Kesehatan Tubuh
Osteoporosis di Usia Muda: Gejala, Penyebab, & Pengobatannya

Table of Contents
Osteoporosis adalah suatu kondisi ketika kepadatan tulang berkurang yang umumnya diderita oleh orang lanjut usia. Mesikpun demikian, kondisi ini juga dapat ditemukan pada individu yang lebih muda atau berusia di bawah 40 tahun. Tingkat kepadatan tulang atau bone mineral density (BMD) yang rendah menjadi salah satu faktor utama terjadinya osteoporosis di usia muda.
Selain BMD, terdapat faktor lain yang menyebabkan osteoporosis di usia muda. Untuk mengetahui gejala, penyebab, diagnosis, dan cara mengobatinya dengan tepat, simak pembahasan berikut ini.
Apa itu Osteoporosis di Usia Muda?
Meski jarang terjadi, osteoporosis dapat dialami oleh anak-anak (juvenile) hingga dewasa muda (di bawah usia 50 atau 40 tahun). Pada orang dewasa, osteoporosis didefinisikan sebagai BMD yang diukur dengan dual energy X-ray absorptiometry (DXA) dengan skor-T kurang dari atau sama dengan −2,5.
Untuk orang yang berusia di bawah 50 tahun, skor-T dan skor-Z digunakan unuk mengukur tingkat kepadatan tulang. International Society for Clinical Densitometry (ICSD) mengusulkan BMD rendah ketika skor-Z kurang dari atau sama dengan −2,0 pada mereka yang berusia di bawah 40 tahun.
International Osteoporosis Foundation mendefinisikan BMD rendah pada orang yang berusia di bawah 20 tahun sebagai skor-Z di bawah −2,0 dan sebagai skor-T di bawah −2,5 pada mereka yang berusia 20 tahun dengan penyakit kronis yang diketahui memengaruhi metabolisme tulang.
Pada anak-anak, diagnosis osteoporosis cenderung lebih rumit karena pengukuran BMD dengan prosedur DXA sangat dipengaruhi oleh tinggi pasien dan pubertas. Fraktur juga sering kali terjadi pada masa pertumbuhan sehingga tidak semata-mata bisa dianggap sebagai tanda osteoporosis dini.
Penyebab Osteoporosis di Usia Muda
Osteoporosis dini dapat disebabkan oleh kesehatan tulang yang tidak baik. Adapun beberapa kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi kesehatan tulang dan meningkatkan risiko osteoporosis di usia muda adalah:
-
Peradangan pada organ-organ tertentu, seperti:
-
Penyakit radang usus, seperti penyakit Crohn atau kolitis ulseratif.
-
Gangguan endokrin, seperti:
-
Hiperparatiroidisme (kadar hormon paratiroid dalam darah lebih tinggi dari kadar normal).
-
Sindrom Cushing (sekumpulan gejala akibat thormon kortisol di dalam tubuh terlalu tinggi).
-
Defisiensi hormon pertumbuhan.
-
Kanker.
Faktor-faktor kesehatan tersebut dapat menyebabkan kerapuhan tulang secara langsung. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa efek samping pengobatan kondisi-kondisi tersebut juga dapat berdampak pada kepadatan tulang.
Sebagai contoh, glukokortikoid yang merupakan salah satu metode pengobatan untuk kondisi peradangan dapat memicu terjadinya osteoporosis pada anak-anak hingga orang dewasa, terlebih jika dikonsumsi pada dosis tinggi dan/atau pada jangka waktu yang lama.
Selain itu, beberapa faktor dan kebiasaan sehari-hari berikut juga berpengaruh pada peningkatan risiko osteoporosis dini:
-
Jarang berolahraga.
-
Kekurangan vitamin D.
-
Asupan kalsium dan protein yang rendah.
-
Perokok berat.
-
Peminum alkohol berat.
-
Memiliki anggota keluarga yang menderita osteoporosis atau riwayat patah tulang pinggul.
Gejala Osteoporosis di Usia Muda
Penderita osteoporosis umumnya tidak merasakan penurunan kepadatan tulang sebelum mengalami patah tulang atau fraktur. Efek patah tulang pada penderita osteoporosis akan berbeda dengan individu yang tidak mengalami kondisi tersebut.
Tulang rapuh cenderung lebih mudah patah tanpa faktor penyebab sekunder jelas, baik pada anak-anak maupun individu yang baru menginjak usia dewasa. Kondisi ini perlu dievaluasi lebih lanjut untuk diagnosis penyakit tulang yang disebabkan oleh genetik mendasar seperti osteogenesis imperfecta (OI) dan penyebab genetik lainnya.
Gejala osteoporosis di usia muda dapat dilihat pada kecenderungan individu yang mengalami patah tulang pada bagian punggung, pinggang, pergelangan tangan, dan lengan bawah. Osteoporosis biasanya tidak menimbulkan rasa sakit, namun penderitanya kerap kali mengalami penurunan tinggi badan dan kelainan bentuk tulang belakang.
Diagnosis Osteoporosis di Usia Muda
Untuk mendiagnosis osteoporosis di usia muda, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) untuk menanyakan keluhan pasien, menggali riwayat kesehatan pasien, dan riwayat kesehatan keluarga.
Pasien biasanya datang dengan keluhan nyeri di punggung bawah, pinggul, lutut, pergelangan kaki, dan kaki. Selain nyeri, pasien mungkin juga akan mengalami keluhan seperti kesulitan berjalan, atau bahkan mengalami patah tulang di ekstremitas bawah seperti pada kaki atau pergelangan kaki.
Dokter kemudian akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, seperti meraba tulang, mengevaluasi rentang gerak sendi yang dikeluhkan, dan meminta pasien untuk berjalan. Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang seperti X-ray dan pemindaian untuk melihat kepadatan tulang menggunakan DXA scan.
Prosedur diagnosis osteoporosis di usia muda didasarkan pada skor BMD, skor risiko fraktur (FRAX), dan kondisi kesehatan mendasar atau faktor sekunder. Tes DXA sering kali digunakan untuk mengukur skor BMD yang mencakup keseluruhan kerangka dan bagian tubuh pasien yang berisiko besar mengalami fraktur, seperti tulang belakang dan pinggul.
Dari prosedur tes DXA yang dilakukan, dua hasil yang masing-masing berisi skor-T dan skor-Z akan dianalisis. Skor-T menjadi pembanding BMD pasien dengan individu yang baru menginjak usia dewasa dan dalam kondisi sehat. Di sisi lain, skor-Z digunakan untuk membandingkan BMD pasien dengan individu yang memiliki ukuran tubuh, usia, dan jenis kelamin serupa.
Cara Mengobati Osteoporosis di Usia Muda
Pengobatan untuk pasien dengan kondisi osteoporosis di usia muda meliputi cara-cara meningkatkan kekuatan tulang, pencegahan terjadinya fraktur, dan mengatasi penyebab yang mendasari. Berikut beberapa cara umum mengobati osteoporosis di usia muda:
-
Obat untuk meningkatkan kekuatan tulang, seperti bifosfonat.
-
Pencegahan risiko jatuh di rumah untuk mengurangi risiko fraktur, seperti memasang lapisan lantai anti terpeleset (non-slip mat).
-
Mengatur program diet dengan mencukupi asupan vitamin D, kalsium, protein.
-
Berolahraga secara teratur, namun pasien harus tetap berhati-hati dan menghindari olahraga yang memiliki risiko tinggi untuk menyebabkan cidera atau patah tulang.
-
Menghindari konsumsi minuman beralkohol.
-
Mengobati kondisi-kondisi kesehatan lain yang memicu terjadinya osteoporosis.
Perlu dicatat bahwa gejala dan penyebab di atas juga dapat mengindikasikan gangguan kesehatan lainnya. Agar mendapatkan hasil diagnosis yang akurat, Anda perlu mengonsultasikan kondisi Anda dengan Dokter Spesialis Ortopedi di Siloam Hospitals terdekat.
Lebih lanjut, Anda pun dapat memesan Paket DXA / DEXA Scan Seluruh Tubuh dalam kategori Medical Check Up. Pemeriksaan ini menggunakan teknologi DEXA yang bermanfaat untuk mendeteksi osteoporosis, mengukur risiko patah tulang, memantau efektivitas terapi osteoporosis, serta mengatur komposisi tubuh yang terdiri dari lemak dan massa otot.
Perlu diperhatikan bahwa dokter akan memberikan anjuran pengobatan yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi pasien. Prosedur pemeriksaan dan pengobatan pun dapat bervariasi tergantung dengan ketersediaan fasilitas kesehatan yang ada di masing-masing rumah sakit.
Gunakan aplikasi MySiloam untuk membuat janji temu dengan dokter, pesan paket kesehatan, dan cek hasil pemeriksaan secara online. Mari unduh MySiloam untuk memastikan kemudahan pemeriksaan kesehatan Anda dan keluarga.
Sumber
Medical News Today. What to know about early onset osteoporosis. Diakses pada 2024 | Makitie, Outy., Carola ZIlikens. Early-Onset Osteoporosis. Diakses pada 2024 | Medscape. Pediatric Osteoporosis Medication. Diakses pada 2024 | Webmd. What Is Juvenile Osteoporosis? What Are the Types?. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed
Ortopedi (Tulang)
Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini






