Kardiomiopati Dilatasi: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Kardiomiopati Dilatasi: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

02 Mei 2025 4 menit waktu baca
kardiomiopati dilatasi

Dilated cardiomyopathy (DCM) atau kardiomiopati dilatasi adalah gangguan otot jantung yang ditandai dengan penipisan otot jantung dan pelebaran pada salah satu atau beberapa ruang jantung. Dalam kebanyakan kasus, DCM bersifat progresif, yang berarti dapat berkembang dan memburuk seiring berjalannya waktu. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa meningkatkan risiko terjadinya gagal jantung hingga mengancam nyawa. Mari simak informasinya di bawah ini.

 

Apa itu Kardiomiopati Dilatasi?

Kardiomiopati dilatasi adalah kondisi yang terjadi ketika ruang jantung, terutama ventrikel (bilik) kiri jantung cenderung membesar secara abnormal. Perlu dipahami, ventrikel kiri jantung memiliki peran penting dalam sirkulasi darah, yaitu memompa darah dari jantung ke seluruh tubuh. Karena itu, penting untuk mewaspadai DCM karena membuat jantung kesulitan dalam menjalankan fungsinya sehingga berisiko menyebabkan gagal jantung.

 

Penyebab Kardiomiopati Dilatasi

Secara umum, dilated cardiomyopathy memiliki kecenderungan untuk berkaitan dengan faktor genetik. Lebih lanjut, kondisi ini kerap berhubungan dengan mutasi pada gen tertentu. Di samping itu, berdasarkan penyebab yang mendasarinya, kardiomiopati dilatasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

 

  • DCM primer: Bersifat idiopatik atau tidak diketahui penyebab pastinya. Diagnosis DCM primer dapat ditegakkan apabila penyebab DCM sekunder lainnya telah disingkirkan.

  • DCM sekunder: Jenis DCM yang dipicu oleh kondisi medis tertentu, seperti:

    • Miokarditis yang berkaitan dengan penyakit Chagas atau penyakit Lyme dan sebagainya.

    • Iskemia jantung, yaitu kondisi ketika otot jantung kekurangan oksigen dari darah.

    • Menderita penyakit jantung tertentu, seperti penyakit jantung koroner, serangan jantung, aritmia, dan penyakit katup jantung.

    • Hipertensi.

    • Efek samping obat-obatan tertentu, misalnya antrasiklin (obat kemoterapi).

    • HIV/AIDS.

    • Penyakit tiroid.

    • Komplikasi yang terjadi pada masa akhir kehamilan atau sesaat setelah proses persalinan.

 

Di sisi lain, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kardiomiopati dilatasi adalah sebagai berikut:

 

Gejala Kardiomiopati Dilatasi

Beberapa penderita DCM mungkin tidak mengalami gejala-gejala tertentu pada tahap awal. Namun, jika sudah semakin memburuk dan memengaruhi fungsi organ jantung, dilated cardiomyopathy bisa memicu terjadinya beberapa gejala berikut ini:

 

  • Nyeri dada.

  • Jantung berdebar (palpitasi).

  • Pusing.

  • Kelelahan.

  • Sesak napas, terutama saat beraktivitas atau rebahan.

  • Pembengkakan (edema) di kaki atau perut.

  • Penurunan kesadaran.

  • Memiliki bunyi jantung abnormal, misalnya murmur jantung.

Diagnosis Kardiomiopati Dilatasi

Dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait dengan keluhan dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan dada menggunakan stetoskop untuk mendengar detak jantung serta suara abnormal dari jantung maupun paru-paru. Lalu, guna membantu menegakkan diagnosis DCM, dokter juga mungkin menggunakan beberapa pemeriksaan penunjang, di antaranya:

 

Pengobatan Kardiomiopati Dilatasi

Pengobatan kardiomiopati dilatasi dapat dilakukan sesuai dengan penyebab yang mendasarinya. Di samping itu, tujuan utama pengobatan kondisi ini adalah untuk membantu meredakan gejala, mengatasi penyebab yang mendasari, mengoptimalkan sirkulasi darah ke seluruh tubuh, serta mencegah kerusakan jaringan jantung yang lebih serius.

 

Adapun beberapa metode yang umum digunakan untuk menangani dilated cardiomyopathy adalah sebagai berikut:

 

  • Penggunaan obat-obatan tertentu untuk mengontrol ritme jantung, membantu jantung memompa darah lebih baik, menurunkan tekanan darah, mencegah penggumpalan plak pada pembuluh darah, dan mengurangi cairan berlebih dalam tubuh. Beberapa golongan obat tersebut, di antaranya:

    • Beta-blocker.

    • ACE inhibitor.

    • Diuretik.

    • Aldosterone receptor blocker (ARB).

    • Antiaritmia.

    • Antikoagulan.

  • Prosedur operasi untuk memasang alat implan yang dapat membantu agar jantung lebih optimal memompa darah ke seluruh tubuh. Beberapa jenis alat implan yang digunakan di antaranya:

    • Biventricular pacemaker.

    • Implantable cardioverter defibrillator (ICD).

  • Heart failure surgery, untuk membantu meningkatkan fungsi organ jantung pada pasien yang mengalami gagal jantung.

  • Transplantasi jantung, apabila kerusakan organ jantung cenderung parah dan tidak bisa diperbaiki melalui heart failure surgery.

Komplikasi Kardiomiopati Dilatasi

Apabila tidak segera ditangani dengan tepat, kardiomiopati dilatasi dapat meningkatkan risiko terjadinya sejumlah komplikasi yang bisa memengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan. Beberapa risiko komplikasi tersebut, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Gagal jantung.

  • Heart valve regurgitation, yaitu kondisi yang memungkinkan darah di dalam jantung mengalami regurgitasi (mengalir balik) melalui katup jantung.

  • Aritmia, perubahan bentuk dan ukuran jantung bisa memengaruhi ritme atau detak jantung.

  • Penggumpalan darah (blood clots) pada pembuluh darah jantung.

  • Serangan jantung.

  • Sudden cardiac arrest.

Pencegahan Kardiomiopati Dilatasi

Bila bersifat idiopatik atau berkaitan dengan faktor genetik, kardiomiopati dilatasi cenderung sulit untuk dicegah. Meski demikian, risiko DCM yang dipicu oleh kondisi medis tertentu dapat diminimalkan dengan menerapkan pola hidup sehat sebaik mungkin. Beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko DCM adalah sebagai berikut:

 

  • Membatasi atau menghindari konsumsi minuman beralkohol.

  • Tidak merokok.

  • Tidak mengonsumsi obat-obatan terlarang.

  • Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang. 

  • Istirahat dan tidur yang cukup.

  • Rutin berolahraga.

  • Menjaga berat badan ideal.

  • Mengelola stres sebaik mungkin.

 

Perlu dipahami, informasi yang disebutkan di atas bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan diagnosis maupun saran pengobatan dari dokter. Gejala-gejala yang dijelaskan pun tidak secara spesifik mewakili kardiomiopati dilatasi, sehingga mungkin saja juga terjadi pada kondisi medis lainnya.

 

Maka dari itu, apabila mengalami gejala tidak biasa yang berkaitan dengan organ jantung, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kardiologi di Siloam Hospitals terdekat guna memperoleh diagnosis yang akurat dan pengobatan yang tepat.

 

Sebagai informasi, tahapan prosedur pemeriksaan dan pengobatan yang dilakukan di masing-masing rumah sakit mungkin akan berbeda, mengingat hal tersebut perlu disesuaikan dengan fasilitas medis yang tersedia. Namun, tenaga medis profesional akan memastikan seluruh prosedur medis tersebut telah sesuai dengan kondisi pasien.

 

Apabila direkomendasikan oleh dokter, Anda juga dapat melakukan Skrining Jantung untuk deteksi dini berbagai masalah pada jantung. Paket skrining ini dapat dipesan secara praktis melalui fitur dalam aplikasi MySiloam.

Sumber

Mayo Clinic. Dilated Cardiomyopathy. Diakses pada 2024 | National Library of Medicine. Dilated Cardiomyopathy. Diakses pada 2024 | Heart. Dilated Cardiomyopathy (DCM). Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Dilated Cardiomyopathy. Diakses pada 2024

Dokter Kami
dr-kadek-satrya-kurnia-suratna-spjp

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ronald-a-ulaan

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-magma-purnawan-putra-spjp

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Magma Purnawan Putra, SpJP (K), FIHA, FESC

Kardiologi (Jantung)

Subspesialis Kardiologi Intervensi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail