Sindrom Ogilvie - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Sindrom Ogilvie - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

15 Mei 2025 4 menit waktu baca
sindrom Ogilvie

Acute colonic pseudo-obstruction (ACPO) atau juga dikenal dengan sindrom Ogilvie (Ogilvie syndrome) adalah kondisi yang terjadi ketika usus besar mengalami kelumpuhan secara tiba-tiba. Kondisi ini dapat terjadi karena adanya gangguan sistem motorik pada usus besar. Mari pahami lebih lanjut mengenai sindrom Ogilvie melalui artikel berikut ini.

 

Apa itu Sindrom Ogilvie?

 

Acute colonic pseudo-obstruction atau sindrom Ogilvie merupakan salah satu jenis intestinal pseudo-obstruction (obstruksi semu usus) pada usus besar tanpa adanya penyumbatan fisik, kondisi ini  dapat terjadi secara tiba-tiba dan bersifat sementara. Terhentinya pergerakan usus dapat menyebabkan sisa-sisa makanan menumpuk di dalam saluran pencernaan. Akibatnya, dinding saluran pencernaan dapat mengalami dilatasi (melebar).

 

Kondisi ini dapat membuat penderitanya mengalami sejumlah gejala, seperti nyeri perut, perut kembung, mual dan muntah, hingga diare dan/atau konstipasi meski tidak ada yang menghalangi atau menyumbat saluran pencernaan secara fisik.

 

Penyebab Sindrom Ogilvie

 

Penyebab sindrom Ogilvie masih belum diketahui secara pasti. Namun, para ahli menduga bahwa kondisi ini disebabkan oleh disfungsi sistem saraf otonom. Sistem saraf tersebut berfungsi mengontrol gerakan otot secara tidak sadar (involuntary movement) pada usus (gerak peristaltik).

 

Adapun kondisi-kondisi akut yang bisa memengaruhi fungsi sistem saraf otonom dan memicu terjadinya Ogilvie syndrome adalah:

 

  • Serangan jantung.

  • Gagal jantung kongestif.

  • Cedera.

  • Infeksi parah, seperti pneumonia atau sepsis.

  • Baru menjalani operasi perut terbuka atau operasi jantung terbuka.

  • Riwayat bedah ortopedi (seperti operasi penggantian pinggul).

  • Riwayat operasi caesar (C-section).

  • Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti antipsikotik, kortikosteroid, imunosupresan, opioid, dan sebagainya.

 

Di samping itu, sindrom Ogilvie juga berisiko dialami oleh seseorang yang menderita penyakit tertentu, seperti:

 

 

Di sisi lain, sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami sindrom ini adalah sebagai berikut:

 

  • Sedang tirah baring (bed rest) dalam jangka waktu yang lama.

  • Lanjut usia.

  • Menderita beberapa kondisi medis yang bisa memicu sindrom Ogilvie.

  • Sedang menggunakan beberapa jenis obat-obatan secara sekaligus.

 

Gejala Sindrom Ogilvie

 

Sindrom Ogilvie dapat mengganggu dan menghentikan pergerakan makanan yang telah dikonsumsi dalam saluran pencernaan. Akibatnya, makanan tersebut akan tertimbun dalam usus besar dan disertai dengan penumpukan gas. Gejala dan tanda penyakit ini biasanya muncul dalam waktu 3–5 hari, namun bisa juga berkembang lebih akut, terkadang dalam waktu 48 jam. Adapun beberapa gejala umum dari sindrom Ogilvie, di antaranya:

 

  • Sakit perut.

  • Perut membengkak.

  • Perut kembung.

  • Kehilangan nafsu makan.

  • Penurunan berat badan.

  • Mual dan muntah.

  • Konstipasi dan/atau diare.

 

Diagnosis Sindrom Ogilvie

 

Untuk menegakkan diagnosis sindrom Ogilvie, dokter akan terlebih dahulu melakukan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui tentang gejala dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik guna mengevaluasi tanda-tanda fisik yang dialami pasien.

 

Setelah itu, beberapa pemeriksaan penunjang yang bisa digunakan untuk membantu mengonfirmasi diagnosis Ogilvie syndrome adalah:

 

  • Rontgen abdomen.

  • Manometri anorektal.

  • Barium swallow, barium small bowel follow-through, atau barium enema.

  • Tes darah, seperti darah lengkap, CRP, laktat, fungsi hati, kadar elektrolit, dan fungsi tiroid.

  • Kolonoskopi.

  • CT scan.

  • Manometri antroduodenal.

  • Gastric emptying radionuclide scan.

  • Intestinal radionuclide scan.

 

Pengobatan Sindrom Ogilvie

 

Tujuan utama pengobatan sindrom Ogilvie adalah dekompresi usus yang mendesak. Metode pengobatannya cenderung beragam, tergantung dari seberapa besar pelebaran yang terjadi pada usus besar dan risiko komplikasi yang mungkin muncul. Pilihan pengobatan untuk kondisi ini meliputi terapi konservatif dengan observasi, intervensi farmakologis langsung, dan terapi endoskopi.

 

Apabila memungkinkan, dokter dapat menangani kondisi ini secara konservatif dengan perawatan suportif serta observasi ketat. Perawatan konservatif tersebut, termasuk:

 

  • Mengobati penyakit yang mendasarinya.

  • Menghentikan penggunaan obat-obatan yang mungkin berkontribusi terhadap kemunculan sindrom ini.

  • Mengistirahatkan usus. Hal ini dilakukan dengan mengarahkan pasien agar tidak mengonsumsi makanan melalui mulut untuk sementara.

  • Pemberian cairan infus untuk menjaga hidrasi dan menangani ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh.

  • Menyarankan pasien untuk melakukan aktivitas fisik ringan, seperti berjalan kaki guna mendorong pergerakan usus.

  • Penggunaan selang nasogastrik untuk menyedot kelebihan gas dan cairan pada perut.

  • Penggunaan tabung rektal yang dimasukkan melalui rektum untuk mengeluarkan gas dan cairan dalam saluran pencernaan.

  • Pemantauan rutin dengan tes pencitraan dan tes darah.

 

Namun, jika pelebaran diameter usus telah melebihi 12 cm atau perawatan konservatif tidak efektif menangani sindrom Ogilvie, dokter mungkin perlu melakukan intervensi yang meliputi:

 

  • Dekompresi kolonoskopi, untuk menyedot dan mengeluarkan gas berlebih dari usus besar, lalu dilanjutkan dengan prosedur enema (memasukkan cairan ke dalam kolon melalui anus) menggunakan kateter. Hal ini dapat membantu meringankan pseudo-obstruction apabila terapi medis lain gagal atau tidak aman dilakukan.

  • Injeksi neostigmin melalui infus. Obat ini dapat membantu “membangunkan” otot di usus besar sehingga bisa menghasilkan gerak peristaltik kembali.

  • Kolektomi/kolostomi, yaitu prosedur pengangkatan sebagian usus besar yang bermasalah. Prosedur ini menjadi langkah terakhir yang bisa dilakukan apabila usus besar terus mengalami dilatasi meski telah mendapatkan intervensi dan pasien berisiko mengalami komplikasi, seperti perforasi usus atau nekrosis.

 

Komplikasi Sindrom Ogilvie

 

Sindrom Ogilvie biasanya dapat sembuh dengan sendirinya atau setelah menjalani perawatan suportif maupun intervensi. Namun, apabila kondisi ini tidak disadari dalam jangka waktu yang lama dan pelebaran usus terus memburuk (hingga diameter usus melebihi 12 cm), maka hal tersebut berisiko menimbulkan sejumlah komplikasi, di antaranya:

 

  • Iskemia, kondisi ini bisa menyebabkan kolitis iskemik dan nekrosis.

  • Perforasi.

  • Sepsis.

 

Agar terhindar dari komplikasi tersebut, penting untuk segera menangani sindrom Ogilvie dengan tepat. Maka dari itu, segera konsultasikan kondisi Anda dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Siloam Hospitals jika mengalami gejala-gejala yang mengarah pada sindrom ini.

 

Di samping itu, Siloam Hospitals juga menyediakan paket Skrining Sistem Pencernaan Lengkap yang dapat dipesan sebagai upaya pencegahan serta deteksi dini masalah pencernaan. Paket skrining kesehatan tersebut dapat dipesan dengan mudah melalui aplikasi MySiloam.

 

Aplikasi My Siloam

 

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail