Apa itu Pleuroskopi? Ini Tujuan, Prosedur, & Efek Sampingnya
Kesehatan Tubuh

Apa itu Pleuroskopi? Ini Tujuan, Prosedur, & Efek Sampingnya

05 Mei 2025 5 menit waktu baca
pleuroskopi adalah

Pleuroskopi adalah tindakan medis yang memungkinkan dokter untuk melihat rongga pleura di area dada. Melalui prosedur ini, dokter akan memasukkan sebuah alat berupa tabung tipis yang fleksibel dan dilengkapi kamera (pleuroskop) melalui sayatan kecil pada dinding dada. Lantas, apa tujuan pleuroskopi dan bagaimana prosedurnya? Mari ketahui jawabannya dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Pleuroskopi?

 

Pleuroskopi atau pleuroscopy adalah prosedur bedah minimal invasif yang biasanya dilakukan, untuk memeriksa rongga pleura. Sebagai informasi, pleura merupakan lapisan tipis yang melapisi dinding dada dan organ paru-paru.

 

Sementara itu, rongga pleura merupakan rongga tipis yang terletak di antara lapisan pleura yang membungkus paru-paru dan lapisan pleura yang melapisi dinding dada. Rongga ini umumnya berisi cairan yang berfungsi sebagai pelumas agar organ paru-paru dapat bergerak dengan mulus dan tidak bergesekan dengan dinding dada selama bernapas.

 

Tujuan Pleuroskopi

 

Tujuan prosedur pleuroskopi adalah untuk memeriksa dan mengevaluasi kondisi rongga pleura. Prosedur ini biasanya digunakan sebagai metode lini kedua untuk membantu menegakkan diagnosis penyakit paru-paru atau mengobati kondisi medis tertentu yang memengaruhi rongga pleura, seperti misalnya efusi pleura (akumulasi cairan abnormal di rongga pleura).

 

Pleuroskopi kerap dilakukan setelah pasien menjalani prosedur minimal invasif lainnya, seperti USG, CT scan, atau thoracentesis. Adapun empat indikasi umum untuk prosedur pleuroskopi adalah:

 

  • Diagnosis: Pleuroskopi dapat digunakan untuk memeriksa kelainan pada rongga pleura. Prosedur ini juga bisa menunjukkan gambaran tepi luar organ paru-paru yang tidak bisa didapatkan atau dilihat melalui bronkoskopi.

  • Biopsi: Pleuroskopi juga dapat memandu dokter dalam mengambil sampel jaringan pleura untuk diuji di laboratorium.

  • Drainase cairan (fluid drainage): Melalui prosedur pleuroskopi, dokter dapat mengeluarkan cairan yang menumpuk di rongga pleura (efusi pleura) sekaligus memeriksa kondisi rongga pleura secara keseluruhan.

  • Pleurodesis: Pada kasus efusi pleura atau pneumotoraks yang parah atau berulang, dokter dapat menyuntikkan obat-obatan tertentu melalui prosedur pleuroskopi guna menutup rongga pleura dengan merekatkan lapisan pleura yang membungkus paru-paru dan lapisan pleura yang membungkus rongga dada untuk mencegah terjadinya penumpukan cairan atau udara kembali.

 

Di samping itu, beberapa kondisi yang kerap membuat seseorang perlu menjalani prosedur pleuroskopi adalah sebagai berikut:

 

 

Kontraindikasi Pleuroskopi

 

Prosedur pleuroskopi tidak dianjurkan bagi pasien yang mengalami perlengketan (adhesi) parah pada membran pleura. Secara umum, beberapa kondisi yang kerap menyebabkan terjadinya perlengketan pleura yang membuat pasien tidak bisa menjalani pleuroskopi adalah:

 

  • Memiliki riwayat infeksi pada saluran pernapasan.

  • Pernah menjalani perawatan radiasi di area dada.

  • Asbestosis.

  • Komplikasi operasi bypass jantung.

 

Selain itu, pleuroskopi juga tidak disarankan bagi pasien dengan beberapa kondisi berikut ini:

 

 

Di sisi lain, dokter mungkin akan menunda prosedur pleuroskopi jika pasien sedang menderita infeksi saluran pernapasan, seperti pneumonia, atau baru saja pulih dari serangan jantung (infark miokard) sampai kondisinya sudah stabil.

 

Persiapan Pleuroskopi

 

Sebelum melakukan pleuroskopi, dokter akan terlebih dahulu menanyakan tentang keluhan, riwayat kesehatan, serta jenis obat-obatan yang sedang dikonsumsi oleh pasien. Selain itu, pasien juga perlu menginformasikan kepada dokter mengenai kebiasaan merokok, riwayat alergi obat-obatan, riwayat sleep apnea, dan penggunaan alat medis tertentu, seperti alat pacu jantung (pacemaker) atau perangkat implan lainnya.

 

Kemudian, pasien akan diarahkan untuk tidak mengonsumsi makanan apa pun pada malam hari sebelum prosedur. Pasien hanya diperkenankan untuk minum air putih. Lalu, pada dua jam sebelum pelaksanaan prosedur, pasien tidak boleh mengonsumsi makanan atau minuman apa pun, termasuk air putih.

 

Dalam persiapan pleuroskopi, pasien juga perlu menghentikan konsumsi obat-obatan tertentu terlebih dahulu karena berisiko memicu terjadinya komplikasi pascaprosedur. Beberapa jenis obat-obatan tersebut, di antaranya:

 

  • Obat antikoagulan, seperti warfarin dan clopidogrel.

  • Obat diabetes, termasuk insulin.

  • Obat diuretik, seperti furosemide dan hydrochlorothiazide.

  • Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti aspirin dan celecoxib.

 

Prosedur Pelaksanaan Pleuroskopi

 

Tergantung pada tujuan prosedurnya, dokter mungkin akan memberikan anestesi (bius) lokal bersama melalui intravena atau anestesi umum (bius total), terutama apabila diperlukan lebih dari satu sayatan. Lalu, pasien akan diarahkan untuk berbaring dengan posisi miring guna mengakses sisi dada yang memerlukan tindakan.

 

Dokter dapat membuat sayatan yang lebih besar di antara tulang rusuk untuk memasukkan pleuroskop. Selama prosedur, dokter akan memantau dan memeriksa kondisi pleura yang ditampilkan melalui layar monitor.

 

Setelah itu, dokter dapat melepaskan pleuroskop dan memasang selang dada yang dimasukkan melalui sayatan tersebut guna mengalirkan penumpukan cairan atau udara berlebih. Terakhir, dokter akan menutup luka bekas sayatan menggunakan jahitan atau staples khusus.

 

Perawatan Pascaprosedur Pleuroskopi

 

Pleuroskopi biasanya dapat menyebabkan rasa nyeri dan bengkak di sekitar lokasi sayatan. Untuk menangani kondisi ini, dokter dapat meresepkan obat acetaminophen atau parasetamol guna meredakan rasa nyeri. Dokter umumnya tidak meresepkan aspirin dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) lainnya karena berisiko menimbulkan perdarahan pascaprosedur.

 

Pasien juga disarankan untuk beristirahat yang cukup setelah menjalani prosedur pleuroskopi. Sebaiknya, hindari aktivitas fisik berat, mengangkat beban berat, dan mengemudi selama beberapa waktu guna mengoptimalkan proses pemulihan pascaprosedur pleuroskopi. Pasien pun perlu menghindari mandi dan berenang hingga luka bekas sayatan benar-benar pulih.

 

Pada kondisi tertentu, pasien akan diarahkan untuk melakukan kontrol rutin selama beberapa hari atau minggu setelah prosedur. Apabila luka bekas sayatan ditutup menggunakan jahitan, dokter akan melepas jahitan tersebut saat pasien melakukan kontrol rutin. Dokter mungkin akan mengarahkan pasien untuk melakukan rontgen dada guna memeriksa apakah terdapat tanda-tanda komplikasi pascaprosedur.

 

Jika prosedur pleuroskopi dilakukan untuk pleurodesis, pasien perlu menjalani pemeriksaan CT scan untuk melihat apakah fusi (penggabungan) lapisan pleura telah tercapai. Jika pleuroskopi dilakukan untuk tindakan biopsi, dokter akan meninjau hasil pemeriksaan sampel di laboratorium.

 

Efek Samping Pleuroskopi

 

Pada dasarnya, pleuroskopi adalah prosedur yang relatif aman dilakukan. Namun, meski cenderung jarang terjadi, prosedur ini juga bisa menimbulkan efek samping atau komplikasi pascaprosedur pada beberapa pasien. Secara umum, beberapa risiko efek samping atau komplikasi dari pleuroskopi adalah sebagai berikut:

 

  • Bengkak dan nyeri parah.

  • Perdarahan dari luka bekas sayatan atau area yang dilakukan biopsi.

  • Cedera pada pleura, paru-paru, atau dinding dada.

  • Atelektasis (paru-paru mengalami kolaps yang biasanya terjadi akibat efek dari anestesi pada pasien yang menjalani tindakan operasi).

  • Pneumonia.

  • Infeksi.

 

Dapat disimpulkan, pleuroskopi adalah prosedur medis yang bisa dilakukan untuk membantu mendiagnosis penyakit paru-paru dan juga mengobati kondisi medis yang memengaruhi rongga pleura. Jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada penyakit paru-paru atau gangguan sistem pernapasan lainnya, segera lakukan konsultasi dengan Dokter Spesialis Pulmonologi (Paru) dari Siloam Hospitals untuk memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.

 

Untuk menjaga kesehatan paru hingga deteksi dini penyakit paru-paru, Anda juga dapat memesan paket Skrining Kesehatan Paru melalui aplikasi MySiloam. Aplikasi ini telah dilengkapi dengan berbagai fitur, mulai dari membuat janji temu dengan dokter, self check in, hingga antre secara online.

 

Aplikasi My Siloam (1)

 

Dokter Kami
dr-ivan-joalsen-spbtkv

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ivan Joalsen M.T, Sp.BTKV (K), SubsSp-Ve. McPhleb

Bedah Toraks Kardiovaskular

Spesialis Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular


Siloam Hospitals Balikpapan

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-putu-wisnu-arya-wardana-spbtkv

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Putu Wisnu Arya Wardana, SpBTKV, FIATCVS

Bedah Toraks Kardiovaskular

Spesialis Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular


Siloam Hospitals Denpasar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-hariadi-hadibrata-spbtkv

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Hariadi Hadibrata, SpBTKV (K)

Bedah Toraks Kardiovaskular

Subspesialis Bedah Toraks


MRCCC Siloam Hospitals Semanggi

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail