Kesehatan Tubuh
Disfungsi Otonom: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Disfungsi otonom adalah kerusakan sistem saraf otonom yang juga sering kali disebut sebagai disautonomia. Sistem saraf otonom bertugas untuk menjalankan fungsi tubuh, seperti tekanan darah, pernapasan, dan detak jantung. Mari simak pembahasan di bawah ini untuk memahami penyebab, gejala, diagnosis, dan pengobatan disfungsi otonom.
Apa itu Disfungsi Otonom?
Disfungsi otonom adalah gangguan sistem saraf otonom yang dapat mendeskripsikan beberapa gangguan lainnya dengan gejala bervariasi. Kondisi gangguan sistem saraf otonom ini dapat bersifat dari ringan hingga berat. Penderita disfungsi otonom akan mengalami disfungsi beberapa proses sistem saraf otonom yang menimbulkan sejumlah gejala.
Sistem saraf otonom adalah salah satu bagian dari sistem saraf tepi yang mengatur berbagai proses fisiologis yang tidak disadari, termasuk tekanan darah, denyut jantung, pernapasan, pencernaan, dan gairah seksual. Sistem ini terdiri dari sistem saraf simpatik, parasimpatis, dan enterik, yang merupakan tiga divisi anatomi yang berbeda.
Gangguan sistem saraf otonom dapat terjadi sendiri atau merupakan akibat dari penyakit lain, seperti penyakit Parkinson, alkoholisme, dan diabetes. Disfungsi otonom dapat terjadi pada seluruh atau sebagian sistem saraf otonom. Beberapa kondisi disfungsi otonom bersifat sementara, tetapi banyak kasus yang dapat memburuk seiring waktu. Ketika kondisi ini memengaruhi pernapasan atau fungsi jantung pasien, disfungsi otonom dapat bersifat mengancam jiwa.
Disfungsi otonom dapat berkembang kapan saja, namun utamanya terjadi di antara usia 50 dan 60 tahun. Mengingat kondisinya yang bervariasi, diagnosis disfungsi otonom menjadi sesuatu yang sulit dilakukan.
Penyebab Disfungsi Otonom
Faktor penyebab disfungsi otonom atau disautonomia dapat dibedakan berdasarkan tipenya, yaitu primer dan sekunder. Disfungsi otonom primer terjadi tanpa ada penyebab yang jelas, sedangkan disfungsi otonom sekunder bisa diakibatkan oleh kondisi medis lainnya. Berikut penjabarannya:
Disfungsi Otonom Primer
Disautonomia primer terjadi tanpa penyebab khusus dan biasanya diwariskan dari orang tua. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya disautonomia ini adalah berasal dari keturunan Yahudi (utamanya Yahudi Ashkenazi), Eropa Timur, atau memiliki anggota keluarga penderita disautonomia, seperti saudara kandung dan orang tua. Disfungsi otonom idiopatik juga termasuk dalam kategori kondisi ini karena faktor penyebabnya tidak bisa dideteksi.
Disfungsi Otonom Sekunder
Disautonomia atau disfungsi otonom sekunder bisa terjadi karena faktor-faktor tertentu dan adanya penyakit atau kondisi yang mendasari. Beberapa di antaranya adalah:
-
Cedera sumsum tulang belakang.
-
Sindrom nyeri regional kompleks (CRPS/complex regional pain syndrome), yaitu gangguan neurologis yang dapat menyebabkan rasa nyeri atau gejala lain pada ekstremitas.
-
Penyakit Lyme.
-
Hipotensi ortostatik, yaitu penurunan tekanan darah yang terjadi karena perubahan posisi, misalnya ketika berdiri dari posisi duduk atau berbaring.
-
Kekurangan vitamin B12.
-
Sinkop vasovagal, yaitu pingsan yang terjadi ketika tubuh merespons berlebihan terhadap suatu pemicu (triggers).
-
Sindrom Wernicke-Korsakoff yang disebabkan kekurangan tiamin (vitamin B1).
Gejala Disfungsi Otonom
Disfungsi otonom dapat menunjukkan sejumlah gejala yang memengaruhi fungsi sistem tubuh. Gejalanya bisa bervariasi tergantung dari bagian tubuh yang terdampak. Adapun beberapa gejala disfungsi otonom adalah sebagai berikut:
-
Mudah pingsan, terutama saat berdiri akibat kondisi tekanan darah yang rendah karena perubahan posisi (hipotensi ortostatik).
-
Migrain atau sering sakit kepala.
-
Denyut jantung cepat (takikardia) atau denyut jantung lambat (bradikardia).
-
Detak jantung tidak berubah saat beraktivitas fisik (intoleransi olahraga).
-
Perubahan suasana hati atau merasa cemas.
-
Kelelahan yang berkelanjutan.
-
Kesulitan menelan (disfagia).
-
Nyeri dada.
-
Sering buang air kecil (inkontinensia urine).
-
Sesak napas (dispnea).
-
Kulit pucat atau berkeringat.
-
Jantung berdebar-debar.
-
Kesulitan memusatkan perhatian.
-
Kesulitan tidur.
-
Disfungsi seksual.
-
Irama jantung tidak teratur (aritmia).
-
Sensitif terhadap suara atau cahaya.
-
Gula darah rendah (hipoglikemia).
-
Mata yang sangat kering atau berair.
-
Hidung berair.
-
Produksi air liur berlebihan.
-
Penglihatan kabur atau kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan cahaya.
Diagnosis Disfungsi Otonom
Disfungsi otonom dapat didiagnosis dengan kombinasi metode dan tes. Namun, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) terlebih dahulu untuk memastikan gejala yang dialami dan riwayat medis pasien.
Diagnosis disfungsi otonom melibatkan eliminasi faktor tertentu, menentukan bagaimana gejala yang dialami muncul, dan menemukan pola yang menghubungkannya. Beberapa pemeriksaan yang umumnya dilakukan untuk mendiagnosis disfungsi otonom adalah:
-
Pemeriksaan fisik dan neurologis.
-
Tilt table test (tes meja miring).
-
Tes jantung, utamanya elektrokardiogram.
-
Tes pengukuran pupil mata (pupilometri)
-
Tes keringat, seperti tes refleks akson sudomotorik kuantitatif.
-
Tes darah, utamanya tes antibodi yang dapat mendeteksi penyakit autoimun atau tes kadar neurotransmiter tertentu, seperti katekolamin.
-
Tes urine.
-
Ultrasonografi kandung kemih dan tes lainnya untuk gejala yang berkaitan dengan gangguan buang air kecil.
Pengobatan Disfungsi Otonom
Masih belum ada pengobatan untuk disfungsi otonom, namun beberapa gejala dari kondisi ini bisa diatasi. Pendekatan yang digunakan untuk menentukan mengobati kondisi ini sangat bergantung pada banyak faktor, terutama penyebabnya. Berikut di antaranya:
-
Perubahan diet atau pola makan, contohnya menambah asupan garam untuk meningkatkan tekanan darah.
-
Mencukupi kebutuhan cairan agar tubuh tetap terhidrasi untuk membantu menjaga tekanan darah.
-
Mengonsumsi obat-obatan untuk meningkatkan tekanan darah bagi yang mengalami gejala hipotensi ortostatik.
-
Memberikan obat-obatan untuk menangani gejala yang dialami penderita.
-
Mengonsumsi obat penekan kekebalan atau perawatan sistem kekebalan untuk mengobati penyakit autoimun.
Komplikasi Disfungsi Otonom
Disautonomia dapat memengaruhi proses vital tubuh sehingga bisa memunculkan banyak kemungkinan komplikasi. Sebagian besar komplikasi meliputi gejala disautonomia, terutama jika gejala bersifat berat dan dapat mengganggu aktivitas. Gejala dan komplikasi serius yang diakibatkan oleh disfungsi otonom umumnya meliputi:
-
Masalah detak jantung yang terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur.
-
Hipotensi ortostatik, terutama bila bergejala, dapat menyebabkan penderita terjatuh. Kondisi ini memiliki morbiditas terkait yang signifikan, terutama pada populasi lansia.
-
Gangguan pernapasan.
-
Gangguan pencernaan yang dapat menyebabkan sembelit, diare, atau masalah lainnya.
-
Gangguan fungsi ginjal yang dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, inkontinensia urine, dan lain-lain.
Seperti yang sudah dijelaskan, disfungsi otonom masih belum dapat diobati secara pasti. Metode pengobatannya hanya dapat mengatasi gejala-gejala yang dialami. Namun, tidak menutup kemungkinan gejala-gejala tersebut mengindikasikan kondisi disfungsi otonom. Agar mendapatkan evaluasi, diagnosis, dan penanganan yang tepat, Anda bisa mengonsultasikan kondisi tersebut ke Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat.
Dokter akan memastikan setiap pasien menjalani prosedur diagnosis dan penanganan yang sesuai dengan kondisi medisnya. Tahapan pemeriksaan dan pengobatan pun disesuaikan berdasarkan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing rumah sakit sehingga langkah-langkahnya bisa berbeda-beda.
Kini, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter secara mudah melalui aplikasi MySiloam. Aplikasi ini dapat membantu Anda mengetahui jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, dan mendapatkan hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh MySiloam dan manfaatkan berbagai fiturnya untuk memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Cleveland Clinic. Dysautonomia. Diakses pada 2024 | National Library of Medicine. Autonomic Dysfunction. Diakses pada 2024 | Healthline. Autonomic Dysfunction. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Brain Check Up Plus+ Package
Penawaran Spesial, Skrining Stroke
34 Service/Item
Rp12.500.000
Skrining Kesehatan Otak Basic
Skrining Pria & Wanita
14 Service/Item
Rp1.500.000
Skrining Kesehatan Otak Advanced
Skrining Pria & Wanita
16 Service/Item
Rp4.100.000
Skrining Kesehatan Otak
2 Service/Item
Rp3.000.000
TERPOPULER
Brain Check Up
Penawaran Spesial, Skrining Stroke
19 Service/Item
Rp9.000.000






