Kesehatan Tubuh
Perbedaan Hipertensi Primer dan Sekunder yang Perlu Diketahui

Table of Contents
Hipertensi atau tekanan darah tinggi terbagi menjadi dua jenis, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Kedua kondisi ini sama-sama perlu ditangani dan tidak boleh dibiarkan begitu saja karena dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai komplikasi. Namun, apa sebenarnya perbedaan hipertensi primer dan sekunder? Mari simak pembahasannya di artikel berikut.
Perbedaan Hipertensi Primer dan Sekunder
Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah melebihi normal, yaitu jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tekanan sistolik (tekanan ketika jantung memompa darah) melebihi atau sama dengan 140 mmHg dan tekanan diastolik (tekanan ketika jantung berada dalam kondisi istirahat) melebihi atau sama dengan 90 mmHg pada pengukuran di klinik atau fasilitas pelayanan kesehatan.
Terdapat dua jenis hipertensi, yaitu hipertensi primer dan sekunder. Hipertensi primer (esensial) adalah tekanan darah tinggi yang bukan disebabkan oleh kondisi medis. Sementara itu, hipertensi sekunder adalah tekanan darah tinggi yang dipicu oleh kondisi medis yang mendasarinya. Berikut perbedaan hipertensi primer dan sekunder.
A. Penyebab Hipertensi Primer dan Sekunder
Perbedaan utama hipertensi primer dan sekunder terletak pada penyebabnya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, hipertensi primer tidak disebabkan oleh suatu kondisi medis tertentu, sedangkan hipertensi sekunder terjadi karena kondisi medis yang telah diderita sebelumnya.
Hipertensi primer adalah jenis tekanan darah tinggi yang paling umum. Kondisi ini kebanyakan dialami oleh orang berusia paruh baya, mulai dari usia 40 tahun. Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab hipertensi primer. Namun, beberapa faktor yang diyakini dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami hipertensi esensial adalah:
-
Faktor genetik, seperti memiliki keluarga dengan riwayat hipertensi. Faktor ini didukung dengan banyaknya kasus hipertensi yang dipengaruhi oleh banyak gen (polygenic hypertension).
-
Gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok, mengonsumsi alkohol secara berlebihan, jam tidur yang tidak teratur, sedentary lifestyle, serta stres. Itulah sebabnya, penderita kondisi ini utamanya disarankan untuk melakukan perubahan gaya hidup, seperti berolahraga dengan rutin, menjalankan diet DASH (dietary approaches to stop hypertension), mengonsumsi makanan penurun darah tinggi, mengelola stres, dan menghentikan kebiasaan merokok.
-
Obesitas, kondisi ini diketahui dapat meningkatkan risiko hipertensi hingga 2–6 kali lipat. Obesitas bisa terjadi akibat gaya hidup yang tidak sehat, seperti tidak mengontrol pola makan.
-
Kekurangan asupan kalium. Kalium berperan dalam menstabilkan kadar garam di dalam tubuh. Kekurangan kalium dapat menyebabkan kadar garam dalam tubuh menjadi tinggi sehingga risiko hipertensi pun meningkat.
Sementara itu, hipertensi sekunder adalah tekanan darah tinggi yang dipicu oleh kondisi medis yang mendasari. Hipertensi sekunder didapatkan pada sekitar 5% dari populasi hipertensi. Ada berbagai jenis penyakit yang dapat menyebabkan hipertensi, di antaranya sebagai berikut:
-
Masalah pada kelenjar adrenal.
-
Kelenjar paratiroid terlalu aktif.
-
Fungsi kelenjar tiroid tidak normal.
-
Sindrom Conn (kondisi ketika produksi hormon aldosteron terlalu tinggi).
-
Sindrom Cushing (kondisi ketika produksi hormon kortisol terlalu tinggi).
-
Pheochromocytoma (tumor di kelenjar adrenal).
Selain dipicu masalah medis tertentu, hipertensi sekunder juga dapat disebabkan oleh penggunaan obat-obatan medis, seperti:
-
Kontrasepsi oral (pil KB).
-
Nonsteroidal anti-inflammatory agents (NSAIDs).
-
Steroid.
-
Pil diet.
-
Stimulan.
-
Imunosupresan.
-
Dekongestan.
B. Gejala Hipertensi Primer dan Sekunder
Perbedaan hipertensi primer dan sekunder selanjutnya bisa dilihat dari gejalanya. Pada tahap awal, hipertensi primer tidak memiliki gejala. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah yang memengaruhi kesehatan. Jika sudah berada di tahap ini, gejala atau komplikasi yang biasanya muncul adalah:
-
Darah dalam urine (hematuria).
-
Penglihatan kabur karena retinopati hipertensi.
-
Nyeri dada dan sesak napas.
-
Pusing dan sakit kepala berat.
-
Kelelahan.
-
Kebingungan mental.
Sementara itu, mengingat bahwa hipertensi sekunder disebabkan oleh berbagai masalah medis, maka gejalanya pun bervariasi tergantung dari penyebab yang mendasarinya. Contoh gejala hipertensi sekunder berdasarkan penyebabnya adalah sebagai berikut:
-
Pheochromocytoma: Berkeringat, detak jantung lebih cepat dan kuat, sakit kepala, dan kecemasan.
-
Sindrom Cushing: Penambahan berat badan, moon face, kelemahan, pertumbuhan rambut yang tidak normal, hilangnya periode menstruasi, dan timbulnya garis-garis ungu (striasi) pada kulit perut.
-
Penyakit tiroid: Kelelahan, penambahan atau penurunan berat badan, serta intoleransi terhadap panas atau dingin.
-
Sindrom Conn atau aldosteronisme primer: Kelemahan karena rendahnya kadar kalium dalam tubuh.
-
Obstructive sleep apnea: Kelelahan atau rasa kantuk yang berlebihan di siang hari karena kualitas tidur malam hari buruk, mendengkur, serta adanya jeda dalam bernapas saat tidur.
C. Penanganan Hipertensi Primer dan Sekunder
Pengobatan utama untuk penderita hipertensi sekunder adalah mengonsumsi obat-obatan berdasarkan penyebab yang mendasarinya, sedangkan penanganan hipertensi primer biasanya dilakukan dengan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat. Walaupun begitu, penderita hipertensi, baik primer maupun sekunder, dianjurkan untuk mengubah pola hidupnya agar lebih sehat serta rutin mengontrol tekanan darah.
Perlu dipahami bahwa informasi yang telah disebutkan di atas hanya untuk tujuan edukasi dan tidak dapat menggantikan diagnosis maupun saran perawatan dari dokter. Penyebab dan gejala yang dijelaskan pun tidak secara spesifik merepresentasikan hipertensi primer dan sekunder sehingga bisa saja terjadi pada kondisi medis lainnya.
Apabila mengalami gejala-gejala tidak biasa yang berkaitan dengan kondisi ini, seperti terdapat darah dalam urine, nyeri dada, atau merasa jantung berdetak lebih cepat dari biasanya, penting untuk memperoleh diagnosis yang akurat dengan mengunjungi Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Siloam Hospitals terdekat. Bersama Siloam Hospitals, Anda juga dapat memperoleh penanganan lebih lanjut sesuai dengan kondisi tubuh.
Penting untuk diingat bahwa tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.
Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur untuk mempermudah perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Cleveland Clinic. Secondary Hypertension. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Primary Hypertension (Formerly Known as Essential Hypertension). Diakses pada 2024 | StatPearls [Internet]. Essential Hypertension. Diakses pada 2024 | Healthline. Just the Essentials of Essential Hypertension. Diakses pada 2024 | Indonesian Society of Hypertension (InaSH). Update Konsensus 2019. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Michael Sebastian Kawilarang, SpJP, Subsp KI (K)
Kardiologi (Jantung)
Subspesialis Kardiologi Intervensi
Siloam Hospitals Surabaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP
Kardiologi (Jantung)
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP
Kardiologi (Jantung)
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village
Tersedia :
Tersedia hari ini
Paket Hidup Sehat 3 - Homecare
Tes Laboratorium & Medical Check Up Homecare
8 Service/Item
Rp2.199.000
TERPOPULER
Paket Hidup Sehat 1 - Homecare
Tes Laboratorium & Medical Check Up Homecare
8 Service/Item
Rp1.025.000
Paket Hidup Sehat 2 - Homecare
Tes Laboratorium & Medical Check Up Homecare
6 Service/Item
Rp875.000






