Nokturia, Penyebab Sering Buang Air Kecil di Malam Hari
Kesehatan Tubuh

Nokturia, Penyebab Sering Buang Air Kecil di Malam Hari

23 September 2025 5 menit waktu baca
nokturia adalah

 

Nokturia adalah kondisi ketika seseorang sering buang air kecil di malam hari. Kondisi ini dapat membuat seseorang sering terbangun sehingga bisa memengaruhi kualitas tidur. Nokturia biasanya merupakan gejala dari suatu kondisi medis tertentu. Mari pahami lebih lanjut mengenai apa itu nokturia melalui artikel berikut ini.

 

Apa Itu Nokturia?

 

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, nokturia adalah suatu kondisi yang menyebabkan seseorang sering terbangun lebih dari satu kali di malam hari untuk buang air kecil. Nokturia umum terjadi dan dapat menjadi lebih parah seiring bertambahnya usia. Diketahui lebih dari 50% pria dan wanita berusia di atas 60 tahun mengalami nokturia.

 

Penyebab Nokturia

 

Nokturia bisa disebabkan oleh kebiasaan sehari-hari, seperti terlalu banyak minum air sebelum tidur, atau mengonsumsi minuman berkafein, seperti kopi dan teh, maupun minuman beralkohol menjelang tidur. Kondisi ini juga kerap dialami oleh seseorang yang sedang mengonsumsi obat diuretik, seperti furosemide dan thiazide, terutama apabila diminum pada malam hari.

 

Di samping itu, beberapa kondisi medis yang dapat membuat seseorang mengalami nokturia adalah sebagai berikut:

 

 

Gejala Nokturia

 

Biasanya, seseorang dapat tidur selama 6–8 jam di malam hari tanpa harus bangun untuk ke kamar mandi. Namun, penderita nokturia akan terbangun lebih dari sekali dalam semalam untuk buang air kecil. Hal ini dapat menyebabkan gangguan pada siklus tidur normal dan membuat penderita merasa kelelahan serta kekurangan energi di siang hari. 

 

Gejala utama nokturia adalah lebih sering buang air kecil di malam hari, setidaknya 2 kali, bahkan hingga membuat penderitanya terbangun dari tidur. Selain itu, beberapa gejala yang kerap dialami oleh penderita nokturia adalah sebagai berikut:

 

  • Volume urine saat buang air kecil cenderung lebih banyak dibandingkan biasanya.

  • Kelelahan dan mengantuk di siang hari akibat terganggunya kualitas tidur.

  • Mengalami gejala beragam lainnya, tergantung pada penyebab yang mendasarinya.

 

Diagnosis Nokturia

 

Dalam menegakkan diagnosis nokturia, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait keluhan dan riwayat kesehatan pasien terlebih dahulu. Selain itu, pasien juga akan diarahkan oleh dokter untuk mencatat beberapa hal yang berkaitan dengan keluhannya, seperti:

 

  • Kapan pertama kali nokturia terjadi?

  • Berapa kali penderita terbangun dari tidur di malam hari untuk buang air kecil?

  • Jumlah atau volume urine yang keluar saat buang air kecil. Apakah jumlah urine lebih sedikit dari sebelumnya?

  • Apakah penderita tidak mampu menahan berkemih atau mengompol?

  • Apakah penderita mengalami penurunan kualitas tidur?

  • Berapa banyak air minum yang dikonsumsi dalam sehari, termasuk minuman beralkohol dan berkafein?

  • Apakah terdapat keluhan atau gejala lain?

  • Obat apa saja yang sekarang sedang dikonsumsi?

  • Apakah ada riwayat penyakit dan riwayat penyakit keluarga sebelumnya?

 

Lalu, beberapa prosedur pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan dokter untuk membantu menegakkan diagnosis nokturia adalah sebagai berikut:

 

 

Cara Mengatasi Nokturia

 

Untuk menangani nokturia, dokter dapat melakukan prosedur pengobatan yang berbeda pada setiap pasien, tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Namun, dokter dapat membantu meredakan gejala nokturia dengan meresepkan obat-obatan tertentu, seperti:

 

  • Antikolinergik untuk menangani nokturia yang disebabkan oleh overactive bladder.

  • Desmopressin untuk mengurangi produksi urine.

  • Alpha blocker.

  • Beta-3 adrenoceptor agonist untuk merelaksasi otot kandung kemih dan meredakan gejala overactive bladder.

 

Di samping itu, dokter juga dapat menyarankan pasien untuk mengubah gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari guna membantu menangani nokturia. Adapun sejumlah gaya hidup yang perlu diterapkan dalam mengatasi nokturia adalah:

 

  • Membatasi minum air, termasuk minuman berkafein maupun beralkohol sebelum tidur.

  • Membatasi asupan garam harian.

  • Mengonsumsi obat diuretik pada pagi hari atau maksimal 6 jam sebelum tidur.

  • Membatasi konsumsi makanan yang bisa mengiritasi kandung kemih, seperti makanan terlalu pedas atau asam.

  • Memosisikan kaki sedikit lebih tinggi dari dada saat tidur, terutama jika menderita gagal jantung atau edema.

  • Menggunakan kaos kaki kompresi apabila menderita edema untuk membantu melancarkan aliran darah.

  • Rutin berolahraga, tetapi jangan dilakukan saat mendekati waktu tidur.

  • Melatih kekuatan otot dasar panggul dengan rutin melakukan senam kegel.

 

Perlu diketahui bahwa nokturia juga bisa menjadi gejala dari kondisi yang lebih serius, seperti diabetes dan infeksi saluran kemih (ISK). Oleh karena itu, lebih baik segera berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya.

 

Komplikasi Nokturia

 

Nokturia yang tidak segera ditangani dengan tepat dapat memengaruhi kualitas tidur penderitanya. Pasalnya, hal ini bisa membuat seseorang lebih sering terbangun saat tidur di malam hari. Akibat kualitas tidur yang buruk, penderita bisa mengalami beberapa kondisi berikut ini:

 

  • Menurunnya produktivitas saat melakukan aktivitas sehari-hari.

  • Gangguan dalam kehidupan sosial karena cemas atau depresi.

  • Kenaikan berat berat badan.

  • Daya tahan tubuh menurun sehingga rentan terserang infeksi.

  • Kurang waspada.

  • Mudah lupa.

 

Pencegahan Nokturia

 

Nokturia adalah kondisi yang cenderung sulit dicegah. Kendati demikian, terdapat berbagai upaya untuk meminimalkan risiko terjadinya nokturia. Adapun sejumlah cara untuk menurunkan risiko terjadinya nokturia adalah sebagai berikut:

 

  • Rutin berolahraga.

  • Menjaga kebersihan organ reproduksi untuk menghindari risiko terjadinya infeksi saluran kemih.

  • Tidak banyak minum menjelang waktu tidur atau setelah buang air kecil di malam hari.

  • Menurunkan berat badan apabila mengalami overweight atau obesitas.

  • Melakukan olahraga untuk melatih kekuatan otot panggul, seperti senam kegel, terutama jika baru melahirkan atau sudah memasuki usia lanjut.

  • Mengatur jadwal tidur serta bangun tidur yang teratur.

  • Mengatur kamar tidur agar dalam kondisi tenang dan minim cahaya.

  • Menjalani pemeriksaan dan pengobatan sesuai dengan jadwal apabila menderita kondisi medis tertentu.

 

Penting untuk diketahui bahwa informasi di atas bertujuan untuk edukasi dan tidak dapat menggantikan diagnosis resmi serta saran perawatan dari tenaga medis profesional. Sejumlah gejala yang disebutkan pada artikel ini pun tidak secara spesifik mewakili kondisi nokturia, mengingat gejala-gejala tersebut juga dapat mengindikasi kondisi medis lainnya.

 

Oleh karena itu, apabila Anda mengalami peningkatan frekuensi buang air kecil di malam hari hingga mengganggu waktu tidur, sebaiknya segera kunjungi Dokter Spesialis Urologi di Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh diagnosis yang akurat.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan tindakan medis yang dijalani terkait kondisi ini akan disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan sehingga bisa saja berbeda di setiap rumah sakit. Tenaga medis profesional akan memastikan seluruh tahapan pemeriksaan dan pengobatan telah sesuai dengan kondisi medis pasien.


Gunakan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam dan nikmati berbagai fitur yang mempermudah perjalanan kesehatan Anda.

 

Aplikasi My Siloam

message

ArticleDetail