Kesehatan Tubuh
Apa itu Spasmofilia? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Spasmofilia adalah kondisi yang ditandai dengan kekakuan otot, kram, maupun kedutan pada bagian tubuh tertentu yang kemudian diikuti dengan serangan panik. Kondisi ini dapat terjadi karena adanya gangguan pada sistem saraf yang mengatur fungsi motorik tubuh. Lantas, apa penyebab spasmofilia dan bagaimana cara mengatasinya? Mari simak informasi selengkapnya dalam artikel berikut ini.
Apa itu Spasmofilia?
Spasmofilia adalah kondisi ketika saraf motorik menunjukkan sensitivitas yang tidak normal terhadap rangsangan elektrik maupun mekanik. Kondisi ini dapat menyebabkan otot terasa kaku, kram, atau berkedut dan kerap muncul setelah penderitanya mengalami serangan panik (panic attack). Pada kasus yang parah, spasmofilia juga bisa memicu terjadinya kejang.
Penyebab Spasmofilia
Pada dasarnya, belum diketahui secara pasti apa penyebab terjadinya spasmofilia. Kendati demikian, para ahli menduga bahwa kondisi ini berkaitan dengan beberapa faktor. Adapun sejumlah faktor yang diduga bisa menjadi penyebab spasmofilia adalah:
-
Gangguan saraf karena ketidakseimbangan elektrolit di dalam tubuh.
-
Stres berat.
-
Perubahan fungsi otak.
-
Memiliki keluarga dengan riwayat kondisi serupa.
-
Memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap emosi negatif.
Di samping itu, dokter juga sering kali menghubungkan spasmofilia dengan hipokalsemia, yaitu kondisi ketika kadar kalsium dalam darah berada di bawah batas normal. Adapun beberapa kondisi yang bisa menyebabkan hipokalsemia yang meningkatkan risiko terjadinya spasmofilia adalah:
-
Rendahnya asupan kalsium dan magnesium akibat pola makan yang buruk.
-
Diare kronis.
-
Kekurangan vitamin D.
-
Hipoalbuminemia (kekurangan protein albumin di dalam darah).
-
Gagal ginjal kronis.
Gejala Spasmofilia
Gejala spasmofilia dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu gejala fisik dan psikis. Secara umum, beberapa gejala fisik yang kerap dialami oleh penderita spasmofilia adalah kekakuan otot, kram otot, serta otot berkedut. Di samping itu, gejala fisik yang dialami oleh penderita spasmofilia juga bervariasi, tergantung pada bagian tubuh yang terdampak. Misalnya:
-
Apabila spasmofilia terjadi pada otot di bagian dada, gejala yang muncul menyerupai cenderung menyerupai gejala serangan jantung, seperti:
-
Nyeri dada sebelah kiri.
-
Jantung berdebar.
-
Apabila spasmofilia terjadi pada otot perut, gejala yang muncul berupa:
-
Nyeri pada ulu hati.
-
Mual.
-
Muntah.
-
Penurunan nafsu makan.
-
Apabila spasmofilia terjadi pada otot leher, beberapa gejala fisik yang dapat muncul adalah:
-
Sakit kepala.
-
Nyeri leher.
-
Leher terasa kaku dan berkedut.
-
Mudah berkeringat.
Di samping itu, beberapa gejala psikis yang kerap dialami oleh orang dengan spasmofilia adalah sebagai berikut:
-
Serangan panik (panic attack).
-
Gelisah, cemas, dan takut berlebihan. Hal ini bisa mengganggu kualitas tidur seseorang atau bahkan menyebabkan insomnia.
Diagnosis Spasmofilia
Spasmofilia dapat menimbulkan gejala yang menyerupai kondisi medis lain. Maka dari itu, dokter perlu melakukan sejumlah prosedur pemeriksaan secara mendetail untuk menegakkan diagnosis kondisi ini. Pertama-tama, dokter dapat melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait dengan keluhan pasien, riwayat kesehatan pasien dan keluarga, serta riwayat obat-obatan yang rutin dikonsumsi oleh pasien.
Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada pasien, terutama melakukan pemeriksaan neurologis (saraf). Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh dokter adalah sebagai berikut:
-
Chvostek’s sign, yaitu pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan menyentuh pipi atau memukul ringan bagian pipi yang terletak pada 2 cm di depan tragus telinga (tonjolan depan lubang telinga), yaitu pada bagian zygoma (tulang pipi). Dalam kasus spasmofilia, dokter dapat menemukan kontraksi pada otot-otot wajah melalui pemeriksaan ini.
-
Trousseau’s sign, yaitu pemeriksaan yang dilakukan pada kecurigaan kekurangan kalsium dalam darah. Pemeriksaan ini dilakukan dengan melihat rata-rata tekanan darah sistolik serta diastolik pasien, kemudian rerata tekanan darah tersebut dipertahankan selama beberapa menit. Melalui prosedur ini, dokter dapat menahan aliran darah di area lengan untuk sementara selama mengukur tekanan darah pasien.
Lalu, beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk membantu mengonfirmasi diagnosis spasmofilia, di antaranya:
-
Tes darah, untuk memeriksa kadar kalsium dan magnesium di dalam darah.
-
Elektromiografi (EMG), untuk memeriksa kondisi otot dan sel-sel saraf yang mengendalikannya.
Pengobatan Spasmofilia
Dalam menangani spasmofilia, dokter dapat meresepkan suplemen kalsium dan magnesium, obat penenang, dan relaksan otot untuk membantu meredakan gejala. Apabila pasien mengalami gejala bawaan lain seperti yang disebutkan di atas, misalnya sakit kepala, dokter juga dapat memberikan obat antinyeri.
Di samping itu, pasien juga disarankan untuk memperhatikan asupan kalsium dan magnesium harian dengan mengonsumsi makanan yang mengandung mineral tersebut, seperti:
-
Susu dan produk olahannya.
-
Telur.
-
Daging ikan.
-
Pepaya.
-
Bayam.
-
Alpukat.
-
Nasi merah.
-
Labu.
-
Biji-bijian.
Dokter pun dapat merekomendasikan penderita spasmofilia untuk rutin berolahraga serta melakukan teknik relaksasi guna mengurangi ketegangan pada otot. Jika diperlukan, pasien bisa melakukan fisioterapi untuk membantu mengoptimalkan fungsi tubuh yang terdampak akibat spasmofilia. Pengendalian kecemasan berlebihan juga perlu dilakukan untuk meminimalkan trigger atau pencetus dari kram otot ini.
Komplikasi Spasmofilia
Jika tidak segera ditangani dengan tepat, spasmofilia bisa berdampak pada kualitas hidup penderitanya secara keseluruhan. Bahkan, kondisi ini juga bisa berujung pada komplikasi yang dapat mengganggu kesehatan tubuh. Adapun beberapa risiko komplikasi spasmofilia adalah:
Spasmofilia adalah kondisi yang perlu segera ditangani dengan tepat agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika Anda mengalami kondisi yang mengarah pada spasmofilia, sebaiknya segera konsultasikan hal tersebut dengan Dokter Spesialis Neurologi (Otak dan Saraf) berpengalaman dari Siloam Hospitals.
Lebih lanjut, Siloam Hospitals juga menyediakan aplikasi MySiloam yang memungkinkan pasien untuk mengakses berbagai layanan kesehatan secara virtual. Dengan aplikasi ini, Anda dapat mencari informasi jadwal praktik, membuat janji temu dengan dokter, hingga antre secara online. Dengan begitu, Anda tidak perlu berlama-lama menunggu di rumah sakit.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini







