Kesehatan Tubuh
Tumor Karsinoid - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Tumor karsinoid adalah jenis kanker yang pertumbuhannya cenderung lambat. Jenis tumor ini bisa muncul di beberapa bagian tubuh, namun biasanya dimulai dari saluran pencernaan (lambung, usus besar, usus kecil, dan lain sebagainya) atau paru-paru. Untuk mengenal penyebab, gejala, hingga pengobatan tumor karsinoid selengkapnya, Anda bisa menyimak artikel berikut ini.
Apa itu Tumor Karsinoid?
Seperti yang telah dijelaskan bahwa carcinoid tumor, tumor karsinoid, atau yang juga dikenal sebagai tumor neuroendokrin adalah sel abnormal yang bersifat ganas (kanker) namun kebanyakan pertumbuhannya cenderung terjadi secara lambat. Hal ini kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, sehingga membuat penderita tumor karsinoid tidak menyadari kondisinya selama bertahun-tahun sampai sel kanker telah menyebar ke bagian tubuh lain.
Berdasarkan kecepatan pertumbuhannya, carcinoid tumor dapat dibedakan menjadi dua jenis, di antaranya sebagai berikut:
-
Slow-growing tumors: Jenis tumor karsinoid yang paling umum. Slow-growing tumors cenderung tetap berukuran kecil, biasanya kurang dari 1 cm. Jenis tumor ini jarang menyebar ke bagian tubuh lain.
-
Faster-growing tumors: Jenis carcinoid tumor yang pertumbuhannya lebih cepat daripada slow-growing tumors dan bisa menyebar ke area lain.
Di samping itu, tumor karsinoid juga bisa diklasifikasikan menjadi dua jenis berdasarkan zat yang dihasilkannya. Berikut masing-masing penjelasannya.
-
Hormone-secreting (functional) tumors: Tumor ini dapat menghasilkan hormon tertentu, seperti insulin, gastrin, peptida usus vasoaktif, glukagon, serotonin, atau somatostatin.
-
Non-hormone-secreting (nonfunctional) tumors: Jenis carcinoid tumor yang tidak menghasilkan hormon. Non-hormone-secreting tumor merupakan jenis carcinoid tumor yang paling umum terjadi.
Penyebab Tumor Karsinoid
Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab munculnya carcinoid tumor. Namun, secara umum, kondisi ini diduga berkaitan dengan perubahan atau mutasi genetik yang memungkinkan sel-sel untuk terus tumbuh dan membelah ketika seharusnya mati. Sel-sel yang terakumulasi ini kemudian akan membentuk tumor.
Para ahli juga menemukan bahwa tumor ini umumnya berkembang di sel neuroendokrin yang bekerja dengan melakukan beberapa fungsi sel saraf dan sel endokrin penghasil hormon. Di samping itu, sejumlah faktor yang diketahui bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami tumor endokrin adalah:
-
Memiliki keluarga dengan riwayat multiple endocrine neoplasia tipe 1 atau tumor karsinoid.
-
Menderita von Hippel-Lindau syndrome, yaitu kondisi langka saat tumor jinak tumbuh di berbagai bagian tubuh.
-
Berjenis kelamin wanita.
-
Faktor usia. Tumor ini lebih sering terjadi atau baru terdiagnosis pada orang berusia 55–65 tahun.
Gejala Tumor Karsinoid
Dalam beberapa kasus, tumor karsinoid kerap tidak menimbulkan tanda atau gejala tertentu. Namun, apabila terjadi, gejala tumor karsinoid biasanya cenderung tidak jelas dan bergantung pada lokasi pertumbuhan tumor. Misalnya, jika tumbuh di paru-paru, carcinoid tumor dapat menunjukkan beberapa gejala berikut ini:
-
Nyeri dada.
-
Kemerahan atau rasa hangat di wajah dan leher (skin flushing).
-
Pertambahan berat badan, terutama pada punggung bagian tengah dan atas.
-
Munculnya bercak merah muda atau keunguan pada kulit yang terlihat menyerupai stretch mark.
Sementara itu, carcinoid tumor yang tumbuh pada saluran pencernaan biasanya menimbulkan beberapa gejala, di antaranya:
-
Sakit perut.
-
Mual, muntah, dan kesulitan buang air besar akibat obstruksi usus.
-
Perdarahan di area rektum.
-
Nyeri pada rektum.
-
Kemerahan atau rasa hangat di wajah dan leher (skin flushing).
Diagnosis Tumor Karsinoid
Penegakan diagnosis tumor karsinoid sering kali menjadi suatu tantangan mengingat kondisi ini tergolong langka, pertumbuhannya cenderung lambat, dan kerap tidak menimbulkan gejala tertentu. Dalam sebagian besar kasus, tumor karsinoid baru teridentifikasi saat pasien menjalani pemeriksaan atau prosedur medis tertentu untuk kondisi lain, seperti ketika pasien melakukan operasi usus buntu.
Jika pasien dicurigai menderita carcinoid, dokter dapat mengarahkan pasien untuk menjalani beberapa prosedur pemeriksaan, seperti:
-
Tes darah.
-
Tes pencitraan, seperti MRI, PET scan, CT scan, Positron Emission Tomography (PET), dan lain-lain.
Pengobatan Tumor Karsinoid
Pengobatan tumor karsinoid pada dasarnya perlu disesuaikan dengan lokasi, tingkat penyebaran tumor, jenis hormon yang disekresikan tumor, serta kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Namun, beberapa metode yang umum dilakukan untuk menangani kondisi ini adalah:
-
Tindakan operasi, untuk mengangkat sel tumor di dalam tubuh. Prosedur ini biasanya dilakukan apabila tumor terdeteksi sejak dini.
-
Pemberian obat-obatan tertentu, seperti octreotide dan telotristat, untuk mengontrol produksi hormon berlebihan sehingga bisa mengurangi gejala carcinoid syndrome dan memperlambat perkembangan tumor.
-
Kemoterapi, yaitu prosedur medis yang menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel tumor.
-
Terapi target. Perawatan obat yang ditargetkan berfokus pada kelainan spesifik yang ada di dalam sel tumor sehingga dapat menyebabkan kematian sel tumor. Terapi target biasanya dikombinasikan dengan kemoterapi untuk tumor karsinoid stadium lanjut.
-
Peptide receptor radionuclide therapy (PRRT), dilakukan dengan mengombinasikan obat yang menargetkan sel tumor serta zat radioaktif yang bisa membunuh tumor tersebut.
Di samping itu, sel tumor ini juga kerap menyebar ke organ hati (liver). Pada kondisi tersebut, dokter dapat menanganinya dengan:
-
Tindakan operasi untuk mengangkat sebagian organ liver yang terdampak.
-
Hepatic artery embolization, yaitu prosedur untuk memblokir aliran darah ke hati guna membunuh sel tumor.
-
Radiofrequency ablation, yaitu prosedur yang menggunakan energi panas untuk membunuh sel tumor.
-
Krioablasi, yaitu prosedur yang menggunakan cairan dingin untuk membekukan dan membunuh sel tumor.
Komplikasi Tumor Karsinoid
Jika tidak segera ditangani dengan tepat, sel-sel carcinoid tumor dapat mengeluarkan hormon dan senyawa kimia yang bisa menyebabkan berbagai komplikasi, sehingga turut memperburuk kondisi penderitanya. Adapun beberapa risiko komplikasi carcinoid tumor adalah:
-
Carcinoid syndrome. Kondisi ini dapat terjadi ketika tumor mensekresikan hormon serotonin secara berlebihan dan memengaruhi berbagai organ dalam tubuh.
-
Penyakit jantung karsinoid. Tumor karsinoid dapat mengeluarkan hormon yang bisa menyebabkan penebalan pada lapisan ruang jantung, katup, dan pembuluh darah. Hal ini dapat menyebabkan kebocoran katup jantung dan gagal jantung yang mungkin memerlukan operasi penggantian katup.
-
Sindrom Cushing, yaitu kondisi ketika kadar hormon kortisol di dalam tubuh terlalu tinggi. Beberapa gejala sindrom Cushing adalah kenaikan berat badan, jerawat, otot melemah, wajah bengkak dan kemerahan, menstruasi tidak teratur pada wanita, libido turun pada pria, serta meningkatnya kadar gula darah dan tekanan darah.
Meski pertumbuhannya cenderung lambat, penting untuk tetap segera menangani tumor karsinoid dengan tepat agar tidak menimbulkan komplikasi seperti ulasan di atas. Maka dari itu, jangan ragu berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam apabila Anda mengalami kondisi yang mengarah pada carcinoid tumor.
Agar lebih praktis, Anda juga bisa memanfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai layanan kesehatan secara virtual. Pasalnya, MySiloam dilengkapi dengan fitur untuk mencari informasi jadwal praktik dan membuat janji temu dengan dokter secara online, hingga konsultasi virtual bersama dokter pilihan.
Artikel Terkait
TERPOPULER
CT Whole ABD Non-CNTRS / CT Scan Perut
CT Scan
Rp2.495.000
TERPOPULER
CT Thorax Non-CNTRS / CT Scan Dada
CT Scan
Rp2.079.000
TERPOPULER
Complete Blood Count + Diff / Pemeriksaan Darah Lengkap
1 Service/Item
Rp123.300
TERPOPULER
1.5T MRI LOWER ABDOMEN / GYNAECOLOGY NON CONTRAST
MRI / MRA
Rp3.192.000
1.5T MRI Thorax Mediastinum / Lung Non Contrast
MRI / MRA
Rp2.870.000




