Kesehatan Mental
Katatonia - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Table of Contents
Katatonia adalah gangguan psikomotorik yang melibatkan fungsi mental dan gerakan. Pada kondisi katatonia, penderita tidak bisa bergerak atau berkomunikasi dengan baik, hingga dapat mengalami agitasi, kebingungan, dan kegelisahan.
Kondisi ini memerlukan penanganan sesegera mungkin karena berisiko menyebabkan masalah yang dapat mengancam nyawa. Mari simak pembahasan selengkapnya tentang katatonia melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Katatonia?
Katatonia adalah suatu kondisi yang dapat mengganggu fungsi kerja otak, sehingga cara seseorang dalam memproses dan bereaksi terhadap dunia di sekitarnya menjadi terganggu. Itulah sebabnya, orang dengan katatonia sering kali tidak memberikan reaksi sama sekali terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya, atau menunjukkan reaksi yang tidak biasa.
Katatonia umumnya ditandai dengan gangguan komunikasi, gerakan yang tidak biasa atau kurangnya gerakan, serta kelainan perilaku. Kondisi ini bisa berlangsung selama beberapa jam hingga berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun setelah episode awal dimulai.
Menurut penelitian yang ada, katatonia terjadi pada 0,5%–2,1% orang yang menerima perawatan psikiatri. Jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 10% bagi orang-orang dengan masalah kesehatan yang membutuhkan perawatan rawat inap.
Katatonia yang merupakan gejala dari kondisi tertentu atau yang penyebabnya teridentifikasi disebut dengan katatonia ekstrinsik. Sementara itu, jika tidak diketahui penyebabnya, kondisi tersebut dikenal sebagai katatonia intrinsik.
Jenis-Jenis Katatonia
Katatonia adalah suatu kondisi yang dapat mengganggu cara kerja bagian-bagian tertentu dari otak, sehingga menyebabkan seseorang berada dalam “kondisi katatonik.” Area otak yang terdampak biasanya yang berperan mengontrol gerakan, indra tubuh, memori, emosi, pengendalian diri, serta kognitif.
Katatonia juga terbagi menjadi 3 jenis, yaitu akinetic catatonia, excited catatonia, dan malignant catatonia. Berikut masing-masing penjelasannya.
-
Akinetic catatonia: Ini adalah jenis katatonia yang paling sering terjadi. Pada kondisi ini, seseorang sering menatap kosong dan tidak merespons saat diajak berbicara. Kalaupun merespons, penderita hanya akan mengulangi apa yang orang lain katakan. Terkadang, penderita juga duduk atau berbaring dalam posisi yang tidak biasa, bahkan tidak mau bergerak.
-
Excited catatonia: Pada kondisi ini, penderita mungkin mau bergerak, namun gerakannya tidak berarti atau bersifat impulsif. Penderita juga akan tampak gelisah, agresif, mengigau, dan sering meniru gerakan seseorang yang berusaha membantunya.
-
Malignant catatonia: Pada kondisi ini, penderita dapat mengalami kondisi medis lain, seperti perubahan tekanan darah, suhu tubuh, detak jantung, dan gangguan pernapasan. Bila berlangsung dalam waktu lama, jenis katatonik ini bisa menyebabkan dehidrasi, gangguan pembekuan darah, hingga gagal ginjal atau bahkan kematian.
Penyebab Katatonia
Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab katatonia. Namun, para ahli menduga bahwa kondisi ini dapat dipicu oleh beberapa faktor, mulai dari faktor genetik hingga ketidakseimbangan senyawa kimia di otak. Kondisi ini kerap terjadi pada gangguan mental lainnya, seperti:
Selain itu, beberapa kondisi neurologis juga sering dikaitkan sebagai faktor pemicu katatonia. Beberapa di antaranya termasuk:
-
Autism spectrum disorder.
-
Penyakit autoimun, seperti lupus dan multiple sclerosis.
-
Ketidakseimbangan elektrolit.
-
Normal-pressure hydrocephalus.
-
Paparan dan keracunan obat-obatan tertentu.
Gejala Katatonia
Berdasarkan American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-5), terdapat 12 kondisi yang dikategorikan secara resmi sebagai gejala katatonia. Berdasarkan hal tersebut, beberapa gejala katatonia adalah sebagai berikut:
-
Agitiation (agitasi): Perasaan kesal dan mudah tersinggung. Reaksi ini dianggap sebagai katatonia bila bukan merupakan respons terhadap sesuatu yang terjadi di sekitarnya.
-
Catalepsy: Mempertahankan posisi tubuh dalam jangka waktu yang cukup lama. Posisi ini biasanya bisa diatur oleh orang lain.
-
Echolalia: Menggemakan suara yang dibuat oleh orang lain.
-
Echopraxia: Meniru atau merefleksikan gerakan orang lain.
-
Grimacing: Tersenyum dalam konteks yang tidak tepat atau menahan ekspresi wajah yang sama, biasanya disertai otot-otot wajah yang kaku dan tegang.
-
Mannerism: Melakukan gerakan yang normal, namun dilakukan secara berlebihan.
-
Mutism: Menjadi sangat pendiam tanpa sebab yang jelas.
-
Negativism: Tidak bereaksi terhadap sesuatu yang terjadi di sekitarnya tanpa alasan yang rasional.
-
Posturing: Mempertahankan posisi tertentu yang terlihat tidak nyaman. Namun, pembentukan posisi ini tidak melibatkan orang lain.
-
Stupor: Penderita dalam keadaan terjaga, namun tidak merespons apa yang terjadi di sekitarnya. Misalnya, tidak merespons rangsangan menyakitkan ketika seseorang mencubitnya.
-
Waxy flexibility: Penderita melakukan perlawanan terhadap upaya orang lain yang berusaha mengubah posisi tubuhnya. Namun, beberapa saat kemudian, otot-otot penderita perlahan menjadi lemas,tubuh menjadi lentur, dan dapat menerima perubahan.
Pada orang dengan malignant catatonia (katatonia ganas), gejala yang muncul bisa berupa disautonomia atau kondisi ketika sistem saraf otonom tidak bekerja sebagaimana mestinya. Kondisi ini dapat memunculkan gejala berupa:
-
Suhu tubuh yang sangat tinggi dan demam (hipertermia).
-
Denyut jantung cepat (takikardia).
-
Tekanan darah tidak stabil.
-
Berkeringat.
-
Sianosis (perubahan warna kulit di sekitar bibir dan kuku menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen).
Malignant catatonia dapat mengganggu cara otak dalam menjalankan proses otomatis tubuh, sehingga berisiko menyebabkan kematian. Inilah sebabnya, katatonia ganas memerlukan perawatan medis secepat mungkin.
Diagnosis Katatonia
Proses penegakan diagnosis katatonia biasanya menggunakan kombinasi metode yang dapat dimulai dengan pemeriksaan neurologis. Dalam pemeriksaan ini, dokter akan melihat reaksi, refleks, serta cara pasien merespons sesuatu di sekitarnya. Kemudian, dokter juga akan melakukan penilaian standar kepada pasien dengan menggunakan “Bush Francis Catatonia Rating Scale” untuk menilai ada atau tidaknya katatonia beserta tingkat keparahannya.
Sebenarnya, katatonia tidak selalu berkaitan dengan gangguan mental atau gangguan suasana hati, sehingga dokter perlu mengidentifikasi penyebabnya. Pemeriksaan ini dilakukan dengan bantuan serangkaian tes penunjang, seperti:
-
Tes darah, tes urine, dan tes cairan serebrospinal (spinal tap).
-
Tes aktivitas listrik pada otak menggunakan electroencephalogram (EEG).
Cara Mengatasi Katatonia
Guna mengatasi katatonia, dokter biasanya memberikan sejenis obat penenang golongan benzodiazepin, seperti lorazepam. Jenis obat tersebut juga kerap digunakan untuk meredakan kecemasan. Sekitar 60–80% penderita katatonia merespons dengan terapi lorazepam saja, sementara pasien lain mungkin memerlukan obat tambahan.
Adapun pilihan pengobatan lain untuk katatonia adalah terapi elektrokonvulsif (electroconvulsive therapy/ECT). Terapi ini dilakukan dengan mengirimkan impuls ke otak pasien melalui elektroda yang diletakkan di kepalanya. Sebelum terapi dilakukan, dokter akan memberikan anestesi atau bius terlebih dahulu.
Terapi elektrokonvulsif biasanya direkomendasikan apabila:
-
Obat penenang seperti lorazepam tidak efektif dalam memperbaiki gejala katatonia dalam kurun waktu kurang lebih satu minggu.
-
Malignant catatonia.
-
Katatonia yang diderita sangat parah.
-
Pasien sudah pernah mengalami katatonia sebelumnya.
-
Memerlukan tindakan cepat untuk menyelamatkan nyawa pasien.
Komplikasi Katatonia
Katatonia adalah suatu kondisi yang perlu segera mendapatkan penanganan. Pasalnya, apabila katatonia tidak ditatalaksana dengan baik, gangguan psikomotorik ini dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi, di antaranya adalah sebagai berikut:
-
Kemungkinan terlibat dalam kekerasan atau terlibat dalam trauma akibat gejala katatonia fase bersemangat.
-
Menimbulkan ketidakstabilan otonom, yaitu gangguan fungsi sistem saraf tubuh.
-
Menolak untuk makan.
-
Dehidrasi.
-
Sindrom neuroleptik maligna.
-
Risiko deep vein thrombosis (DVT) dan emboli paru.
-
Ulkus dekubitus, yaitu luka akibat tekanan pada kulit karena posisi tubuh tidak berubah dalam waktu yang lama.
-
Terjadinya kontraksi otot.
Seperti yang sudah dijelaskan, katatonia adalah suatu kondisi yang sebaiknya segera ditangani. Karena itu, bila Anda atau kerabat mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada kondisi katatonia, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Psikiatri di Siloam Hospitals terdekat.
Bagaimana bila tidak sempat pergi ke rumah sakit? Tenang, Anda tetap bisa berkonsultasi dengan dokter melalui layanan Telekonsultasi yang tersedia di aplikasi MySiloam. Aplikasi ini juga memungkinkan Anda menggunakan berbagai fitur lain yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
MENTAL - Skrining Mental health (MMPI)
Lainnya
2 Service/Item
Rp880.000
TERPOPULER
Paket Siloam Ruby
Skrining Umum
21 Service/Item
Rp1.000.000
TERPOPULER
Paket Siloam Silver
Skrining Umum
22 Service/Item
Rp1.900.000
TERPOPULER
Paket Siloam Pearl
Skrining Umum
31 Service/Item
Rp4.300.000
TERPOPULER
Paket Siloam Platinum
Skrining Umum
43 Service/Item
Rp14.000.000







