Ibu dan Anak
Anak Muntah-Muntah Disertai Diare? Bisa Jadi Gejala Muntaber

Table of Contents
Muntaber dapat dialami oleh siapa saja dari berbagai kalangan usia, namun lebih rentan menyerang anak-anak. Muntaber adalah kondisi medis berupa peradangan pada saluran pencernaan yang dapat menimbulkan gejala diare, mual, hingga muntah. Lantas, apa penyebab muntaber pada anak dan bagaimana cara mengatasinya? Mari simak penjelasan selengkapnya melalui ulasan berikut.
Penyebab Muntaber pada Anak
Muntaber, flu perut, atau gastroenteritis adalah gangguan sistem pencernaan yang dapat menimbulkan gejala diare disertai mual dan muntah. Penyebab utama terjadinya muntaber adalah infeksi virus jenis Norovirus dan Rotavirus. Selain itu, meski jarang terjadi, muntaber juga bisa disebabkan oleh:
-
Infeksi bakteri, seperti bakteri penyebab disentri (Shigella, Salmonella, E. coli) atau demam tifoid (Salmonella typhi).
-
Infeksi parasit, seperti Entamoeba histolytica dan Giardia lamblia.
-
Efek samping obat-obatan tertentu (antibiotik, obat kemoterapi, dan lain-lain).
-
Paparan zat kimia yang beracun (logam berat, timbal, arsen, dan lain-lain).
Perlu diketahui bahwa infeksi virus, bakteri, atau parasit penyebab muntaber cenderung lebih rentan dialami oleh anak-anak, terutama anak-anak berusia di bawah 5 tahun karena mereka memiliki daya tahan tubuh yang masih belum terbentuk sempurna.
Di samping itu, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya muntaber pada anak adalah sebagai berikut:
-
Kebersihan lingkungan yang kurang, terutama saat musim hujan.
-
Tidak mencuci tangan dengan sabun antiseptik dan air mengalir saat sebelum dan sesudah makan, setelah kembali dari bermain di luar, serta sesudah menggunakan toilet.
-
Mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit penyebab muntaber.
-
Melakukan kontak fisik dengan penderita muntaber, seperti tempat penitipan anak, tinggal di asrama, dan lain-lain.
Gejala Muntaber pada Anak
Terdapat sejumlah gejala yang umum dikeluhkan oleh anak apabila mengalami muntaber, di antaranya adalah:
-
Mual dan muntah.
-
Demam.
-
Penurunan nafsu makan.
-
Penurunan berat badan.
-
Nyeri otot.
-
Nyeri kepala.
-
Kelelahan.
-
BAB berdarah apabila muntaber disebabkan oleh infeksi bakteri atau parasit.
Cara Mengatasi Muntaber pada Anak
Sebetulnya, berapa hari muntaber pada anak sembuh? Muntaber yang disebabkan oleh virus biasanya dapat membaik dalam kurun waktu 2–3 hari, meskipun beberapa gejala muntaber, seperti diare, bisa tetap bertahan hingga 10 hari.
Kendati demikian, muntaber pada anak tetap perlu segera ditangani dengan tepat guna menghindari risiko dehidrasi yang dapat membahayakan kesehatan. Karena itu, berikut adalah sejumlah pertolongan pertama anak muntaber yang penting untuk dilakukan.
1. Mencukupi Asupan Cairan Tubuh
Cara mengatasi muntaber pada anak yang pertama adalah dengan mencukupi kebutuhan cairan tubuh anak sebaik mungkin agar terhindar dari risiko dehidrasi. Bila anak masih berusia di bawah 2 tahun, pastikan untuk selalu memberikan ASI secara rutin guna mencukupi kebutuhan cairan tubuhnya. Namun, jika sudah berusia lebih besar, orang tua dapat memenuhi asupan cairan tubuh anak dengan memberikan air minum yang cukup.
Selain itu, orang tua juga dapat memberikan larutan oralit pada anak untuk membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang dari tubuh akibat muntaber. Namun, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu guna mengetahui takaran atau dosis pemberian oralit pada anak yang tepat.
2. Memperbanyak Waktu Istirahat
Sebagai upaya mempercepat proses pemulihan muntaber, sebaiknya biarkan anak untuk memperbanyak beristirahat dengan tidur selama 10–12 jam setiap hari. Penting pula bagi orang tua untuk menciptakan suasana yang nyaman di kamar tidur guna meningkatkan kualitas tidur anak. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memutar lagu yang menenangkan, mematikan lampu kamar, atau menggunakan penyejuk ruangan pada kamar tidur anak.
3. Memberikan Makanan Sehat dengan Gizi Seimbang
Pertolongan pertama anak muntaber berikutnya adalah memberikan makanan sehat dengan gizi seimbang untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak. Selain itu, orang tua juga perlu memilih makanan yang bertekstur lembut dan mudah dicerna, seperti bubur, pisang, atau makanan berkuah agar lebih mudah dikonsumsi saat anak mengalami gangguan pencernaan.
Bila anak tidak menderita intoleransi laktosa, orang tua dapat memberikan susu sapi serta produk olahannya, seperti yoghurt dan keju guna mendukung proses pemulihan muntaber. Namun, pastikan untuk tidak memberikan makanan yang tinggi lemak dan gula karena jenis makanan tersebut justru dapat memperburuk gejala muntaber.
4. Hindari Memberikan Obat Antidiare
Hindari memberikan obat antidiare pada anak yang mengalami muntaber, terutama jika masih berusia di bawah 12 tahun. Jika ingin meredakan nyeri perut dan demam akibat muntaber, orang tua dapat memberikan parasetamol sesuai dengan anjuran dokter.
Di samping itu, untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut terkait muntaber pada anak, sebaiknya segera kunjungi Dokter Spesialis Pediatri (Anak) di Siloam Hospitals terdekat. Pasalnya, tak menutup kemungkinan apabila gejala muntaber yang dialami si kecil, seperti diare, mual, dan muntah, didasari oleh atau merujuk pada kondisi yang lebih serius.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Sriwijaya Palembang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA
Pediatrik (Anak)
Spesialis Ilmu Kesehatan Anak
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Anggun Kusumasari, SpA, MSc, AIFO-K
Pediatrik (Anak)
Spesialis Ilmu Kesehatan Anak
Siloam Hospitals Balikpapan
Tersedia :
Tersedia hari ini







