Obat Antiaritmia, Bantu Detak Jantung Kembali Normal
Kesehatan Tubuh

Obat Antiaritmia, Bantu Detak Jantung Kembali Normal

05 Juni 2025 7 menit waktu baca
efek samping obat antiaritmia

 

Obat antiaritmia adalah jenis obat yang digunakan untuk membantu mengatasi berbagai gejala gangguan irama jantung (aritmia). Penggunaan obat antiaritmia biasanya ditujukan untuk pengobatan jangka panjang. Lantas, apakah ada risiko efek samping obat antiaritmia yang perlu diperhatikan? Untuk mengetahui selengkapnya, simak pembahasan berikut ini.

 

Apa Itu Obat Antiaritmia?

 

Obat antiaritmia adalah obat-obatan yang dikonsumsi untuk mencegah dan mengobati aritmia. Pada dasarnya, aritmia berkaitan dengan masalah sistem konduksi listrik jantung. Penderita aritmia mungkin merasakan detak jantung yang terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Penggunaan obat antiaritmia ditujukan untuk membantu detak jantung kembali menjadi normal.

 

Secara umum, obat antiaritmia efektif sebagai pengobatan aritmia. Namun, jenis dan dosis obat yang digunakan pada setiap pasien bisa memberikan efek dan memiliki tingkat toleransi yang berbeda-beda. Penggunaan obat antiaritmia biasanya dapat meringankan gejala aritmia, seperti nyeri dada, pusing, jantung berdebar-debar, sesak napas, dan lain-lain.

 

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, obat antiaritmia biasanya dikonsumsi dalam jangka panjang. Penderita aritmia direkomendasikan untuk mengonsumsi obat antiaritmia hingga obat tidak lagi efektif atau tidak lagi mampu menoleransi efek sampingnya. Jika ingin berhenti mengonsumsi obat antiaritmia, sebaiknya konsultasikan dahulu dengan dokter terkait.

 

Cara Kerja Obat Antiaritmia

 

Secara garis besar, obat antiaritmia bertujuan untuk mengatur ulang irama atau detak jantung agar kembali menjadi normal atau mencegah terjadinya aritmia. Obat ini bekerja pada berbagai saluran listrik jantung. Berikut adalah dua cara kerja obat antiaritmia:

 

  • Menghentikan impuls listrik berlebih yang tidak teratur.

  • Mencegah impuls listrik yang tidak normal dan cepat menjalar di sepanjang jaringan jantung.

 

Perlu dicatat bahwa obat antiaritmia terbagi menjadi beberapa kelas dan setiap kelas memiliki cara kerja yang berbeda, tergantung pada jenis aritmia yang diobati serta penyebabnya. Sebagian besar obat ini dikonsumsi secara oral dalam jangka panjang, sedangkan beberapa di antaranya diberikan melalui intravena (IV). 

 

Golongan Obat Antiaritmia

 

Obat antiaritmia dikategorikan berdasarkan sistem klasifikasi Vaughan-Williams (VW). Kategorisasi obat ini dilakukan sesuai dengan mekanisme kerja utamanya. Berikut adalah kategori utama obat antiaritmia:

 

  • Kelas 0 (HCN Channel Blockers)

    • Ivabradine untuk menangani angina stabil dan gagal jantung kronis dengan denyut jantung ≥ 70 bpm.

  • Kelas I (Sodium Channel Blocker)

    • Kelas IA: Menyebabkan penyumbatan sedang pada saluran natrium cepat. Beberapa obatnya termasuk disopyramide, quinidine, dan procainamide. Ditujukan untuk mengatasi fibrilasi ventrikel, fibrilasi atrium, ventrikel takikardi, takiaritmia supraventrikular, sindrom Brugada, dan sindrom QT pendek.

    • Kelas IB: Menyebabkan penyumbatan pada saluran natrium tingkat ringan. Obatnya termasuk lidocaine dan mexiletine. Ditujukan untuk menangani takikardi ventrikel dan fibrilasi ventrikel, utamanya setelah terjadi infark miokard.

    • Kelas IC: Menyebabkan penyumbatan natrium yang nyata dan tidak berpengaruh pada interval QT. Beberapa obatnya termasuk encainide, flecainide, dan propafenone. Ditujukan untuk menangani kondisi jantung, seperti takiaritmia supraventrikular dan ventrikel yang tidak bereaksi terhadap pengobatan standar tanpa indikasi penyakit jantung struktural, kontraksi ventrikel prematur, maupun ventrikel takikardi polimorfik katekolaminergik.

    • Kelas ID: Mengurangi arus Na+ akhir (INaL). Contohnya adalah ranolazine yang mengobati takiaritmia dan ventrikel takikardi.

  • Kelas II (Autonomic Inhibitors/Activators)

    • Kelas IIA: Inhibitor, seperti pindolol, carvedilol, timolol, dan nadolol (β-Blocker non-selektif). Beberapa contohnya adalah atenolol, bisoprolol, esmolol, dan metoprolol. Tujuannya untuk mengontrol laju fibrilasi atrium, atrial flutter, dan ventrikel takikardi.

    • Kelas IIB: Aktivator, misalnya isoproterenol. Penggunaannya ditujukan untuk mengatur ritme pelepasan ventrikel dengan cara memblokir AV lengkap sebelum implantasi alat pacu jantung.

    • Kelas IIC: Inhibitor, misalnya atropine. Penggunaannya ditujukan untuk mengatasi bradikardi sinus simptomatik dan memblokir konduksi.

    • Kelas IID: Aktivator, misalnya digoxine, carbachol, dann metakaolin. Tujuan penggunaannya adalah untuk menangani takiaritmia supraventrikular.

    • Kelas IIE: Aktivator, misalnya adenosine. Penggunaannya ditujukan untuk menghentikan takikardia supraventrikular paroksismal.

  • Kelas III (K+ Channel Blockers/Openers)

    • Kelas IIIA (Saluran K+ yang Bergantung pada Tegangan)

      • Inhibitor saluran K+ (nonselektif), misalnya amiodarone dan dronedarone. Penggunaannya ditujukan untuk mengatasi fibrilasi atrium, ventrikel takikardi tidak stabil, dan fibrilasi ventrikel berulang yang dapat mengancam jiwa.

      • Inhibitor Kv11.1 (arus K+ cepat), misalnya almokalant, dofetilide, ibutilide, sematilide, sotalol. Ditujukan untuk menangani kondisi ventrikel takikardi pada pasien yang tidak memiliki riwayat infark miokard atau penyakit jantung struktural.

      • Inhibitor Kv1.5 (arus K+ ultra-cepat), misalnya vernakalant. Diberikan untuk menangani fibrilasi atrium pada pasien tanpa riwayat penyakit jantung struktural atau penyakit jantung iskemik. Perlu dicatat bahwa penggunaan obat ini tidak disetujui FDA.

    • Kelas IIIB: Inhibitor saluran K+ yang bergantung pada metabolisme, misalnya nicorandil dan pinacidil. Penggunaannya ditujukan untuk menangani kondisi seperti angina stabil dan interval QT yang diperpendek. 

  • Kelas IV (Ca2+ Handling Modulators)

    • Kelas IVA

      • Inhibitor saluran Ca2+ nonselektif membran permukaan. Beberapa contohnya adalah bepridil dan falipamil. Penggunaannya ditujukan untuk menangani risiko takiaritmia supraventrikular.

      • Inhibitor saluran Ca2+ tipe-L membran permukaan. Beberapa contohnya seperti verapamil dan diltiazem. Tujuannya adalah untuk mengobati aritmia supraventrikular dengan mengontrol laju fibrilasi atrium.

    • Kelas IVB:

      • Inhibitor saluran Ca2+ intraseluler. Beberapa contohnya adalah propafenon dan flecainide. Tujuan penggunaannya adalah untuk menangani ventrikel takikardi polimorfik katekolaminergik.

  • Kelas V (Mechanosensitive Channel Blockers)

    • Inhibitor, N-(p-amylcinnamoyl) anthranilic acid. Penggunaannya masih dalam penelitian dan tidak disetujui oleh FDA.

  • Kelas VI (Gap Junction Channel Blockers)

    • Inhibitor, karbenoksolon. Penggunaannya sedang diteliti dan tidak disetujui oleh FDA.

  • Kelas VII (Upstream Target Modulators)

    • Asam lemak omega-3, seperti eicosapentaenoic acid dan docosahexaenoic acid. Tujuannya adalah untuk mengurangi risiko kematian jantung pascamiokard.

    • Statin yang dapat digunakan pada kondisi fibrilasi atrium.

    • ACE inhibitor, seperti enalapril, captopril, ramipril, dan lisinopril. Penggunaannya ditujukan untuk menangani fibrilasi atrium akibat gagal jantung.

 

Selain obat-obatan yang termasuk dalam kelompok atau klasifikasi di atas, berikut jenis obat lainnya yang bekerja untuk mengatasi aritmia:

 

  • Adenosine: Obat yang berfungsi untuk memblokir atau memperlambat impuls listrik pada simpul atrioventrikular, yaitu antara ruang atas (atrium) dan ruang bawah (ventrikel) jantung.

  • Digoxin: Obat untuk memperlambat denyut jantung dan meningkatkan kontraktilitas jantung.

 

Risiko Efek Samping Obat Antiaritmia

 

Penggunaan obat antiaritmia perlu diperhatikan karena memiliki risiko efek samping. Sebagian besar obat antiaritmia dapat menyebabkan proaritmia, yaitu kondisi ketika obat untuk mengobati irama jantung justru memicu gangguan irama jantung baru. Berikut beberapa risiko efek samping dari obat antiaritmia yang perlu diperhatikan:

 

  • Sodium channel blocker dapat memperpanjang interval QTc dan meningkatkan risiko ventrikel takikardi.

  • Procainamide dapat berisiko menyebabkan lupus eritematosus.

  • Quinine dapat menyebabkan mual, pusing, sakit kepala, tinnitus, dan gangguan penglihatan.

  • Disopyramide memiliki efek antikolinergik yang dapat menyebabkan sejumlah efek samping, seperti haus, hipertermia, midriasis, agitasi, retensi urine, serta kulit kemerahan dan kering.

  • Beta blocker dapat menyebabkan bradikardia dan atrioventricular block. Di samping itu, obat ini juga bisa menimbulkan efek samping lainnya, seperti tubuh lesu, penyakit paru obstruktif kronis, dislipidemia, dan eksaserbasi asma.

  • Dronedarone tidak boleh dikonsumsi oleh penderita gagal jantung berat atau atrial fibrilasi permanen karena bisa berisiko fatal.

  • Amiodarone memiliki efek samping beragam, beberapa di antaranya adalah hipotiroid, hipertiroid, fibrosis paru, dan miopati.

  • Calcium channel blocker, seperti verapamil dan diltiazem, memiliki reaksi efek samping yang cukup umum, yaitu edema perifer.

 

Kondisi yang Dapat Terjadi Akibat Reaksi Obat Antiaritmia 

 

Seperti yang disebutkan sebelumnya, obat antiaritmia berpotensi menyebabkan proaritmia yaitu kondisi aritmia yang semakin buruk atau aritmia baru yang disebabkan oleh terapi pengobatan. Berikut adalah beberapa kondisi yang dapat terjadi setelah menggunakan obat antiaritmia:

 

  • Bradiaritmia: Kondisi yang ditandai dengan irama jantung lebih lambat daripada irama jantung normal. Dapat terjadi karena adanya penekanan otomatisitas simpul sinoatrial atau kemampuan konduksi melalui simpul atrioventrikular (AV) dan sistem His-Purkinje.

  • Takikardia ventrikel monomorfik berkelanjutan: Sejenis aritmia yang terjadi ketika sistem listrik dalam jantung mengalami malfungsi sehingga irama jantung lebih cepat. Kondisi ini dapat terjadi akibat komplikasi dari semua jenis obat antiaritmia.

  • Torsade de pointes (TdP): Jenis takikardia yang terjadi pada ventrikel jantung dan membuat irama jantung tidak selaras dengan atrium. 

  • Fibrilasi ventrikel: Aritmia yang terjadi akibat ventrikel tidak berdenyut dengan optimal. Obat antiaritmia kelas IA dan kelas IC dapat memicu terjadinya fibrilasi ventrikel yang berpotensi fatal, yaitu kematian jantung mendadak (sudden cardiac death).

 

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan

 

Obat antiaritmia bisa berinteraksi dengan obat lainnya sehingga diperlukan perhatian khusus. Pasien perlu memberitahu dokter tentang semua obat-obatan yang digunakan, di antaranya yaitu:

 

  • Inhaler.

  • Krim atau salep.

  • Obat lain yang diresepkan dokter, seperti antibiotik golongan macrolide. Beberapa di antaranya adalah azithromycin, clarithromycin, dan erythromycin.

  • Obat-obatan yang dijual secara bebas.

  • Vitamin, jamu, mineral, suplemen, atau produk herbal.

 

Penggunaan obat antiaritmia bersamaan dengan obat-obatan lainnya perlu dikonsultasikan dengan dokter kardiologi. Hal ini utamanya perlu didiskusikan apabila seseorang mengonsumsi atau menggunakan obat-obatan untuk kondisi medis kronis, sedang hamil, atau berencana hamil. 

 

Sejumlah efek samping obat antiaritmia perlu menjadi perhatian khusus karena dapat berpotensi fatal. Akan tetapi, tidak semua orang merasakan efek samping yang sama. Untuk memastikan kebutuhan pengobatan aritmia yang tepat, Anda bisa berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Siloam Hospitals terdekat.

 

Dokter akan memeriksa dan memberikan perawatan yang sesuai dengan kondisi medis spesifik pasien. Adapun prosedur diagnosis dan perawatan yang diberikan akan disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas di masing-masing rumah sakit sehingga bisa berbeda-beda di satu rumah sakit dan lainnya.

 

Untuk menjaga kesehatan jantung, Anda bisa memesan paket Skrining Kesehatan Jantung di aplikasi MySiloam. Selain itu, Anda juga bisa menggunakan fitur-fitur yang tersedia untuk mengecek jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, dan mendapatkan hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh MySiloam sekarang dan manfaatkan berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Cardiovascular Prevention and Pharmacotherapy. Adverse Reactions to Antiarrhythmic Drugs. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. What are Antiarrhythmics?. Diakses pada 2024 | National Library of Medicine. Antiarrhythmic Medications. Diakses pada 2024 | American Heart Association Journals. Modernized Classification of Cardiac Antiarrhythmic Drugs. Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-kadek-satrya-kurnia-suratna-spjp

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ronald-a-ulaan

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-magma-purnawan-putra-spjp

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Magma Purnawan Putra, SpJP (K), FIHA, FESC

Kardiologi (Jantung)

Subspesialis Kardiologi Intervensi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail