11 Mitos dan Fakta Epilepsi yang Sebaiknya Dipahami
Kesehatan Tubuh

11 Mitos dan Fakta Epilepsi yang Sebaiknya Dipahami

29 April 2025 6 menit waktu baca
fakta dan mitos epilepsi

Penyakit epilepsi adalah salah satu gangguan neurologis yang ditandai dengan kejang berulang karena adanya aktivitas listrik yang tidak teratur di otak. Gangguan neurologis ini sering kali menimbulkan banyak kesalahpahaman dan stereotip di masyarakat. Sehingga, muncul berbagai mitos dan kekeliruan seputar kondisi ini. Oleh karenanya, mari simak penjelasan seputar fakta epilepsi untuk meluruskan berbagai mitos yang ada serta membantu meningkatkan kesadaran terhadap penyakit epilepsi.

 

Mengenal Berbagai Fakta Epilepsi

 

Epilepsi adalah kondisi munculnya gejala kejang berulang yang tak terduga dan tak terkendali. Kondisi ini dapat menyerang siapa saja dan biasanya berkaitan dengan beberapa faktor risiko seperti kelainan bawaan, tumor otak, cedera kepala, infeksi otak, hingga stroke. Ada beberapa fakta epilepsi yang perlu dipahami, berikut masing-masing penjelasannya.

 

1. Terdapat Dua Jenis Kejang Epilepsi

 

Berdasarkan bagian otak yang terganggu pertama kali, terdapat dua jenis kejang epilepsi, yaitu kejang umum dan kejang parsial atau fokal. Inilah salah satu fakta epilepsi yang jarang diketahui.

 

Kejang umum terjadi pada kedua hemisfer otak yang menyebabkan munculnya kejang di seluruh tubuh, sehingga membuat penderitanya tidak sadarkan diri. Sementara itu, kejang parsial atau fokal adalah jenis kejang yang terjadi pada sebagian otak saja. Kejang parsial masih dibagi lagi menjadi dua, yaitu kejang parsial sederhana dan kompleks. Penderita dengan kejang parsial sederhana hanya mengalami kejang di bagian tubuh tertentu saja, misalnya tangan. 

 

Pada kondisi ini, penderita masih dalam keadaan sadar. Sementara itu, kejang parsial kompleks dapat mengganggu kesadaran penderita seperti kebingungan atau setengah sadar.

 

2. Penyebab Epilepsi 

 

Fakta epilepsi berikutnya berkaitan dengan penyebabnya. Epilepsi sering kali dikaitkan dengan kondisi-kondisi non medis yang bersifat mistik. Sehingga, kesadaran masyarakat terhadap penanganan yang tepat pada epilepsi masih rendah.

 

Padahal, epilepsi adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh gangguan aktivitas listrik pada otak. Berdasarkan penyebabnya, epilepsi dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu epilepsi idiopatik dan epilepsi simptomatik. Epilepsi idiopatik atau disebut juga epilepsi primer merupakan jenis epilepsi yang tidak diketahui penyebabnya (misalnya karena kelainan genetik). 

 

Sementara itu, epilepsi simptomatik atau disebut juga epilepsi sekunder merupakan jenis epilepsi yang dapat diketahui penyebabnya seperti karena ensefalitis, meningitis, cedera otak traumatis, sistiserkosis, tumor otak, atau stroke.

 

3. Kejang Tidak Hanya Dialami Penderita Epilepsi

 

Gejala utama epilepsi adalah kejang yang muncul secara tiba-tiba, dapat berlangsung dalam beberapa saat, dan dapat terjadi berulang kali. Akan tetapi, perlu diketahui juga bahwa kejang ini tidak hanya terjadi pada penderita epilepsi. Gejala kejang bisa terjadi akibat demam tinggi, hipoglikemia (kadar gula darah rendah), gegar otak, hingga konsumsi alkohol berlebihan. Karenanya, kejang tidak selalu berkaitan dengan epilepsi.

 

4. Epilepsi dapat Dicegah

 

Fakta epilepsi berikutnya adalah penyakit ini bisa dicegah. Meski munculnya gejala kejang terjadi secara tiba-tiba dan tidak dapat diprediksi, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah atau menurunkan risiko penyakit epilepsi. Pencegahan bisa dilakukan dengan memberikan vaksinasi kepada anak-anak, melakukan olahraga secara rutin, menjaga tekanan darah dan kadar kolesterol normal, serta menghindari konsumsi alkohol dan tidak merokok.

 

5. Gejala Epilepsi

 

Fakta epilepsi yang tak kalah penting untuk dipahami adalah berkaitan dengan gejalanya. Penyakit epilepsi adalah kondisi yang memerlukan penanganan atau pertolongan pertama dengan cepat dan tepat. Sehingga, penting bagi masyarakat, khususnya orang-orang yang berada di dekat penderita untuk memahami gejala epilepsi.

 

Selain kejang yang terjadi secara spontan, beberapa gejala umum dari epilepsi adalah mata mengedip dengan cepat, mata terbuka dan arah tatapan ke langit-langit, sadar tapi terlihat bingung atau hilang kesadaran setelah kejang selama beberapa menit hingga jam, otot terasa kaku, gerakan menyentak pada tangan dan kaki yang tidak terkendali, tiba-tiba terjatuh karena kehilangan kesadaran. Jika hal ini terjadi, maka pertolongan pertama epilepsi perlu segera diberikan.

 

6. Dapat Dialami oleh Siapa Saja

 

Tak sedikit yang beranggapan bahwa epilepsi merupakan penyakit anak-anak. Meski usia anak-anak lebih rentan mengalami epilepsi, tak menutup kemungkinan bahwa kondisi ini juga bisa terjadi pada orang dari segala kelompok usia dan bisa muncul kapan saja.

 

Mengenal Berbagai Mitos Epilepsi

 

Setelah mengetahui beberapa fakta epilepsi, kini saatnya memahami beberapa mitos epilepsi untuk menghindari kesalahpahaman terhadap penyakit ini.

 

1. Tidak Bisa Diobati

 

Mitos yang mengatakan bahwa epilepsi merupakan penyakit mistis membuat masyarakat lebih memilih pengobatan alternatif non medis untuk mengatasi kejang akibat epilepsi. Padahal, epilepsi merupakan suatu kondisi medis yang bisa dikontrol dengan mengonsumsi obat-obatan antiepilepsi secara rutin.

 

Di samping mengonsumsi obat-obatan antiepilepsi, penderita epilepsi juga disarankan untuk menerapkan gaya hidup sehat dan menghindari faktor-faktor yang dapat memicu kambuhnya gejala epilepsi, seperti dehidrasi, demam, stres, kelelahan, kurang tidur, dan pencetus serangan kejang lainnya.

 

2. Penyakit Langka

 

Anggapan bahwa epilepsi merupakan penyakit langka tidaklah benar. Pasalnya, penyakit ini banyak dialami oleh masyarakat, di mana sebagian kasus epilepsi terjadi bersamaan dengan atau sebagai akibat dari penyakit lain, seperti autisme, cerebral palsy, Alzheimer, dan cedera otak traumatik.

 

Bahkan, berdasarkan data dari WHO, terdapat sekitar 50 juta orang mengidap epilepsi di seluruh dunia dan menjadikannya sebagai salah satu gangguan neurologi yang cukup umum terjadi di seluruh dunia.

 

3. Penyakit Menular

 

Penderita epilepsi terkadang mengeluarkan busa dari mulut saat gejala kejangnya sedang kambuh. Sayangnya, banyak yang beranggapan bahwa busa tersebut dapat menularkan epilepsi, sehingga masyarakat tidak berani memberikan pertolongan.

 

Padahal, busa di mulut penderita epilepsi muncul dari air liur di dalam mulut. Apabila penderita mengalami kejang ketika air liur sedang penuh atau berkumpul di rongga mulut, maka kejang tersebut akan mendorong air liur keluar dari mulut. 

 

Lantas, apakah epilepsi menular? Anggapan bahwa epilepsi menular adalah salah. Pasalnya, epilepsi bukan disebabkan oleh penyebaran virus atau bakteri, melainkan karena adanya gangguan di sistem saraf pusat.

 

4. Hubungan Epilepsi dan Kopi

 

Ada pula yang beranggapan bahwa orang yang mengalami kejang harus diberikan kopi agar kejang berhenti dan tidak kambuh lagi. Anggapan mengenai manfaat kopi untuk menghentikan kejang epilepsi tersebut tidaklah benar. Ketika sedang terjadi kejang, sebaiknya miringkan tubuhnya dan hindari memasukkan apa pun ke dalam mulutnya.

 

5. Penderita Epilepsi Tidak Bisa Bekerja, Menikah, dan Hamil

 

Perlu diketahui bahwa epilepsi tidak berpengaruh pada kecerdasan dan intelegensi penderitanya. Sehingga, penderita epilepsi tetap bisa bekerja dengan normal seperti orang pada umumnya. Hanya saja, beberapa orang dengan kondisi epilepsi yang parah mungkin akan mengalami kesulitan dalam bekerja.

 

Muncul pula pertanyaan di tengah-tengah masyarakat mengenai apakah penderita epilepsi bisa hamil? Perlu diketahui bahwa epilepsi tidak memengaruhi kemampuan wanita untuk hamil dan memiliki anak, sehingga penderita epilepsi masih bisa menikah dan hamil.

 

Namun, perlu diingat bahwa ibu hamil yang mengonsumsi obat-obatan antiepilepsi memiliki risiko melahirkan bayi dengan cacat lahir seperti neural tube defects lebih tinggi hingga 2–3 kali lipat. Jadi, apabila penderita epilepsi merencanakan kehamilan, sebaiknya diskusikan dengan dokter spesialis kandungan dan dokter spesialis saraf terlebih dahulu mengenai langkah-langkah penanganan selama kehamilan apa yang harus dijalani.

 

Itulah informasi seputar mitos dan fakta epilepsi yang penting untuk dipahami. Segera berikan pertolongan pertama dan hubungi Siloam Hospitals terdekat apabila kerabat terdekat mengalami kejang akibat epilepsi agar mendapatkan penanganan secara tepat dari dokter.

 

Namun, jika ingin melakukan pemeriksaan kesehatan tubuh lainnya, Anda dapat memanfaatkan fitur Cari Dokter atau  aplikasi MySiloam untuk memudahkan akses pelayanan kesehatan di Siloam Hospitals. Fitur tersebut telah dilengkapi dengan informasi mengenai jadwal dokter, pembuatan janji temu dengan dokter terkait, cek hasil pemeriksaan kesehatan, dan berbagai manfaat lainnya.

 

Maka dari itu, segera unduh aplikasinya sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda serta keluarga #BersamaSiloam!

 

Laboratory Digital Booking

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail