Kesehatan Tubuh
Apa itu Melena? Ini Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya

Table of Contents
Melena adalah tinja atau feses yang berwarna hitam dan lengket karena adanya perdarahan pada saluran pencernaan bagian atas. Kondisi ini bisa menjadi salah satu gejala dari penyakit tertentu, sehingga penting untuk segera menanganinya dengan tepat. Mari pahami lebih lanjut mengenai penyebab, gejala, hingga pengobatan melena selengkapnya dalam artikel berikut ini.
Apa itu Melena?
Melena adalah istilah medis untuk mendeskripsikan feses berwarna hitam yang terjadi akibat perdarahan pada saluran pencernaan bagian atas (PSCA). Darah yang berasal dari saluran cerna atas, terutama esofagus dan lambung, akan terpapar dengan asam lambung sehingga dapat membentuk hematin yaitu hemoglobin yang berubah warna menjadi kehitaman.
Perdarahan saluran cerna merupakan masalah medis yang relatif umum ditemukan. Kejadian PSCA di Indonesia sekitar 48–160 kasus per 100.000 penduduk, dengan kejadian lebih tinggi pada pria dan usia lanjut.
Melena sering kali dikaitkan dengan hematochezia, mengingat dua kondisi tersebut sama-sama menyebabkan perubahan warna feses. Padahal, hematochezia dan melena adalah dua kondisi yang berbeda.
Jika melena ditandai dengan feses berwarna kehitaman, hematochezia merupakan kondisi ketika ditemukannya darah segar berwarna kemerahan pada feses. Hematochezia biasanya disebabkan oleh perdarahan pada saluran pencernaan bagian bawah, seperti usus besar maupun dubur.
Penyebab Melena
Melena terjadi ketika terdapat perdarahan pada saluran pencernaan bagian atas, termasuk mulut, kerongkongan (esofagus), lambung, dan usus dua belas jari (duodenum). Namun, hal tersebut lebih sering disebabkan oleh perdarahan pada lambung dan duodenum.
Adapun sejumlah kondisi yang kerap menyebabkan perdarahan pada saluran pencernaan bagian atas dan memicu terjadinya melena adalah sebagai berikut:
-
Ulkus atau luka pada duodenum.
-
Esofagitis (peradangan pada esofagus atau kerongkongan).
-
Pecahnya varises esofagus.
-
Trauma atau perforasi gastrointestinal.
-
Tumor di kerongkongan atau lambung, baik jinak maupun ganas (kanker).
-
Efek samping penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) dalam jangka panjang.
-
GERD (gastroesophageal reflux disease). Kondisi ini bisa menyebabkan peradangan pada esofagus sehingga memicu terjadinya perdarahan. Akibatnya, feses menjadi berwarna kehitaman.
-
Penyakit liver, seperti sirosis hati.
-
Gangguan pembekuan darah, seperti pada kasus hemofilia atau trombositopenia (jumlah trombosit atau keping darah di bawah normal).
-
Demam berdarah akibat virus, seperti ebola atau demam berdarah dengue.
Gejala Melena
Gejala utama melena adalah adanya darah berwarna gelap pada feses. Hal tersebut dapat menyebabkan feses berwarna merah tua hingga kehitaman, tampak seperti aspal, bertekstur cair atau lengket, dan mungkin berbau busuk. Di samping itu, melena juga bisa disertai dengan beberapa gejala lain, di antaranya:
-
Nyeri perut.
-
Mual.
-
Pusing.
-
Mata dan kulit berwarna kekuningan (penyakit kuning/jaundice) atau pucat.
-
Hematemesis (muntah darah).
-
Nyeri saat menelan.
Diagnosis Melena
Langkah pertama yang dapat dilakukan dokter dalam mendiagnosis melena adalah wawancara medis atau anamnesis terkait dengan keluhan, riwayat kesehatan pasien, serta jenis obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Lalu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengevaluasi kondisi pasien secara menyeluruh.
Selanjutnya, beberapa pemeriksaan lanjutan yang dapat digunakan untuk membantu mengonfirmasi penyebab yang mendasari melena adalah sebagai berikut:
-
Tes darah, untuk memeriksa kadar hemoglobin (Hb), melihat tanda-tanda infeksi, kadar zat besi, serta faktor pembekuan darah.
-
Endoskopi dan kolonoskopi, untuk memeriksa kondisi saluran pencernaan secara menyeluruh.
-
CT scan perut (abdomen), untuk menemukan sumber perdarahan dan kemungkinan adanya tumor.
Pengobatan Melena
Pengobatan melena akan disesuaikan dengan tingkat keparahan serta penyebab yang mendasarinya. Apabila terjadi perdarahan yang cukup banyak dan berlangsung secara cepat, dokter akan menstabilkan kondisi pasien terlebih dahulu dengan memberikan infus, obat untuk menghentikan perdarahan, dan transfusi darah.
Setelah kondisi pasien sudah stabil, dokter dapat melanjutkan prosedur penanganan melalui beberapa tindakan berikut ini:
-
Pemberian obat-obatan, misalnya obat penghambat pompa proton, seperti esomeprazole atau pantoprazole untuk membantu mengurangi produksi asam lambung. Hal ini dapat membantu menghentikan perdarahan akibat tukak lambung.
-
Endoskopi, untuk melihat kondisi dalam lambung sekaligus menghentikan perdarahan akibat pecahnya varises esofagus.
-
Embolisasi, dilakukan dengan menyuntikkan zat tertentu untuk menutup pembuluh darah yang pecah atau bocor.
-
Teknik termal, prosedur ini menggunakan alat yang mengeluarkan energi panas untuk menutup sumber perdarahan.
-
Tindakan operasi, dilakukan jika sumber perdarahan tidak ditemukan dengan prosedur lain atau metode pengobatan lain tidak berhasil menangani perdarahan. Melalui prosedur ini, dokter dapat memperbaiki dinding lambung atau usus dua belas jari yang robek. Tindakan operasi juga bisa dilakukan untuk mengangkat tumor pada saluran pencernaan bagian atas yang menyebabkan perdarahan.
Komplikasi Melena
Jika tidak segera ditangani dengan tepat, melena dapat menyebabkan penderitanya mengalami kurang darah (anemia) akibat perdarahan yang tidak kunjung berhenti hingga syok. Bahkan, apabila dibiarkan, komplikasi melena tersebut bisa mengakibatkan kematian.
Pencegahan Melena
Secara umum, melena bisa dicegah dengan menghindari berbagai kondisi yang menyebabkan perdarahan pada saluran pencernaan. Adapun sejumlah upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari risiko perdarahan pada saluran pencernaan dan mencegah melena adalah:
-
Menjalani pengobatan sesuai dengan anjuran dokter jika menderita GERD atau tukak lambung.
-
Menghindari konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) tanpa resep dokter, terutama untuk penggunaan dalam jangka panjang.
-
Menghindari konsumsi minuman berkafein dan beralkohol secara berlebihan.
-
Makan secara teratur.
-
Berhenti merokok.
-
Menerapkan praktik hubungan seksual yang sehat, seperti menggunakan kondom dan tidak bergonta-ganti pasangan.
-
Tidak menyalahgunakan NAPZA.
Melena bisa menjadi tanda dari gangguan pencernaan yang serius dan memerlukan penanganan yang tepat. Oleh karenanya, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals agar bisa berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam berpengalaman apabila mengalami melena beserta gejala-gejala penyertanya seperti ulasan di atas.
Sebagai upaya menjaga kesehatan hingga deteksi dini gangguan pencernaan secara keseluruhan, Anda juga dapat melakukan Skrining Sistem Pencernaan Lengkap dengan memesan paketnya melalui aplikasi MySiloam. Melalui aplikasi ini, Anda juga bisa mengantre serta memantau hasil pemeriksaan secara online.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Feme Faeces / Feses Lengkap
Feses, Pencernaan
1 Service/Item
Rp144.900
TERPOPULER
Routine Faeces / Feses Rutin
Feses, Pencernaan
1 Service/Item
Rp112.500
TERPOPULER
Complete Blood Count + Diff / Pemeriksaan Darah Lengkap
1 Service/Item
Rp123.300
TERPOPULER
Hemoglobin
1 Service/Item
Rp74.700
TERPOPULER
Occult Blood (Faeces) / Tes Darah Samar (Feses)
1 Service/Item
Rp148.500
TERPOPULER
USG LOWER ABDOMEN
USG
Rp543.000







