Kesehatan Tubuh
Apa itu Disosmia? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Disosmia adalah kondisi ketika seseorang mengalami gangguan persepsi indra penciuman. Pada dasarnya, kondisi ini tergolong tidak berbahaya, namun tetap perlu ditangani dengan tepat agar tidak memengaruhi selera makan, kondisi psikis, dan kualitas hidup seseorang. Mari simak informasi lengkap mengenai apa itu disosmia melalui artikel berikut ini.
Apa itu Disosmia?
Disosmia adalah gangguan persepsi indra penciuman yang dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan mencium bau (anosmia), distorsi atau penyimpangan persepsi aroma (parosmia), hingga mencium aroma tertentu meskipun sebenarnya tidak ada stimulus yang dapat menimbulkan aroma tersebut (phantosmia). Pada dasarnya, disosmia adalah bentuk gejala dari kondisi kesehatan tertentu, bukan tergolong sebagai penyakit sendiri.
Penyebab Disosmia
Penyebab terjadinya disosmia cenderung beragam, bergantung pada jenis keluhan yang dialami oleh penderitanya. Namun, ada sejumlah kondisi yang kerap menyebabkan seseorang mengalami disosmia, salah satunya adalah gangguan kesehatan mental. Berikut selengkapnya.
-
Infeksi saluran pernapasan, seperti rhinitis alergi, selesma, sinusitis kronis, atau COVID-19.
-
Gangguan pada hidung, seperti polip hidung.
-
Cedera kepala yang dapat memengaruhi fungsi saraf yang mengatur indra penciuman.
-
Migrain dengan aura.
-
Gangguan kesehatan mental, seperti depresi atau skizofrenia.
-
Diabetes mellitus.
-
Penyakit autoimun, seperti sjogren’s syndrome (kerusakan kelenjar yang memproduksi air mata, air liur, keringat, dan kelenjar lendir di vagina).
-
Efek samping dari terapi radiasi atau kemoterapi.
-
Efek samping dari penggunaan obat-obatan tertentu, seperti obat kolesterol dan obat tekanan darah tinggi (hipertensi).
-
Paparan zat kimia tertentu, seperti karbon monoksida.
Di samping itu, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami disosmia adalah sebagai berikut.
-
Berusia di atas 60 tahun.
-
Berjenis kelamin wanita.
-
Memiliki riwayat cedera kepala.
-
Mengalami mulut kering berkepanjangan.
-
Kebiasaan merokok.
-
Sering terpapar polusi udara.
Gejala Disosmia
Pada dasarnya, penyakit disosmia dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan kemampuan dalam mencium bau. Berikut adalah sejumlah kondisi yang dapat dialami oleh penderita disosmia, yang penting untuk diketahui.
-
Anosmia: Kehilangan kemampuan mencium bau sepenuhnya.
-
Anosmia parsial: Kehilangan kemampuan mencium beberapa aroma tertentu.
-
Agnosia: ketidakmampuan mencium satu macam aroma.
-
Hiposmia: Penurunan kemampuan mencium aroma, baik berupa penurunan sensitivitas ataupun kualitas penciuman.
-
Presbiosmia: Gangguan indra penciuman akibat faktor usia.
-
Phantosmia: Kesalahan persepsi aroma tertentu yang membuat seseorang mencium suatu aroma meski sebenarnya tidak ada sumber bau tersebut.
-
Parosmia: Penyimpangan persepsi suatu aroma. Misalnya, seseorang mencium aroma tidak sedap dari bunga yang sebenarnya berbau harum, atau kopi yang tiba-tiba berbau seperti bensin/sampah.
Selain itu, penderita disosmia juga dapat mengalami kondisi yang berkaitan dengan kemampuan indra pengecap, di antaranya sebagai berikut.
-
Ageusia: Kehilangan kemampuan indra pengecap.
-
Dysgeusia: Distorsi atau penyimpangan kemampuan indra pengecap.
-
Hypogeusia: Penurunan kemampuan indra pengecap.
Komplikasi Disosmia
Disosmia adalah kondisi yang dapat memengaruhi nafsu makan karena adanya gangguan penciuman. Jika tidak segera ditangani dengan tepat, kondisi ini berisiko menyebabkan penderitanya mengalami gangguan keseimbangan nutrisi tubuh (malnutrisi).
Diagnosis Disosmia
Penegakkan diagnosis disosmia dapat diawali dengan melakukan anamnesis atau wawancara medis untuk mengetahui tentang keluhan, riwayat kesehatan pasien, dan riwayat kebiasaan merokok. Setelah itu, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengevaluasi kondisi hidung dan saluran pernapasan atas, serta pemeriksaan kemonsensoris indra penciuman.
Guna membantu menegakkan diagnosis disosmia, dokter juga dapat menyarankan pasien untuk menjalani beberapa pemeriksaan penunjang untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lainnya yang dapat menyebabkan disosmia, seperti:
-
Foto rontgen kepala.
-
MRI.
-
Nasal endoscopy.
-
University of Pennsylvania smell identification test (tes UPSIT).
-
The Connecticut Chemosensory Clinical Research Center test (tes CCCRC).
-
Tes sniffin sticks.
-
Odor stick identification test for Japanese (tes OSIT-J).
Pengobatan Disosmia
Pengobatan disosmia dapat dilakukan sesuai dengan penyebab yang mendasarinya. Misalnya, dokter dapat menyarankan pasien untuk menjalani tindakan pembedahan apabila disosmia disebabkan oleh polip hidung. Atau, dokter juga dapat meresepkan obat antibiotik untuk menangani sinusitis dan penyakit infeksi lainnya yang menyebabkan disosmia.
Dalam beberapa kasus, dokter juga dapat menyarankan pasien untuk menjalani smell retraining therapy (SRT). Melalui terapi ini, pasien diarahkan untuk mencium aroma yang kuat sebanyak beberapa kali sehari selama beberapa bulan untuk membantu sistem saraf pusat dalam mengembalikan fungsi indra penciuman.
Pencegahan Disosmia
Pencegahan disosmia umumnya bergantung pada penyebab dan faktor risiko yang mendasarinya. Namun, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya disosmia, salah satunya adalah dengan berhenti merokok. Berikut selengkapnya.
-
Menjaga daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup sehat sebaik mungkin, seperti rutin berolahraga, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang, memperbanyak minum air putih, dan istirahat yang cukup.
-
Berhenti merokok dan menghindari paparan asap rokok.
-
Mencuci tangan secara rutin.
-
Menghindari menyentuh wajah sebelum mencuci tangan, terutama jika sedang sakit atau menyentuh benda-benda yang digunakan bersama.
-
Menghindari paparan zat kimia tertentu, seperti pewangi ruangan atau pembasmi serangga secara berlebihan.
Meski cenderung tidak berbahaya, disosmia adalah kondisi yang perlu segera ditangani dengan tepat agar tidak memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Maka dari itu, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat apabila Anda mengalami gejala-gejala yang mengarah pada disosmia.
Selain itu, apabila memerlukan perawatan dari rumah, Anda dapat memesan layanan Homecare - Coordinated Care dari Siloam Hospitals melalui aplikasi MySiloam. Layanan ini memungkinkan Anda untuk mendapatkan pendampingan perawat secara langsung di rumah (perawat bisa menginap atau pulang pergi) serta pemantauan berkala oleh dokter umum dan dokter spesialis jika diperlukan. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Agustinus Sony Yudianto, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Hospitals Balikpapan
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ropi Affandi, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Sriwijaya Palembang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Emanuel Quadarusman, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Non Live In Coordinated Care Monthly (Competent) - Homecare
Coordinated Care
Rp78.000.000
Live In Coordinated Care Monthly (Competent) - Homecare
Coordinated Care
Rp81.900.000
Live In Coordinated Care Monthly (Expert) - Homecare
Coordinated Care
Rp94.500.000
TERPOPULER
Non Live In Coordinated Care Weekly (Expert) - Homecare
Coordinated Care
Rp30.000.000
TERPOPULER
Non Live In Coordinated Care Weekly (Advance) - Homecare
Coordinated Care
Rp25.000.000







