Kesehatan Tubuh
Penyakit Graves - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Graves’ disease atau penyakit Graves adalah penyakit autoimun yang menyerang kelenjar tiroid. Kondisi ini dapat membuat kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid secara berlebihan. Akibatnya, penderita Graves’ disease kerap mengalami sejumlah gejala, seperti penurunan berat badan, detak jantung tidak teratur, dan sebagainya. Sebetulnya, apa penyebab Graves’ disease dan bagaimana pengobatannya? Mari simak ulasannya dalam artikel berikut ini.
Apa itu Penyakit Graves?
Penyakit Graves adalah penyakit autoimun yang menyebabkan hipertiroidisme, yaitu kondisi ketika kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid secara berlebihan. Pada dasarnya, hormon tiroid berfungsi mengatur berbagai sistem tubuh, mulai dari sistem saraf, perkembangan otak, serta suhu tubuh. Karena itu, penyakit Graves dapat menimbulkan gejala yang sangat beragam.
Penyakit Graves merupakan penyebab paling umum dari hipertiroidisme, yaitu mencakup sekitar 60–80% kasus hipertiroid. Kondisi ini paling sering terjadi pada orang berusia 20–50 tahun. Penyakit Graves lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria.
Penyebab Penyakit Graves
Graves’ disease dapat terjadi ketika sistem imun tubuh secara keliru menghasilkan antibodi TSI (thyroid-stimulating immunoglobulins) yang dapat memicu kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon tiroid secara berlebihan. Di samping itu, antibodi lain yang berkaitan dengan penyakit ini adalah TRAb (thyroid hormone receptor antibody), di mana antibodi tersebut akan mengesampingkan regulasi normal tiroid, sehingga dapat menyebabkan peningkatan produksi hormon tiroid secara berlebihan.
Belum diketahui secara pasti apa penyebab terjadinya gangguan autoimun tersebut. Namun, terdapat sejumlah faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko terjadinya Graves’ disease, di antaranya sebagai berikut:
-
Berjenis kelamin wanita.
-
Berusia 20–40 tahun.
-
Terdapat keluarga dengan riwayat kondisi serupa.
-
Menderita penyakit autoimun lain, seperti diabetes tipe 1 atau rheumatoid arthritis.
-
Stres berkepanjangan.
-
Baru melahirkan dalam kurun waktu 1 tahun terakhir.
-
Memiliki kebiasaan merokok.
-
Pernah menderita mononukleosis.
-
Sedang hamil.
-
Konsumsi berlebihan garam beryodium, seperti konsumsi susu kaya yodium, rumput laut tertentu, dan suplemen makanan yang mengandung yodium.
-
Paparan iodin.
-
Riwayat infeksi.
Gejala Penyakit Graves
Penyakit Graves dapat menimbulkan gejala yang bervariasi. Pada tahap awal, kondisi ini biasanya menimbulkan gejala yang cenderung ringan atau bahkan tidak terlihat, namun akan semakin parah secara bertahap seiring berjalannya waktu. Adapun beberapa gejala umum dari Graves’ disease adalah:
-
Iritabilitas dan mudah cemas.
-
Tremor pada tangan atau jari tangan.
-
Pembesaran kelenjar tiroid (penyakit gondok).
-
Jantung berdebar (palpitasi jantung) atau berdetak tidak beraturan (aritmia).
-
Perubahan siklus menstruasi.
-
Disfungsi ereksi.
-
Penurunan berat badan meski tidak kehilangan nafsu makan.
-
Penurunan gairah seksual.
-
Sulit tidur (insomnia).
-
Rambut rontok.
-
Sensitif terhadap udara panas.
-
Mudah lelah.
-
Mudah berkeringat.
Di sisi lain, terdapat sekitar 30% penderita kondisi ini juga mengalami keluhan yang khas, yaitu Graves’ dermopathy dan Graves’ ophthalmopathy. Graves’ ophthalmopathy dapat terjadi karena adanya peradangan, proliferasi (pembelahan) sel, dan peningkatan pertumbuhan otot, jaringan ikat, dan adiposa atau penumpukan lemak di belakang mata. Adapun beberapa gejala umum dari Graves’ ophthalmopathy adalah:
-
Mata menonjol (eksoftalmus).
-
Mata terasa nyeri dan tertekan.
-
Mata merah.
-
Pembengkakan pada kelopak mata.
-
Mata kering.
-
Fotofobia (mata sensitif terhadap cahaya).
-
Penglihatan ganda.
-
Kebutaan.
Sementara itu, Graves’ dermopathy merupakan kondisi yang tergolong jarang terjadi. Hal ini dapat menimbulkan gejala berupa kulit memerah dan menebal menyerupai kulit jeruk. Graves’ dermopathy biasanya terjadi pada area tulang kering dan punggung kaki.
Diagnosis Penyakit Graves
Langkah awal yang dapat dilakukan dokter dalam mendiagnosis penyakit Graves adalah wawancara medis (anamnesis) terkait dengan gejala, riwayat kesehatan pasien dan keluarga, serta prosedur medis yang pernah dijalani pasien. Kemudian, dokter akan melakukan pemerksaan tanda-tanda vital dan kondisi fisik pasien secara keseluruhan, terutama pada bagian leher.
Guna memastikan diagnosis Graves’ disease, dokter juga dapat melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:
-
Tes darah, untuk memeriksa fungsi kelenjar tiroid, yaitu dengan menilai kadar thyroid stimulating hormone (TSH), free T3 (FT3), free (FT4), pemeriksaan kadar TRAb, dan pemeriksaan kondisi lain yang dapat terjadi pada penderita Graves’ disease seperti anemia, trombositopenia, hiperkalsemia, dan lain-lain.
-
Tes yodium radioaktif, untuk mengevaluasi fungsi kelenjar tiroid. Prosedur ini dilakukan dengan menelan zat yodium radioaktif berdosis rendah.
-
Tes pencitraan, seperti USG, MRI, atau CT scan, untuk memeriksa pembesaran pada kelenjar tiroid. Pada ibu hamil, dokter akan memilih tes pencitraan USG yang lebih aman bagi janin di dalam kandungan.
Pengobatan Penyakit Graves
Pada dasarnya, Graves’ disease merupakan kondisi yang dapat berlangsung seumur hidup. Namun, pengobatan kondisi ini tetap diperlukan untuk menjaga fungsi kelenjar tiroid agar tetap terkendali. Adapun tujuan utama dari pengobatan penyakit Graves adalah untuk menghentikan produksi hormon tiroid yang berlebihan serta dampaknya bagi tubuh.
Beberapa pilihan metode pengobatan penyakit Graves adalah sebagai berikut:
-
Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti:
-
Obat antitiroid, seperti propylthiouracil (PTU) dan methimazole (MMI) untuk menghambat produksi hormon tiroid.
-
Beta-blockers, termasuk metoprolol, propranolol, nadolol, dan atenolol untuk mengurangi efek hormon tiroid berlebih dalam tubuh seperti meredakan detak jantung tidak teratur, gemetar, gelisah, intoleransi terhadap panas, berkeringat, diare, dan kelemahan otot.
-
Teprotumumab, untuk menangani Graves’ ophthalmopathy.
-
Kortikosteroid, untuk menangani kondisi Graves’ ophthalmopathy.
-
Terapi yodium radioaktif, dilakukan dengan mengonsumsi pil yang mengandung yodium radioaktif dosis rendah untuk menghancurkan sel tiroid yang terlalu aktif serta mengecilkan ukuran kelenjar tiroid yang membesar. Namun, terapi ini tidak dianjurkan pada pasien yang mengalami Graves’ ophthalmopathy yang berisiko memperburuk gejala.
-
Penggunaan kacamata prisma untuk membantu mengoreksi kemampuan penglihatan pasien yang mengalami Graves’ ophthalmopathy.
-
Tindakan operasi. Beberapa metode operasi yang dapat dilakukan untuk menangani kondisi ini adalah:
-
Tiroidektomi, dilakukan dengan mengangkat sebagian atau seluruh kelenjar tiroid yang bermasalah.
-
Orbital decompression surgery, dilakukan dengan mengangkat tulang di antara rongga mata (orbita) dan sinus. Prosedur ini dapat memberikan ruang pada mata yang mengalami Graves’ ophthalmopathy agar kembali ke posisi semula.
-
Orbital radiotherapy. Terapi ini menggunakan teknologi sinar-X untuk menghancurkan beberapa jaringan di belakang mata. Prosedur ini direkomendasikan untuk menangani Graves’ ophthalmopathy yang tidak kunjung membaik.
Komplikasi Penyakit Graves
Penyakit Graves adalah kondisi yang bisa memengaruhi berbagai fungsi tubuh. Karena itu, jika tidak segera ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat menimbulkan sejumlah komplikasi yang bisa mengganggu kesehatan. Adapun beberapa komplikasi tersebut, di antaranya:
-
Komplikasi kehamilan, seperti keguguran, kelahiran prematur, disfungsi tiroid pada janin, gangguan perkembangan janin, hingga preeklamsia pada ibu hamil.
-
Gangguan jantung, seperti aritmia, perubahan struktur dan fungsi otot jantung, hingga gagal jantung.
-
Thyroid storm atau badai tiroid atau krisis tiroid yaitu suatu kondisi yang mengancam nyawa akibat tingginya kadar hormon tiroid di dalam darah (hipertiroidisme) yang tidak ditangani dengan baik.
Agar terhindar dari komplikasi tersebut, perlu dilakukan penanganan penyakit Graves yang tepat sesegera mungkin. Oleh karenanya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Siloam Hospitals apabila mengalami gejala-gejala yang mengarah pada penyakit ini.
Ingin memperoleh layanan kesehatan dari Siloam Hospitals dengan lebih praktis? Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam yang dilengkapi dengan fitur-fitur untuk melihat informasi jadwal praktik, reservasi pertemuan dengan dokter, hingga antre secara online.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini







