia. Kendati demikian, terdapat beberapa upaya yang dapat diterapkan guna meminimalkan risiko terjadinya fobia terhadap rasa nyeri atau algophobia. Beberapa cara tersebut, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Menghindari atau membatasi konsumsi kafein dan minuman beralkohol karena bisa memperburuk rasa cemas.

  • Menerapkan pola hidup sehat dengan baik, seperti tidak merokok, tidur yang cukup, rutin berolahraga, serta mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang.

  • Berbagi cerita dengan keluarga atau orang terdekat untuk mendapatkan dukungan emosional.

  • Melakukan konseling dengan psikolog atau psikiater jika diperlukan.

 

Perlu diingat, masalah kesehatan mental, seperti algophobia, bukanlah hal yang harus disembunyikan dan diabaikan. Maka dari itu, tak perlu ragu untuk melakukan konseling dengan Psikiatri di Siloam Hospitals agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

 

Di samping itu, Anda juga dapat memanfaatkan layanan Telekonsultasi untuk memperoleh saran perawatan hingga resep obat-obatan dari dokter tanpa perlu keluar rumah. Namun, beberapa jenis obat, seperti antipsikotik dan antidepresan, harus diambil oleh pasien secara langsung (self pick up).

 

telechat (1)

 

message

ArticleDetail