Pola Hidup Sehat
Apa itu Vulvitis? Ini Penyebab, Gejala, & Cara Mengobatinya

Table of Contents
Vulvitis adalah kondisi medis yang ditandai dengan peradangan pada vulva. Pada dasarnya, vulvitis merupakan kondisi yang cukup sering terjadi dan bisa dialami oleh wanita dari berbagai kalangan usia. Perlu diketahui bahwa vulvitis bisa menjadi gejala dari penyakit tertentu, seperti iritasi, infeksi, atau bahkan kanker vulva.
Mari kenali penyebab, gejala, hingga cara mengobati vulvitis selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Vulvitis?
Vulvitis adalah peradangan pada vulva yang ditandai dengan rasa nyeri, perih, dan gatal di area vulva. Sebagai informasi, vulva merupakan lipatan kulit pada bagian paling luar sistem reproduksi wanita. Bagian ini terdiri dari beberapa struktur, yaitu labia mayor, labia minor, dan klitoris.
Penyebab Vulvitis
Vulvitis bisa disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari infeksi, iritasi, atau bahkan penyakit tertentu. Vulva adalah bagian tubuh yang sangat lembap dan hangat, sehingga dapat menyebabkan lipatan kulit tersebut lebih rentan terhadap iritasi dan infeksi.
Adapun sejumlah kondisi yang kerap menyebabkan seseorang mengalami vulvitis adalah sebagai berikut.
-
Infeksi bakteri, virus, atau jamur.
-
Iritasi akibat penggunaan tisu toilet, pembalut, sabun atau pewangi vagina, pakaian dalam yang ketat, atau kegiatan tertentu, seperti berenang, berkuda, dan bersepeda.
-
Kebersihan vagina yang kurang terjaga.
-
Penyakit kulit seperti eksim.
-
Rendahnya kadar hormon estrogen yang dapat menyebabkan vagina menjadi terlalu kering.
-
Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti terapi hormon, obat ansietas, atau antibiotik yang berlebihan.
-
Atrofi vagina (penipisan, pengeringan, dan peradangan pada dinding vagina) yang terjadi setelah menopause.
-
Vulvodynia, yaitu rasa nyeri yang terjadi pada vulva. Belum diketahui secara pasti apa penyebab kondisi ini. Namun, vulvodynia diduga bisa dipicu oleh beberapa kondisi, seperti cedera, iritasi, kerusakan saraf di sekitar vulva, riwayat infeksi vagina, perubahan hormon, alergi atau kulit sensitif, hingga kekakuan pada otot dasar panggul.
-
Kanker vulva.
Gejala Vulvitis
Gejala khas vulvitis adalah munculnya sensasi terbakar, panas, dan nyeri di sekitar vulva atau organ intim kewanitaan. Di samping itu, penderita vulvitis mungkin juga mengalami sejumlah gejala umum lain. Adapun gejala-gejala yang dimaksud bisa meliputi:
-
Bengkak dan kemerahan pada bibir vagina atau vulva.
-
Adanya benjolan berisi cairan (blister) di area vagina.
-
Kulit vagina menjadi menebal dan bersisik.
Komplikasi Vulvitis
Jika tidak segera ditangani dengan tepat, vulvitis dapat menyebabkan gangguan psikoseksual karena rasa cemas dan gangguan psikologis lainnya yang bisa memengaruhi kualitas hubungan seksual. Selain itu, kondisi ini juga rentan membuat penderitanya mengalami gangguan tidur akibat rasa gatal pada organ intim pada malam hari.
Diagnosis Vulvitis
Langkah awal yang dapat dilakukan dokter dalam mendiagnosis vulvitis adalah dengan melakukan anamnesis atau wawancara medis terkait dengan gejala, riwayat kesehatan, dan kebiasaan pasien dalam menjaga kebersihan organ intim.
Selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, seperti pemeriksaan panggul dan vulva atau vagina untuk menilai kondisi organ tersebut secara keseluruhan. Jika diperlukan, dokter juga dapat mengarahkan pasien untuk melakukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti tes urine, tes darah, pap smear, serta biopsi guna mendeteksi penyebab peradangan pada vulva yang lebih serius, seperti penyakit menular seksual atau kanker vulva.
Selain itu, pemeriksaan alergi juga bisa dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan dermatitis kontak yang dapat menyebabkan peradangan pada vulva.
Cara Mengobati Vulvitis
Pada dasarnya, pengobatan vulvitis dilakukan sesuai dengan kondisi pasien dan penyebab yang mendasarinya. Jika disebabkan oleh iritasi dan peradangan, dokter dapat menyarankan pasien untuk melakukan sejumlah perawatan mandiri di rumah, seperti:
-
Menghentikan penggunaan produk yang bisa menyebabkan iritasi pada vagina, seperti sabun dan cairan pembersih atau pewangi organ intim wanita.
-
Membersihkan area organ intim dengan air mengalir dari arah depan ke belakang setiap selesai buang air kecil atau besar. Setelah itu, pastikan untuk mengeringkan area kewanitaan dengan tisu atau kain bersih yang lembut.
-
Menggunakan pakaian dalam yang longgar dan berbahan dasar katun.
-
Tidak menggaruk atau memegang area organ intim yang gatal untuk menghindari infeksi lebih lanjut.
-
Rutin melakukan sitz bath atau terapi air hangat untuk membantu meredakan rasa nyeri dan gatal di area organ intim.
Selain itu, dokter juga dapat meresepkan beberapa obat untuk menangani vulvitis yang disesuaikan dengan gejala dan penyebabnya, di antaranya adalah:
-
Pemberian antibiotik jika vulvitis disebabkan oleh infeksi bakteri.
-
Pemberian antijamur jika vulvitis disebabkan oleh infeksi jamur.
-
Pemberian kortikosteroid, berupa obat oral atau salep untuk meredakan peradangan.
-
Pemberian antihistamin untuk meredakan gatal di area organ intim.
-
Terapi hormon estrogen jika vulvitis disebabkan oleh rendahnya kadar estrogen.
-
Tindakan operasi jika vulvitis disebabkan oleh vulvodynia.
Pencegahan Vulvitis
Pencegahan vulvitis dapat dilakukan dengan menghindari faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, mulai dari menjaga vulva dan vagina tetap kering hingga menghindari penggunaan kondom yang dilumasi spermisida. Berikut adalah sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya vulvitis:
-
Menjaga vulva dan vagina agar tetap kering, terutama saat sedang menstruasi dan setelah buang air.
-
Membasuh vagina dengan air mengalir yang bersih dari arah depan ke belakang setelah buang air dan berhubungan seksual.
-
Menghindari menggunakan celana atau pakaian dalam yang terlalu ketat. Sebaiknya gunakan celana berbahan katun untuk menjaga kelembapan pada area organ intim wanita.
-
Menghindari penggunaan bahan kimia, seperti sabun atau pewangi kewanitaan karena dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik pada vagina.
-
Membersihkan celana dalam menggunakan sabun pencuci pakaian atau pelembut pakaian yang bebas dari parfum dan pewarna.
-
Menghindari penggunaan kondom yang dilumasi spermisida.
Vulvitis merupakan kondisi yang perlu ditangani dengan tepat agar tidak memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Jika Anda mengalami gejala-gejala vulvitis seperti ulasan di atas, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter secara virtual dari mana pun melalui layanan Telekonsultasi.
Layanan tersebut dapat ditemukan melalui aplikasi MySiloam yang bisa diunduh secara gratis pada smartphone Anda. Selain itu, MySiloam juga dilengkapi dengan fitur-fitur yang dapat membantu Anda mengakses layanan kesehatan dengan lebih cepat, seperti memesan paket kesehatan, cek hasil pemeriksaan, serta membuat appointment dengan dokter Siloam Hospitals terdekat. Mari nikmati kemudahan akses layanan kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Heru Harsojo Oentoeng, M.Repro, Sp.And, SubspSPAP(K), FECSM
Andrologi (Reproduksi Pria)
Subspesialis Konsultan Seksologi dan Pengobatan Anti-penuaan
Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Sriwijaya Palembang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Skrining Pranikah Basic (Wanita)
Skrining Pranikah, Skrining Pria & Wanita
18 Service/Item
Rp8.500.000
TERPOPULER
Skrining Pranikah Advance (Wanita)
Skrining Pranikah, Skrining Pria & Wanita
25 Service/Item
Rp11.000.000
TERPOPULER
Kunjungan Dokter Umum - Homecare
Kunjungan Dokter Umum
Rp650.000
TERPOPULER
Complete Urinalysis (Chem & Sed) / Urine Lengkap
Infeksi, Skrining Ginjal, Urin
1 Service/Item
Rp76.500
TERPOPULER
Routine Test / Urine Rutin (Protein, Glukosa, Sedimen)
Infeksi, Skrining Ginjal, Urin
1 Service/Item
Rp63.000
TERPOPULER
Kunjungan Dokter Umum dan Perawat - Homecare
Kunjungan Dokter Umum
Rp1.100.000







