Mutisme Selektif - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Mental

Mutisme Selektif - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

22 Agustus 2024 5 menit waktu baca
mutisme selektif

Selective mutism, bisu selektif, atau mutisme selektif adalah kondisi ketika seseorang tidak bisa berbicara secara mendadak pada situasi tertentu, misalnya saat bersama orang yang jarang ditemui atau ketika berada di depan banyak orang. Kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja, namun lebih sering terjadi pada anak-anak berusia 2–4 tahun. Mari kenali apa itu mutisme selektif selengkapnya dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Mutisme Selektif?

 

Selective mutism atau mutisme selektif adalah gangguan kecemasan (anxiety disorder) yang terjadi ketika seseorang tidak bisa berbicara dalam situasi tertentu. Kondisi ini biasanya dimulai pada masa kanak-kanak. Apabila tidak segera ditangani dengan tepat, bisu selektif bisa berlanjut hingga penderitanya beranjak dewasa.

 

Pada dasarnya, mutisme selektif bukan terjadi ketika seseorang menolak untuk berbicara, melainkan membuatnya benar-benar tidak bisa berbicara, panik, cemas, dan membeku. Namun, orang dengan kondisi ini masih bisa berbicara dengan baik saat tidak dihadapkan oleh situasi yang dapat memicu respons membisu tersebut.

 

Kondisi ini dilaporkan terjadi sekitar 0,7–2% dari populasi. Mutisme selektif biasanya timbul pada anak berusia 2–4 tahun, namun sering kali tidak diketahui sampai anak masuk sekolah. Jika tidak ditangani dengan baik, mutisme selektif dapat mempengaruhi kapasitas sosial-komunikatif, kesehatan mental, dan kualitas hidup pada masa remaja dan dewasa.

Penyebab Mutisme Selektif

 

Belum diketahui secara pasti apa penyebab seseorang mengalami mutisme selektif. Namun, para ahli menduga bahwa kondisi ini dapat dipicu oleh beberapa faktor. Adapun sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami mutisme selektif adalah sebagai berikut:

 

 

Gejala Mutisme Selektif

 

Gejala mutisme selektif bisa bermacam-macam pada setiap penderitanya. Beberapa orang dengan kondisi ini mungkin tidak akan bisa berbicara sama sekali pada kondisi tertentu. Namun, sebagian lainnya masih bisa berbicara meskipun cenderung terbatas. Jika dihadapkan dengan situasi yang membuatnya kesulitan berbicara, orang dengan selective mutism dapat menunjukkan beberapa gejala, seperti:

 

  • Kasar dan mudah marah.

  • Gugup, canggung, atau gelisah.

  • Cenderung bersembunyi atau memilih untuk menyendiri.

  • Bertindak agresif, seperti mengamuk.

 

Gejala kondisi ini juga dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu total or near-total inability to communicate, nonverbal communication, dan minimal or reduced communication.

 

Total or near-total inability to communicate:

 

  • Merasa tidak mampu untuk berbicara karena rasa cemas atau takut berlebih.

  • Tubuh cenderung tegang atau kaku.

  • Tatapan kosong.

  • Menghindari kontak mata dengan orang lain.

  • Menghindari melakukan interaksi sosial.

  • Menghindari berbicara meskipun untuk hal-hal penting. Misalnya, saat di kelas, anak cenderung enggan meminta izin ke guru untuk pergi ke toilet.

  • Berperilaku mengganggu (seperti mengamuk) untuk menghindari pembicaraan.

 

Nonverbal communication:

 

  • Lebih sering menggunakan suara atau gerakan untuk mengungkapkan kata-kata. Misalnya, mengangguk untuk mengatakan “iya” dan menggelengkan kepala untuk “tidak”.

  • Lebih memilih berkomunikasi secara nonverbal untuk menghindari pembicaraan, seperti menunjuk sesuatu di buku atau menuliskan tanggapannya pada kertas.

 

Minimal or reduced communication:

 

  • Merespons sesuatu dengan lambat.

  • Menanggapi pembicaraan hanya dengan satu kata atau kalimat yang sangat pendek.

  • Lebih sering bergumam atau berbisik.

  • Mengubah intonasi suara, misalnya berbicara seperti robot.

 

Diagnosis Mutisme Selektif

 

Pada dasarnya, penegakan diagnosis mutisme selektif dilakukan berdasarkan gejala dan perilaku pasien. Maka dari itu, dokter dapat melakukan wawancara medis (anamnesis) guna mengetahui keluhan, pengalaman, atau faktor-faktor lain yang berkontribusi terhadap kondisi ini.

 

Setelah itu, dokter akan menyesuaikan kondisi pasien dengan kriteria mutisme selektif yang dijelaskan dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th Edition (DSM-5). Berdasarkan kriteria tersebut, seseorang dapat didiagnosis mengalami mutisme selektif apabila mengalami kondisi berikut ini:

 

  • Tidak berbicara dalam situasi sosial tertentu secara konsisten, namun tidak kesulitan untuk berbicara saat berada pada situasi yang lain.

  • Perilaku tidak berbicara tersebut telah memengaruhi kehidupan sosial, sekolah, pekerjaan, ataupun ketiganya.

  • Kondisi ini telah berlangsung selama lebih dari satu bulan.

  • Kesulitan berbicara bukan karena tidak bisa memahami bahasa yang digunakan oleh orang lain.

  • Kesulitan berbicara bukan disebabkan oleh gangguan komunikasi lain, seperti gagap, dan tidak  berkaitan dengan gangguan kejiwaan lain, seperti autisme, schizophrenia spectrum disorder, atau kondisi lain yang melibatkan psikosis.

 

Pemeriksaan fisik pada anak mungkin akan menunjukkan tanda-tanda fisik dari kecemasan, seperti peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah, dan tangan atau kaki berkeringat. Anak yang berusia lebih tua bisa menunjukkan perilaku agresif ketika diperiksa, misalnya menolak atau marah saat akan diperiksa.

 

Pengobatan Mutisme Selektif

 

Selective mutism biasanya akan membaik seiring dengan bertambahnya usia. Namun, kondisi ini juga bisa berlanjut dan bertahan hingga penderitanya beranjak dewasa, terutama jika tidak segera ditangani dengan tepat. Maka dari itu, sangat penting untuk mengatasi selective mutism sesegera mungkin.

 

Pada dasarnya, pengobatan mutisme selektif berfokus untuk meredakan cemas yang membuat seseorang tidak dapat berbicara. Adapun beberapa metode yang dapat dilakukan untuk menangani mutisme selektif pada orang dewasa maupun anak-anak adalah:

 

  • Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy), untuk membantu mengubah pola pikir negatif mengenai diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitar. Selain itu, terapi ini juga dapat dilakukan untuk mengubah perilaku pasien dalam menghadapi rasa cemas. Salah satu contoh terapi perilaku kognitif yang dapat dilakukan untuk menangani mutisme selektif adalah social communication anxiety treatment (S-CAT). Dalam terapi ini, dokter dapat melakukan teknik komunikasi komunikasi tertentu, terutama pada pasien anak-anak. Teknik komunikasi tersebut, yaitu:

    • Duduk di sebelah anak, dan bukan di hadapannya.

    • Menarik perhatian anak dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan dan melibatkan anak, bukan memusatkan semua perhatian padanya.

    • Mengajak anak untuk berpikir dan bukan langsung bertanya kepadanya.

    • Memberikan waktu yang cukup bagi anak untuk merespons, bukan terus-menerus berbicara dengannya.

    • Tetap melanjutkan percakapan meskipun anak masih belum mau merespons secara verbal.

    • Menerima respons verbal secara normal dan bukan dengan memuji anak secara berlebihan.

  • Terapi keluarga. Apabila mutisme selektif dianggap berhubungan dengan interaksi dalam keluarga, dokter dapat merekomendasikan pasien untuk menjalani terapi keluarga. Kerja sama dan pengertian perlu dibangun di dalam keluarga, termasuk orang tua dan saudara pasien untuk membantu mengurangi ansietas yang dialami pasien.

  • Penggunaan obat-obatan, seperti selective-serotonin reuptake inhibitors (SSRIs).

 

Mutisme selektif merupakan kondisi perlu ditangani dengan tepat agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Maka dari itu, ada baiknya untuk segera melakukan konseling dengan Psikiatri apabila menemukan gejala-gejala yang mengarah pada selective mutism pada anak.

 

Atau, agar lebih praktis, Siloam Hospitals juga menyediakan layanan Telekonsultasi yang dapat memudahkan Anda untuk melakukan konsultasi dengan dokter secara virtual. Layanan ini dapat diakses melalui fitur yang tersedia pada aplikasi MySiloam.

 

telechat (1)

 

message

ArticleDetail