Haphephobia - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Kesehatan Mental

Haphephobia - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

22 Agustus 2024 4 menit waktu baca
haphephobia adalah

 

Haphephobia adalah rasa takut berlebih (fobia) terhadap sentuhan orang lain. Kondisi ini cukup jarang terjadi. Namun, orang yang mengalaminya perlu mendapatkan penanganan psikolog atau psikiater sesegera mungkin agar kualitas hidupnya tidak terganggu ataupun menurun.

 

Memiliki kondisi haphephobia dapat menyebabkan seseorang kesulitan menjalani hari-harinya secara normal, mengingat bahwa sentuhan fisik cukup sulit dihindari, terlebih bila tinggal bersama orang lain. Lantas, bagaimana cara mengatasi haphephobia? Simak pembahasan selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Haphephobia?

 

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, haphephobia adalah salah satu jenis fobia spesifik yang membuat penderitanya merasa takut berlebih terhadap sentuhan orang lain. Sering kali, sentuhan fisik merupakan cara seseorang mengekspresikan rasa cinta dan sayangnya. Namun, hal ini tidak berlaku bagi orang haphephobia.

 

Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, beberapa sentuhan fisik seperti bersalaman merupakan hal yang normal akan dianggap sebagai hal yang mengerikan bagi penderita haphephobia. Fobia terhadap sentuhan dikenal juga dengan aphenphosmphobia, chiraptophobia, atau thixophobia.

 

Penyebab Haphephobia

 

Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab jenis fobia ini. Namun, salah satu faktor yang diyakini dapat menyebabkan seseorang mengalami haphephobia adalah pengalaman traumatis di masa lalu, seperti kekerasan fisik atau seksual. Adapun faktor lain yang diduga kuat berkaitan dengan haphephobia adalah sebagai berikut:

 

  • Terdapat keluarga dengan riwayat haphephobia.

  • Tipe kepribadian yang cenderung kesulitan dan memiliki kepercayaan diri rendah untuk bertingkah normal dan menyatakan perasaannya terhadap apa yang diinginkannya (tends to feel inhibited).

  • Gangguan fungsi otak karena hal tertentu, seperti penuaan atau cedera.

  • Memiliki gangguan mental lain, misalnya PTSD, fobia kuman (mysophobia), dan gangguan kecemasan sosial (fobia sosial).

 

Ciri-Ciri Haphephobia

 

Ciri utama haphephobia adalah merasa panik, cemas, marah, dan takut berlebih saat disentuh atau akan disentuh oleh orang lain sekalipun itu teman, pasangan, atau keluarganya sehingga cenderung menghindari atau menepis sentuhan tersebut. Gejala tersebut umumnya juga disertai dengan tanda-tanda fisik, di antaranya:

 

  • Tremor atau tubuh gemetar.

  • Keringat dingin.

  • Mual.

  • Pusing.

  • Sesak napas atau napas cepat.

  • Jantung berdebar (palpitasi).

  • Menangis.

  • Sinkop (pingsan).

  • Gatal-gatal atau biduran (urtikaria). 

  • Kulit memerah dan terasa panas.

 

Orang dengan haphephobia juga akan mengalami serangan panik (panic attack) atau bahkan agoraphobia (fobia terhadap situasi tertentu) ketika merasakan sentuhan dari orang lain. Kendati demikian, penderita sebenarnya menyadari bahwa ketakutan yang dirasakannya tidak sebanding dengan ancaman yang bisa terjadi.

 

Meski menyadarinya, penderita haphephobia tetap tidak bisa mengendalikan rasa takut berlebih serta semua gejala yang timbul secara tiba-tiba. Rasa takut tersebut bisa dikatakan sebagai fobia bila gejala yang muncul:

 

  • Sudah berlangsung selama 6 bulan atau lebih.

  • Timbul hampir setiap kali disentuh oleh orang lain.

  • Mengganggu kehidupan sehari-hari dan hubungan sosial penderita.

 

Cara Mengatasi Haphephobia

 

Bila dibiarkan, haphephobia dapat menyebabkan penderitanya menjadi pribadi yang yang tertutup dan enggan berinteraksi dengan orang lain. Hal tersebut bisa memicu timbulnya rasa kesepian, stres, bahkan depresi. Adapun sejumlah metode yang dapat dilakukan untuk mengatasi haphephobia adalah sebagai berikut:

 

  • Exposure therapy (terapi paparan): Terapi ini kerap dimanfaatkan sebagai pengobatan pertama untuk fobia. Selama sesi terapi paparan, pasien biasanya akan diminta untuk membayangkan menerima sentuhan di lengan dari orang lain. Setelah menjalani terapi dengan rutin, pasien seiring waktu bisa menerima sentuhan secara langsung secara bertahap.

  • Eye movement desensitization and reprocessing (EMDR): Terapi ini umumnya efektif untuk seseorang yang pernah mengalami trauma. Selama sesi terapi, pasien akan fokus pada memori traumatis sembari dirangsang oleh gerakan ritmis tertentu. Tujuan utama EMDR adalah membuat pasien berdamai dengan pengalaman traumatis tersebut.

  • Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy atau CBT): Tujuan utama CBT adalah mengubah pikiran irasional pasien terhadap sentuhan orang lain agar bisa menjadi lebih rasional atau positif.

  • Hipnoterapi: Melalui hipnoterapi, seorang terapis akan memandu pasien untuk lebih terbuka terhadap pemikiran atau saran baru.

  • Pemberian obat-obatan: Pasien akan diberikan resep obat untuk mengatasi gangguan kecemasan atau fobia, seperti alprazolam atau diazepam.

 

Komplikasi Haphephobia

 

Akibat rasa takutnya terhadap sentuhan orang lain, penderita cenderung tertutup dan membatasi kehidupan sosialnya. Bila kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan, hal tersebut dapat menimbulkan berbagai komplikasi atau dampak negatif untuk penderitanya, seperti:

 

 

Berbagai komplikasi di atas dapat memengaruhi kualitas hidup penderita haphephobia. Jadi, untuk mencegah hal tersebut, sebaiknya penderita haphephobia segera mendapatkan penanganan hingga ketakutannya mereda dan hilang.

 

Bila Anda atau kerabat menunjukkan sejumlah gejala yang mengarah pada jenis fobia ini, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Psikiatri di Siloam Hospitals agar mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat. Anda bisa menggunakan layanan Telekonsultasi dari Siloam Hospitals untuk mendapatkan saran perawatan dari dokter secara virtual. Untuk mengakses layanan Telekonsultasi dan mendapatkan berbagai kemudahan lainnya, Anda dapat memanfaatkan aplikasi MySiloam yang dapat diunduh secara agratis melalui smartphone Anda.

 

telechat

message

ArticleDetail