Perbedaan Hipertensi Primer dan Sekunder yang Perlu Diketahui
Kesehatan Tubuh

Perbedaan Hipertensi Primer dan Sekunder yang Perlu Diketahui

09 Juli 2025 4 menit waktu baca
Hipertensi sekunder dan hipertensi primer

 

Hipertensi atau tekanan darah tinggi terbagi menjadi dua jenis, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Kedua kondisi ini sama-sama perlu ditangani dan tidak boleh dibiarkan begitu saja karena dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai komplikasi. Namun, apa sebenarnya perbedaan hipertensi primer dan sekunder? Mari simak pembahasannya di artikel berikut.

 

Perbedaan Hipertensi Primer dan Sekunder

 

Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah melebihi normal, yaitu jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tekanan sistolik (tekanan ketika jantung memompa darah) melebihi atau sama dengan 140 mmHg dan tekanan diastolik (tekanan ketika jantung berada dalam kondisi istirahat) melebihi atau sama dengan 90 mmHg pada pengukuran di klinik atau fasilitas pelayanan kesehatan.

 

Terdapat dua jenis hipertensi, yaitu hipertensi primer dan sekunder. Hipertensi primer (esensial) adalah tekanan darah tinggi yang bukan disebabkan oleh kondisi medis. Sementara itu, hipertensi sekunder adalah tekanan darah tinggi yang dipicu oleh kondisi medis yang mendasarinya. Berikut perbedaan hipertensi primer dan sekunder.

 

A. Penyebab Hipertensi Primer dan Sekunder

 

Perbedaan utama hipertensi primer dan sekunder terletak pada penyebabnya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, hipertensi primer tidak disebabkan oleh suatu kondisi medis tertentu, sedangkan hipertensi sekunder terjadi karena kondisi medis yang telah diderita sebelumnya.

 

Hipertensi primer adalah jenis tekanan darah tinggi yang paling umum. Kondisi ini kebanyakan dialami oleh orang berusia paruh baya, mulai dari usia 40 tahun. Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab hipertensi primer. Namun, beberapa faktor yang diyakini dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami hipertensi esensial adalah:

 

  • Faktor genetik, seperti memiliki keluarga dengan riwayat hipertensi. Faktor ini didukung dengan banyaknya kasus hipertensi yang dipengaruhi oleh banyak gen (polygenic hypertension).

  • Gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok, mengonsumsi alkohol secara berlebihan, jam tidur yang tidak teratur, sedentary lifestyle, serta stres. Itulah sebabnya, penderita kondisi ini utamanya disarankan untuk melakukan perubahan gaya hidup, seperti berolahraga dengan rutin, menjalankan diet DASH (dietary approaches to stop hypertension), mengonsumsi makanan penurun darah tinggi, mengelola stres, dan menghentikan kebiasaan merokok.

  • Obesitas, kondisi ini diketahui dapat meningkatkan risiko hipertensi hingga 2–6 kali lipat. Obesitas bisa terjadi akibat gaya hidup yang tidak sehat, seperti tidak mengontrol pola makan.

  • Kekurangan asupan kalium. Kalium berperan dalam menstabilkan kadar garam di dalam tubuh. Kekurangan kalium dapat menyebabkan kadar garam dalam tubuh menjadi tinggi sehingga risiko hipertensi pun meningkat.

 

Sementara itu, hipertensi sekunder adalah tekanan darah tinggi yang dipicu oleh kondisi medis yang mendasari. Hipertensi sekunder didapatkan pada sekitar 5% dari populasi hipertensi. Ada berbagai jenis penyakit yang dapat menyebabkan hipertensi, di antaranya sebagai berikut:

 

 

Selain dipicu masalah medis tertentu, hipertensi sekunder juga dapat disebabkan oleh penggunaan obat-obatan medis, seperti:

 

  • Kontrasepsi oral (pil KB).

  • Nonsteroidal anti-inflammatory agents (NSAIDs).

  • Steroid.

  • Pil diet.

  • Antidepresan.

  • Stimulan.

  • Imunosupresan.

  • Dekongestan. 

 

B. Gejala Hipertensi Primer dan Sekunder

 

Perbedaan hipertensi primer dan sekunder selanjutnya bisa dilihat dari gejalanya. Pada tahap awal, hipertensi primer tidak memiliki gejala. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah yang memengaruhi kesehatan. Jika sudah berada di tahap ini, gejala atau komplikasi yang biasanya muncul adalah:

 

 

Sementara itu, mengingat bahwa hipertensi sekunder disebabkan oleh berbagai masalah medis, maka gejalanya pun bervariasi tergantung dari penyebab yang mendasarinya. Contoh gejala hipertensi sekunder berdasarkan penyebabnya adalah sebagai berikut:

 

  • Pheochromocytoma: Berkeringat, detak jantung lebih cepat dan kuat, sakit kepala, dan kecemasan.

  • Sindrom Cushing: Penambahan berat badan, moon face, kelemahan, pertumbuhan rambut yang tidak normal, hilangnya periode menstruasi, dan timbulnya garis-garis ungu (striasi) pada kulit perut.

  • Penyakit tiroid: Kelelahan, penambahan atau penurunan berat badan, serta intoleransi terhadap panas atau dingin.

  • Sindrom Conn atau aldosteronisme primer: Kelemahan karena rendahnya kadar kalium dalam tubuh.

  • Obstructive sleep apnea: Kelelahan atau rasa kantuk yang berlebihan di siang hari karena kualitas tidur malam hari buruk, mendengkur, serta adanya jeda dalam bernapas saat tidur.

 

C. Penanganan Hipertensi Primer dan Sekunder

 

Pengobatan utama untuk penderita hipertensi sekunder adalah mengonsumsi obat-obatan berdasarkan penyebab yang mendasarinya, sedangkan penanganan hipertensi primer biasanya dilakukan dengan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat. Walaupun begitu, penderita hipertensi, baik primer maupun sekunder, dianjurkan untuk mengubah pola hidupnya agar lebih sehat serta rutin mengontrol tekanan darah.

 

Perlu dipahami bahwa informasi yang telah disebutkan di atas hanya untuk tujuan edukasi dan tidak dapat menggantikan diagnosis maupun saran perawatan dari dokter. Penyebab dan gejala yang dijelaskan pun tidak secara spesifik merepresentasikan hipertensi primer dan sekunder sehingga bisa saja terjadi pada kondisi medis lainnya.

 

Apabila mengalami gejala-gejala tidak biasa yang berkaitan dengan kondisi ini, seperti terdapat darah dalam urine, nyeri dada, atau merasa jantung berdetak lebih cepat dari biasanya, penting untuk memperoleh diagnosis yang akurat dengan mengunjungi Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Siloam Hospitals terdekat. Bersama Siloam Hospitals, Anda juga dapat memperoleh penanganan lebih lanjut sesuai dengan kondisi tubuh.

 

Penting untuk diingat bahwa tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.

 

Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur untuk mempermudah perjalanan kesehatan Anda.

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 2

Sumber

Cleveland Clinic. Secondary Hypertension. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Primary Hypertension (Formerly Known as Essential Hypertension). Diakses pada 2024 | StatPearls [Internet]. Essential Hypertension. Diakses pada 2024 | Healthline. Just the Essentials of Essential Hypertension. Diakses pada 2024 | Indonesian Society of Hypertension (InaSH). Update Konsensus 2019. Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-michael-s-kawilarang-spjp-k-fiha

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Michael Sebastian Kawilarang, SpJP, Subsp KI (K)

Kardiologi (Jantung)

Subspesialis Kardiologi Intervensi


Siloam Hospitals Surabaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-kadek-satrya-kurnia-suratna-spjp

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ronald-a-ulaan

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail